~Mass Stupidity~ Benar kata penyanyi Pink yang berambut merah jambon itu “Stupid Girls are around me.” Mereka yang bertubuh langsing, outfit keren, bertingkah kemayu dengan memoleskan lipstik setiap bertemu cermin, merasa seksi walau tidak pernah benar-benar paham arti kata itu hadir setiap saat di tayangan tv. “They-TV stations-don’t give us a choice” lanjutnya lagi.” Atau seperti kata Samuel Mulia yang menulis di kolom parodi di harian Kompas, “majalah mode dan life style seperti ‘memaksa’ kita untuk percaya bahwa mereka adalah barometer dalam mengambil kesimpulan model mana yang in-out.” Sampai-sampai bisa mempengaruhi keputusan kita untuk membeli sebuah blazer dari bahan wol buatan desainer eropa atau dasi pencekik leher yang amat menyiksa dikenakan untuk cuaca Indonesia yang panas. Mereka mencekoki kita dengan berbagai tampilan yang ‘terpaksa’ kita lihat karena ga ada pilihan lain. Who the hell they think they are?! Beberapa hari ini saya sibuk memaki-maki – karena saya gak punya kesibukan lain, lebih tepatnya sedang tidak ingin disibukkan. Saya menonton program televisi, mulai dari tayangan infotainment yang dalam sehari ada berpuluh-puluh itu, program nyanyi menyanyi, reality show dan sinetron yang hanya betah saya tonton selama 5 menit. C’mon! saya berteriak, gak ada lagi acara tv yang lebih bagus?! Sambil merungut kesal, neurotic saya kumat. Seorang artis anu yang gosipnya berselingkuh dengan Mr. X dan Mr.Y sampai harus menggugurkan kandungannya dan dituntut suaminya yang seorang pengacara. Program pencarian bakat menyanyi yang katanya reality show-saking reality-nya sampai memperlihatkan kehidupan sehari-hari para akademia yang hanya ‘boleh’ makan mie instan itu (pesan sponsor bow!)-yang pesertanya gak becus nyanyi, malah dijadikan pemain sinetron ‘kolosal’ alias rame-rame yang ga rame. Kenapa gak diubah aja jadi pencarian bakat pemain sinetron?! Acara pengumpulan dana untuk penyanyi anu yang sedang terserang penyakit oleh rekan-rekan seprofesi, untuk memperlihatkan rasa solidaritas yang tinggi? Sementara masyarakat yang diberi suguhan ini hanya mampu ngiler melihat gaya hidup mereka. Jangankan untuk mampu merasa solider, untuk tidak ber-iri hati pun sudah menghabiskan seluruh ruang didalam hati. Masih ada pula ajang cari jodoh, reality show yang benar-benar berskenario! Adegan suap-suapan saat makan malam romantis yang sangat dibuat-buat oleh para pencari jodoh, sampai slow-dance yang penuh pelukan. Katanya mereka baru kenal sehari lho! Dan narator masih sempat pula membaca skrip “pasangan serasi yang tengah dimabuk asmara ini, bla bla bla…” Oh my God! Saya benar-benar merasa dianggap sebagai pemirsa setia yang dengan setianya dibodohi. They don’t give us a choice-for being smart. Karena semua sudah diprogram dengan sangat teliti untuk menjadikan kita bodoh, supaya chip-chip dalam otak kita dan setiap inci sel-selnya gak berfungsi dengan efektif. Semua impian yang menjadi dasar sebuah tindakan, tidak lebih luas dari sepetak RSS (Rumah Sangat Sederhana). Daym! Kemanapun saya menoleh, saya disuguhi hal yang itu-itu lagi. Berpikir lebih anarkis, mungkin semua itu untuk menahan keinginan berdemonstrasi di bundaran Hotel Indonesia. Karena seharusnya kita tidak punya keinginan yang lebih. Bahwa seharusnya kita sudah puas dengan apa yang ada. Dengan tayangan