|
|
| Gue Bangetz! |
| I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind.
Just remember that I can be strong and tender. |
| Baca Dooong |
|
| Archives |
|
| Fans Silahkan Isi |
|
|
| Narcism |
- Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
- Well behave women never make history
|
| Image Hosted By |
|
| Links |
|
| Designed-By |

|
| Credite |
|
| |
|
|
| Friday, August 04, 2006 |
|
~After The Storm~
Masalah itu terkadang datang seganas gelombang tsunami, namun efeknya bisa lebih dasyat. Yaitu berupa sakit kepala yang parah, pusing 17 kali keliling senayan dan gejala-gejala penurunan kualitas fisik lainnya. Bahkan berefek juga pada HP gue yang sekarang berubah fungsi menjadi puzzle game (banting sekeras-kerasnya HP anda sampai berkeping-keping, kemudian susunlah kepingan-kepingan tersebut menjadi utuh kembali. selamat bermain puzzle HP!). Kemudian ada lagi yang disebut efek rumah kaca, dimana emosi yang labil membuat 1 masalah merefleksikan 100 masalah di masa lalu, persis seperti efek sinar pada kaca --memantul, membias kesana kemari. Sehingga dampratan bisa menjalar dari 1 orang menjadi ke teman kantor, satpam rumah, pembantu, teman, orang tua, bahkan ball boy di tempat tenis pun jadi sasaran sejuta topan badai. Semua hal diatas baru aja gue lewati. Tapi ternyata, tau gak....semua hal tersebut bukan yang paling buruk. Pernah dengar yang disebut silent moment? Suasana yang mendadak sepi sesaat sebelum atau sesudah terjadinya bencana besar. They said: the worst is coming after the storm. What is it? yaitu melihat akibat dari bencana tersebut! Saat bencana terjadi, gue sibuk meluapkan emosi bahkan dari emosi yang paling gelap sekalipun berhasil dikeluarkan, atau mungkin berdoa seratus kali lebih banyak dan lebih panjang daripada hari sebelumnya (berdoa agar selamat dari cobaan dan godaan duda ganteng sebelah rumah). Intinya, saat terjadi masalah, otak gue di hiruk pikukkan dengan upaya terlepas dari masalah --Save Our Souls, God! But then after........ Perasaan paling ganas yang pernah ada selama manusia pernah ada, yaitu menyesal dan merasa sendirian. Bahkan setelah gue curhat berjam-jam dengan teman atau seorang pakar masalah (nama tengahnya aja "masalah" --you are the best problem solver because you are the problem itself, hahaha) Gue malah terbelit perasaan yang lebih kacau daripada emosi itu sendiri......sekarang yang gue katakan pada diri sendiri adalah "seandainya HP gue gak gue banting, seandainya....." Bisa ngerasa gak bahwa kata "seandainya" atau "just if" adalah kata paling menyedihkan dari seluruh kosa kata? Kenapa? --karena disitu ada rasa penyesalan akan suatu keadaan yang gak lagi bisa gue rubah. Dan harus gue bayar dengan kehilangan sebuah HP dan seorang pacar --yang pasti keinginan untuk menghilangkan seorang saudara dengan arsenik. Bukankah itu mengerikan? Atau hanya gue yang mengerikan? Lucu...disaat gue jengkel, marah, kesel karena telah kehilangan kontrol (pake huruf "r" ya) gue berharap bisa calm down. Sekarang saat badai reda, gue ngerasa sendirian dan gak punya perasaan apa-apa --kosong-- justru gue pengen mampu untuk merasakan sesuatu. Where are all my emotions? Where is my anger; my love.......... Where my feelings are gone? Gue ngerasa sendirian. Gak ada yang meluk gue. The worst's coming after the storm , and I feel that this is my worst --all alone by myself. Temen gue bilang begini: jangan pernah merasa terlalu memiliki, karena semua orang suatu saat akan pergi. Pergi karena ingin selingkuh atau diambil Tuhan. They shall loose, she said, no matter what the reason is. Pernyataan yang apresiatif menjurus agresif ini menurut gue 1/2 kenyataan-1/2 menyedihkan. Karena itu memang sebuah kenyataan yang menyedihkan. Tapi gue pikir, kalau gak pernah merasa kehilangan bagaimana bisa menghargai saat-saat memiliki? Kita menghargai sesuatu karena pernah kehilangan. Gue menghargai sesuatu setelah kehilangan. Dan gue seperti punya keyakinan yang terlalu berlebihan, bahwa segalanya akan hilang. Jadi gue menunggu.......menunggu sesuatu untuk hilang, kemudian berteriak keras-keras "Eureka! I knew it!" Dan akhirnya gue ngerasa sendirian, lagi. Gue percaya bahwa seseorang yang pantas gue tunggu adalah orang yang gak membiarkan gue untuk menunggu dan bisa mencintai gue tanpa perlu menunggu untuk dicintai. Tapi si Masalah bilang: satu-satunya pilihan yang ada saat ini adalah menunggu. Menunggu hujan reda supaya tau perbedaan air mata dan air hujan; menunggu matahari terbit supaya bisa tidur; menunggu orang yang tepat untuk datang. Menunggu..... menunggu...... Sampai kapan? Sampai seorang cewe gembrot menyanyikan sebuah lagu opera? atau orang prancis yang bilang "ill est trop tard, c'est la vie" (sudah terlambat, begitulah hidup). Gue emang bukan orang yang sabar atau sudi menunggu --menunggu itu absurd! Tapi kalau ternyata itu adalah satu-satunya cara.......mungkin gue harus ngerubah kepercayaan gue tersebut, eh? Akhirnya, feel god damn lonely in the middle of bizarre feeling and cool night, I'm wondering.......will this love ended even before it's blooming? I don't know. I dont even know what to think anymore. Suatu hari, entah karena hasil gue menunggu di halte bis atau didepan pager rumah........gue pengen bilang pada seseorang: jangan tinggalin gue lagi. Gue benci ngerasa sendiri. |
posted by fire-fly @ Permalink ยค7:43 PM  |
|
|
| 1 Comments: |
-
sometimes being alone is not bad at all,better then ada yg ngelonin but giving you pain on da arse lol
|
| |
| << Home |
| |
| |
|
|
sometimes being alone is not bad at all,better then ada yg ngelonin but giving you pain on da arse lol