~Gender~ Sewaktu sedang mendiskusikan tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan (diskusi yang sangat dibutuhkan sebenarnya), pacar saya terus-terusan menyebutkan kata “genre.” Walau telah saya coba koreksi secara halus, dengan berulang kali menyebutkan kata ”gender” dalam kalimat-kalimat saya. Dari diskusi persuasive, tak terhindarikan berubah menjadi argumentative. Ditambah lagi dengan kejengkelan saya yang sudah memuncak mendengar kata “genre.” Saya pandangi pacar saya, mendadak sebel banget ngeliat tampangnya. Dan tiba-tiba perasaan sayang saya padanya melempem seperti kue apem direndem air. Karena perut saya yang sontak “mules,” saya pun ngeloyor ke kamar mandi dengan raut muka gak karuan geramnya. Dia pikir saya kesal karena berbeda pendapat dengannya! Duh, bukan ingin punya pacar seorang guru bahasa inggris atau seorang native speaker. Tapi setidaknya orang yang tau bahwa arti kata “gender” adalah jenis kelamin, dan “genre” adalan aliran/gaya. Apa keinginan saya terlalu muluk? Kalau keinginan salah seorang teman saya, Andri, adalah punya cowo yang paling enggak tau persamaan “New Zealand” dan “Selandia Baru.” Apa keinginan dia terlalu muluk? Saya percaya, kami bukan menginginkan seseorang yang jenius. But, pleaseeee deh, surely not a moron! Lucunya, sewaktu saya katakan kepada pacar saya, bahwa saya sering sekali mengalah untuknya dengan “meng-iya-iya-kan” saja omongannya. Dia gak percaya! Padahal sering kali saya menahan emosi atas “kebodohan-kebodohan” kecilnya. Kecil pun kalau sering bisa bikin ilfil lho. Truly, small stuff makes big difference! Mungkin saya bodoh, tidak mengatakan dengan terus terang kepadanya. Tapi cowo, mereka marah kalau dikoreksi! Tapi kalau tidak dikoreksi, bikin gemes hati. Ditambah buruk lagi dengan mereka tidak mengerti bahwa buat perempuan hal-hal kecil bisa jadi masalah. Dan masih pula dia bilang saya gak sabaran dan suka membantah?! Phiew… Finally, it’s like a devil circle. And those morons being a moron for another century! |