Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Friday, July 07, 2006

~Rasa Kehilangan~

Takjub juga saya menyadari bahwa perasaan kehilangan itu merupakan suatu pengalaman yang paling menyakitkan. Tidak hanya untuk saya, tapi bagi kebanyakan orang juga. Baik kehilangan orang tua, saudara, teman, kekasih ternyata bisa meninggalkan trauma. Entah kehilangan karena ditinggal selingkuh, meninggal dunia, atau bahkan tanpa alasan yang jelas. Itu kata salah satu penyiar radio yang saat ini sedang saya tune-in lho. Kalau gak percaya, tanya aja ke teman-teman atau orang-orang yang ada disekitar kalian.

Nah, kemudian saya jadi kepikir akan rasa kehilangan. Alih-alih kehilangan kekasih, binatang peliharaan atau tanaman yang mati aja bisa membuat saya tersedu-sedu. Dulu saya pernah terpaksa mem-flush seekor ikan koi yang mati. Dan saya hanya bisa manangis diam-diam karena rasa bersalah dan kehilangan. Kelak, setelah saya dewasa akan semakin banyak lagi rasa kehilangan yang saya alami. Saya baru mengerti, ternyata rasa kehilangan--berapapun umur saya--tetap merupakan pengalaman yang menyakitkan.

Sekarang, setelah lebih dari 15 belas tahun, saya baru berani untuk memelihara seekor ikan piranha (becanda denk, cuma ikan hias biasa berwarna ungu kok, hehehe). Yang diberi sebuah “rumah” berupa botol kaca bening yang sekarang saya letakkan diatas meja komputer. Ikan ini nampak tertarik mengamati jari-jari saya yang bergerak diatas tuts. Sepertinya dia juga sama bahagianya dengan saya mendengarkan lagu R&B “Over and Over.” He as rocks as me! Bahkan mungkin saja dia juga seorang observer seperti saya. Hehehe.

Kalau saya pikir-pikir, pacar itu kok seperti binatang peliharaan ya. Perlu dirawat dan diperhatikan. Dan yang paling penting adalah benar-benar mengetahui apa yang mereka butuhkan. Analogi saya memang agak sinting. Tapi kalau direnung-renung, ada benernya juga ah. Seringkali kita mengeluh “capek” karena merasa telah memberikan “segalanya” kepada kekasih, tapi kok kenapa mereka masih saja berselingkuh; berbohong; bertingkah aneh; membuat kesal? Entah mereka sebenernya punya otak, atau jangan-jangan isi kepalanya kosong? seringkali saya merutuk.

Mungkin saya telah memberikan sesuatu yang bukan merupakan kebutuhan atau keinginan mereka. Akhirnya jadi bernasib sama tragisnya dengan si ikan koi, karena terlalu banyak diberi makan jadi mati kegendutan. (Wecksss! Saya pikir, saya yang kegendutan aja gak mati-mati kok! Hehehe). Kalau kita tau apa yang dibutuhkan oleh pasangan, mungkin kesalahpahaman seperti berikut ini bisa terhindarkan. Misalnya, saya menelfon untuk tau keadaannya, dianggap ingin menyelidiki. Saya ingin sekedar memberi perhatian, dan bertanya dengan siapa dia makan siang hari ini, dia pikir saya gak percaya padanya. Akhirnya ya bertengkar heboh. Saya pikir mereka gak ngerti saya; mereka pikir saya resek. Saya bilang butuh diperhatikan; mereka bilang butuh dipercaya. Ribet kan?!

Sekarang mungkin saya harus mulai menyadari semua makhluk hidup punya kebutuhan masing-masing. Setiap manusia punya kebutuhan berbeda. Setiap orang itu unik, sehingga cara memperlakukannya pun juga berbeda. Seperti halnya perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Mungkin kita tidak pernah benar-benar berusaha untuk tau apa yang pasangan kita butuhkan. Dan saya terkagum-kagum pada efek sebuah ketidak mengertian akan kata “kebutuhan” bisa membuat saya kehilangan seekor ikan dan seorang kekasih. Alhasil, lagi-lagi saya menangis tersedu-sedu karena merasa kehilangan. Well, yeah intinya sih kita sering memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Padahal kebutuhan kita berbeda.

Jadi sekarang, saya berniat memelihara ikan saya dengan lebih baik. Dan mencari tau kebutuhan-kebutuhannya, sehingga dia merasa nyaman—dan tetap hidup. Misalnya, air tempat tinggalnya di ganti setiap beberapa hari, memberik makan secukupnya saja, ikut begadang nonton piala dunia akan menyenangkan hatinya, berusaha mengerti bahwa kalau dia hanya berbicara sedikit bukan berarti gak cinta. Supaya dikemudian hari saya tak lagi merasa kehilangan. Sebetulnya saya ngomongin peliharaan apa pacar sih? Ah, saya anggap gak ada bedanya tuh!

Tapi, kalau memerlukan waktu 15 tahun bagi saya untuk mampu mengatasi rasa kehilangan akan seekor ikan. Lalu berapa tahun saya perlukan untuk mengatasi rasa kehilangan akan seorang kekasih? Ugh, good question!


posted by fire-fly @ Permalink ¤6:21 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home