Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Wednesday, August 23, 2006
~Merdeka Edan-edanan~
(Versi Sarkastis)

Bertanah air satu, tanah air Indonesia!
Berbangsa satu, bangsa Indonesia!
Berbahasa satu, bahasa Indonesia!

Begitu isi sumpah pemuda-pemuda Indonesia pada tahun 1945. Kalau sekarang banyak yang berbahasa setengah Indonesia, mungkin hanya karena sudah agak lupa pada sumpah tersebut. Secara so what gitu lho! Ikut-ikutan merayakan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2006 ini, diperumahan tempat gue tinggal diadakan macem-macem lomba lengkap dengan hadiah-hadiah. Dan bokap gue yang jelas-jelas angkatan perjoeangan itu, bertekad untuk memenangkan pertandingan gaplek tingkat perumahan itu. Gue tanya kenapa gak tanding catur aja, dia jawab santai "gak pengen mikir berat-berat," dan nyokap gue nyelutuk bahwa kekalahan bokap waktu main catur ngelawan kakak gue di Los Angeles beberapa tahun lalu, rupanya meninggalkan trauma yang dalam, hahaha.

Gue yang memang sejak dulu, jiwa patriotiknya rada tipis --maklum angkatan inex dan sex bebas-- sama sekali gak ditawarin untuk ikutan lomba apapun. Jadi ya disinilah gue, mengetik seenak jidat saat yang lain lagi semangat mengibarkan bendera merah putih. Gue yakin para pejuang dulu akan tersenyum bahagia ngeliat anak-cucu mereka hanya perlu menancapkan bambu sebagai tiang bendera dihalaman rumah. Gak perlu ditenteng-tenteng, apalagi dirucingkan. Cuma jadi tiang bendera thok! Berkibarlah benderaaaaku....merah putih gagah perwira.....

Sudah 61 tahun Indonesia merdeka, anehnya tampang-tampang penuh teror masih sering gue liat seliweran di jalan-jalan. Kalau dari gerutuan mereka, gue bisa pastikan teror jaman sekarang adalah berupa kenaikan BBM, tarif listrik, makanan pokok dan berjuta-juta jenis barang lainnya yang kompak banget meneror seluruh negri. Dan gue sebagai seorang tukang teror kecil-kecilan kadang emang bersikap dilematis tentang hal ini. BBM gak naik, negara bangkrut karena kenaikan harga minyak dunia. BBM naik, semua orang jadi berwajah teroris, eh terteror maksud gue. Hmmm....teroris dan yang terteror sepertinya kok bisa jadi orang yang sama ya?

Contohnya ya gue ini, peneror yang terkadang dapat perlakuan anarkis juga. Sebagai teroris, gue meneror Si Tenyong --ikan piaraan-- dengan membawa rumah kacanya ke atas meja makan. Dengan tampang disadis-sadisin, gue tunjuk seekor ikang malang berwarna kecoklatan yang tergolek diatas piring sambil ngomong ama Tenyong "tuh, kalo lu macem-macem gue jadiin ikan goreng kaya gitu, mau lu?!" Dan Tenyong pun akan segera berenang panik dengan wajah penuh teror. Hahahaha, gue ngakak dengan puas. Tapi hukum karma rupanya berlaku dirumah ini. Gak lama datanglah nyokap dengan wajah sumringah sambil membawa piring dan meletakkannya tepat dibawah hidung gue. Disana, teronggok makhluk bercapit, berbadang melengkung bantet, dengan warna mateng kemerahan yang matanya (gue yakin) lagi mendelik ama gue.

Lobster! Raja udang, artinya adalah wajah terjelek diseantero lautan. Jedhang!!! gue hampir aja jatuh dari kursi makan. Dengan tampang pucet, gue buru-buru lompat dari kursi sambil ngomong dengan gagap "Eeee....gu..gue...nan...nanti aja ma..ma..kannya." Gue gak doyan makan segala jenis makhluk bongkok itu, paling gue tarik-tarikin sungutnya doang. Tapi kalo lobster, ngeliat tampangnya aja udah bikin gue ngerasa terintimidasi. Jadi sambil terbirit-birit lari kekamar gue mikir, gue adalah teroris yang terteror. Dan kayanya sambil berenang, Si Tenyong ngakak puas banget!

