Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Friday, August 11, 2006
~Tanggung Jawab Moral~

Heran juga, didalam hidup gue yang serba praktis dan gak kenal kata toleran, gue dihinggapi oleh perasaan tanggung jawab moral terhadap orang lain. Teman-teman, bahkan diri gue sendiri....selama ini menganggap bahwa gue adalah korban kaum urban --individualis, gak acuh, dan oportunis sejati. Dulu hidup gue emang hanya dipenuhi oleh makhluk-makhluk metrosexual yang mengaklamasi diri sebagai orang modern, yang membuat definisi sendiri terhadap kata "modern," yaitu clubbing dan ngegasak berbagai jenis minuman beralkohol sampe tergeletak tepar gak karuan; gonta ganti pacar --jenis kelamin gak masalah, yang penting kasih sayang-- sesering ganti celana dalem; ketawa-ketiwi tiap hari di coffee shop sambil lirik kiri-kanan siapa tau ada yang cucok; sampai ngegosipin cowo mana yang paling yahud di tempat tidur. Kata "modern" jadi kerasa sama artinya dengan "immoral" bagi kaum puritan. Menurut pakar sosiolog, manusia modern adalah mereka yang menggunakan fasilitas tercanggih (telfon dan HP, komputer dan internet) Buat gue sekarang, arti kata itu menjadi samar. Tiba-tiba gue ngerasa gak kenal lagi pada diri sendiri.

Mereka bilang gue unik, aneh, langka, ajaib.....tapi gue anggep gue cuman berbeda, karena memang cara pikir gue yang setengah modern, setengah ortodoks yang hampir katatonik. Entahlah, mungkin agak catharsis --perasaan terharu yang disebabkan oleh sebuah drama-- karena buat gue, hidup itu seserius sebuah opera (Hey, sorry mungkin gue banyak menggunakan istilah-istilah yang sulit kali ini....karena tiap abis nenggak minuman yang berapi otak gue lebih sinting dari biasanya). Anyway, gue emang pantes disebut manusia modern --dalam definisi apapun lah-- walau gue sendiri selalu nganggep diri sendiri sebagai seorang korban. Korban dari kebejatan moral sendiri.

Diawal gue udah singgung tentang tanggung jawab moral. Bagi yang sering baca tulsian gue di blog ini, bisa ngeliat bahwa gue gak pernah sama sekali menyinggung kegiatan apapun yang berbau kemanusiaan (semuanya berbau kesetanan). Ada tsunami di Aceh dan pantai Pangandaran, cuek. Gunung berapi dan gempa di yogya, EGP. Boro-boro badai Katharina. Semuanya gue anggep angin lalu. Kalian pikir gue cuek? 100% betul! Kalian pikir gue gak punya hati? itu 50% doang betulnya. Hati sih punya, perasaan juga (untungnya) masih punya....jangan bandingin gue ama si Pecun Gak Punya Hati itu (ada yang kesindir neh, hahaha...) Tapi masalahnya, gue seperti orang yang sudah ngebuang jauh-jauh perasaan gue, seperti kalian ngebuang foto-foto mantan pacar ke laut atlantik. Brengseknya, manusia modern emang lebih mentingin logika daripada hati! (contohnya Siti Nurhaliza yang lebih milih gadun milyuner beranak 4 yang umurnya lebih tua 20 tahun pula, hmmm........). Dan gue salah satu manusia brengsek, walau mungkin gak sejenis dengan Puan Siti.

Kalau sekarang gue ngomong tentang tanggun jawab moral, please deh, bukan berarti gue udah mikir tentang hal-hal besar seperti ngebantu korban bencana yang gue sebut diatas. Atau paling imut, ngerasa bertanggung jawab atas timbunan sampah di negeri Indonesia raya tercinta ini. Halah! Gue gak sebaik itu. Gue masih si egois yang ngebuang puntung rokok seenak udel dan gak pernah mau ngalah kalau nyetir di jalan Sudirman. Tapi perasaan bersalah yang ujug-ujug menyesap ini cuman disebabkan oleh seseorang yang masih punya hati. Hatinya besaaaaaaar banget dan (celakanya) diberikan untuk gue. Gue gak suka dikecewakan, tapi akhir-akhir ini gue baru sadar bahwa gue sering banget mengecewakan orang lain. Gue sering ngaku-ngaku dibikin mewek ama pacar gue, padahal gue sendiri bahkan nyorongin arsenik ke bibir mereka. Arsenik dalam bentuk perselingkuhan, manipulasi, nyuekin SMS atau telfon kalo gue lagi males ngomong, ngetawain yang bilang cinta, ngeremehin yang bilang setia......dan berbagai jenis "racun" lainnya.