telivisi yang mampu membuat pantat kita tidak beranjak dari sofa. Karena mimpi-mimpi itu ada di dalam kotak telivisi! kenyataannya? Bermimpi kemudian tidurlah! Suatu sore yang indah sambil ditemani secangkir teh manis hangat, saya membaca Koran. Sambil lalu, saya menangkap juga perkataan seorang reporter yang sedang meliput tentang sebuah ‘barang’ baru berwarna oranye di jalanan kota Jakarta. “…dan busway ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan-jalan utama…bla bla bla..” seperti mendengar petir pada siang hari ditengah-tengah gurun Sahara, saya mendongakkan kepala untuk menonton liputan tersebut. Astaga! Sebuah stasiun tv --penghibur duka lara-- karena saya anggap mereka yang paling jarang membodohi saya, telah mengatakan sebuah kata ‘sakti.’ Gimana gak sakti, karena begitu mendengar kata itu segera dapat membuat kepala saya berdenyut, mulut saya ternganga, tenggorokan saya tercekat. Busway! Jalan bis. Bis yang anti macet itu mereka sebut busway! Kalau yang ada hanya ‘jalan bis’ lalu dimana bis-nya? Apakah nama ‘Trans Jakarta’ sama sekali gak ada artinya?! Begitu mendengar salakan saya ini, Ayah saya berkomentar “nama ‘busway’ telah begitu memasyarakat sehingga mereka pun (reporter-reporter) juga menggunakannya.” “Saya gak perduli kalau ada orang yang masih bodoh menyebutnya dengan ‘busway.’ Tapi stasiun televisi adalah media formal yang ditonton oleh orang banyak! Seharusnya mereka bertanggung jawab memberi informasi kepada pemirsa dengan cerdas.” Saya ngotot. “Yang penting kan pemirsa mengerti apa yang mereka maksud.” Kata Ayah saya tenang “Arghhh bukan masalah mengerti-dimengerti, kembali kepada esensi kata ‘busway’ dan ‘trans Jakarta’ jelas-jelas beda arti.” “Lho nanti kalau reporter itu sebut ‘trans Jakarta’ jangan-jangan gak ada yang ngerti.” Kata Ibu saya ikut-ikutan membela pembodohan. “Itu urusan mereka yang gak ngerti!” Kata saya emosi. Siapa suruh bego?!” tanya saya tanpa perlu jawaban. Tapi media informasi formal tidak perlu ikut-ikutan bego, kata saya melanjutkan dalam hati. Bukannya saya sok cinta dengan bahasa Indonesia-karena saya sendiri bukan pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar. Boro-boro! Bahkan saya lebih sering menggunakan bahasa Inggris untuk menunjukkan my sophisticatedly. Tapi setidaknya, saya tidak membodohi diri sendiri! Jadi saya lalu berusaha mencari siapa sesungguhnya kambing hitam untuk permasalahan busway vs Trans Jakarta ini. Masyarakat yang membaca kata ‘busway’ yang dicat putih di atas aspal, untuk kemudian dengan seenaknya mempopulerkan nama itu kah? Atau media informasi yang telah meniru nama populer tersebut kah? Sampai esoknya, dalam perjalanan menuju kantor di kawasan Sudirman. Sambil nyetir saya sempatkan melirik ke sebuah terminal penghubung bis besar bergambar rajawali itu. Dan mendapati kata ‘Busway’ tertulis besar-besar di plang hijau markah jalan yang disedikan oleh pemerintah untuk fasilitas umum itu. Saya pun mengatupkan bibir dan diam tak mampu berkomentar. Dan saya terhenyak sewaktu didepan bundaran Hotel Indonesia, juga terdapat plang hijau, dengan gambar panah lurus bertuliskan “Bunderan HI.” Ooooo No! jerit saya frustasi. Mungkin isi kamus bahasa perlu direvisi, kata “bundar” menjadi “bunder.” Topi saya bunder, bunder topi saya…. Kalau tidak bunder, bukan topi saya. |