Jaman sekarang, bukan rumah namanya kalo gak pake teralis besi. Padahal notabene rumah gue terletak didalam cluster dan dijaga 24 jam oleh Pasukan Pengamanan Dalam yang serius banget dalam menjalankan tugas (saking seriusnya, gue sampe risih sendiri kalo pulang subuh dibukain pintu gerbang oleh para PPD yang --mungkin-- diajarin cara bermimik sangar dan curigaan itu) Tapi liat aja rumah gue dari lantai bawah sampai atas berteralis besi motif bunga-bunga. Begitu juga dengan hampir semua rumah-rumah di Indonesia. Di jaman perjuangan sampai merdeka begini kok sama-sama gak ada rasa aman? Dan tayangan-tayangan kriminalitas di televisi, semacam "Patroli; Bang Napi; Jejak Kasus" ikut-ikutan meneror mental pemirsa Indonesia. Kita jadi percaya, cenderung paranoid, bahwa segerombolan kriminal sedang mengintai di dekat rumah.

Jadi yah mau bilang apa, kita bawa santai aja, Jack. Merdeka sampe beratus-ratus tahun pun, urusan teror-meneror kayanya bakalan terus berlanjut. Kalau begitu, marilah kira jadi teroris. Karena seperti kata orang bijak (sebenernya kata gue sih, supaya keliatan keren kan mendingan "orang bijak" yang ditulis): Kalau semua kenyang, gak akan lagi ada aksi anarkis. Jadi sama lah dengan: kalau semua jadi teroris kan gak ada lagi yang merasa diteror. Masa sesama teroris saling teror?! Hehehe. Jadi, kalau aksi anarkis masih terjadi sampai sekarang, itu karena ada pihak yang gak kenyang? Ya iyalah! Sogok ke partai kiri, organisasi kanan rusuh. Kasih amplop ke kanan, yang belakang nyodok. Nah, bagi yang rata dong pelicinnya. Jadi, semua kenyang, semua senaaaaaaaaang......!

Saya bangga menjadi orang Indonesia, karena:
1. Lampu lalu lintas warna merah dan hijau sama artinya: jalan terus. Lampu kuning artinya: gas pol!
2. Bisa beli DVD bajakan dengan harga murah meriah, cuma goceng nonton sampe ngaceng! (matanya yang ngaceng maksud gue)
3. lebih percaya dukun daripada dokter. Mbah samijan lebih canggih daripada alat pemantau gunung berapi.
4. naik angkot, jauh-deket cuma seceng dan boleh pula minta berhenti sembarangan, layaknya gue anggota Corps Diplomatic.
5. gak pernah di sidang gara-gara pelanggaran lalu lintas. Cuma bermodal Rp.20.000 udah bisa ngebuuuuuut lagiiii......
6. kalo naik motor dan nyerempet mobil, gue maki-maki tu yang punya mobil. Udah gue yang salah, bisa maki-maki orang pula!
7. kalo cebok gak perlu pake tissue. irit!
8. walau kantong lagi kering, tetep bisa maduma (masuk-duduk-mabok) dengan oplosan. Minum hari ini, maboknya ampe 2 hari!
9. banyak utang. Dan gue hobby ngutang (bahasa yang baik dan benar mungkin "berhutang" ya? kalo ngutang kan artinya make kutang?)
10. otak orang Indonesia adalah yang termahal didunia. Masih cling seperti baru karena jarang dipake!

Jadi, berbahagialah yang tinggal di Indonesia, negara terbebas diseluruh dunia. Dimana teror-meneror adalah hal biasa. Pemerintah meneror masyarakat dengan harga; masyarakat meneror dengan menghancurkan cafe, pintu gerbang gedung kehakiman, dan lemparan telur busuk ke gedung DPR-MPR. Yang paling seru adalah Inex, shabu-shabu, cimeng, whiskey dan segala jenis benda penghasil euphoria dijual BEBAS disini. We can buy and do anything in Indonesia. We are free man in free country, I love staying here. Coba, dimana lagi bisa hidup seenak udel seperti di Indonesia? Jadi.....merdeka Indonesia! Merdeka! Merdeka! Hahahahaha.........
posted by fire-fly @ Permalink ยค8:42 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home