Jadi, siapa sebenarnya yang jahat? Mereka yang ga tau bagaimana cara bikin gue bahagia.....atau gue yang selalu cari alasan untuk meninggalkan mereka? Sumpah, gue cuman bisa garuk-garuk kepala. Kata "same shit, different bulls" rupanya udah terpatri kenceng di otak gue. Entah siapa yang menjadi "shit" dan siapa yang "bull?" tapi yang jelas kalo keduanya digabungkan menjadi "BULLSHIT."

Akhirnya, setelah berada dipersimpangan jalan selama berabad-abad, kiri dosa-kanan lebih dosa-terus jurang (pilihan hidup gue emang gak ada yang enak), kalau dulu gue memilih untuk memilih jalan yang paling banyak dosa, kemaren gue milih untuk gak memilih, sekarang gue lagi milih untuk masuk jurang. Mendingan gue yang susah dan jungkir balik koprol sampai jatoh dari jendela lantai 20, daripada ngebiarin beberapa orang baik yang bernasib buruk --karena jatuh cinta ama gue-- untuk bernasib lebih buruk lagi dengan terus bersama gue. Karena mereka menawarkan sebuah perasaan yang gak lagi gue mengerti. Mereka, kalian, elu, gue.......memang tinggal di dunia yang sama, tapi jalan yang kita pilih berbeda. Hidup pun jadi punya arti yang berbeda. Semua orang pasti pengen bahagia, tapi definisi bahagia itu sangat subyektif. Begitu juga dengan batasan toleransi dan standart moral, sangat absurd. Tapi buat gue saat ini, gue bahagia liat kalian bahagia --siapapun deskripsi "kalian-- teman, tukang sayur, mantan pacar, pacar, selingkuhan, orang gila, polisi lalu lintas, mas ganteng manajer Fashion Bar......siapapun lah yang gue kenal.

See...gue juga punya tanggung jawab moral kan? karena gue masih mikirin kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaan gue sendiri (hehehe, silly me) Jadi tenanglah, sayangku.....semua kenyataan pait saat ini, akan terasa semanis janda depan rumah, suatu saat nanti. Kalo mengutip kata Iza --yang mirip Ariel Peterpan itu-- beberapa tahun lalu untuk gue, dia bilang "Cantik, semuanya akan terasa indah pada waktunya" Sayangnya, sampai sekarang pun gue masih ngerasa pait tentang dia (hahaha, sorry Za!)

Penutup. Jadi apa pesan moral dari tulisan kali ini? Gak ada! Karena gue bukan penulis cerita anak yang selalu ngasih pesan moral --walau moral si penulis juga masih berupa tanda tanya besar-- ingat cerita Si Kancil yang cerdik dengan menipu segerombolan buaya agar dapat menyebrang sungai? Menurut gue itu cerita yang dungu! Kancil penipu kok dijadikan seperti pahlawan untuk dongeng anak. Nah, gue gak pengen ikut-ikutan mendungui dengan sok-sokan bikin pesan moral segala. Jadi begini aja deh akhir tulisannya: "Tanggung jawab moral versi gue adalah: walau gue gak bisa ngebahagiaan orang lain, at least......gue gak mau siapapun menjadi sedih karena gue. Kalaupun ada yang masih sedih karena gue, ya....mengertilah, bahwa gue orang yang sulit dimengerti. Lagipula kebahagian elo bukan tanggung jawab gue gitu lho!"

NB. Karena sudah gue berikan seluruh hati, tapi kamu gak mengerti. Sama aja dengan bullshit kan? (lagunya si Baim neh)
posted by fire-fly @ Permalink ยค8:01 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home