~Thief ~ Suatu hari--beberapa minggu yang lalu--saya bertanya kepada seorang cowo: kenapa dia perlakukan saya seolah saya tidak punya hak sama sekali untuk masuk dalam hidupnya—setelah beberapa tahun. Dan jawabannya tidak terlalu mengejutkan saya. dia bilang bahwa saat itu bukahlah waktu yang tepat untuk saya. Saya hanya tersenyum. Kemudian saya katakan, bahwa diantara hidup yang begitu ramai ini—oleh setumpuk pekerjaan; keluhan dari berbagai orang; masalah keuangan; ketidakpuasan; dan berember-ember hal lainnya—harus pandai dalam mencuri waktu. Coz lover is a thief. Kalau dia mampu mencuri hati kita, kenapa kita tidak mencuri waktu untuknya? Karena waktu artinya adalah kesempatan—dan kesempatan ada hubungannya dengan keberuntungan. Teman saya bilang bahwa luck is a clock, it’s ticking—click…click…click… Kadang akhirnya waktu telah habis, itu artnya keberuntungan pun lewat. Eventually, there is date line for luck, isn’t it? Dulu, saya orang yang takut sekali untuk tidur—mungkin ini penyebab insomnia saya—kenapa? Karena dengan tidur saya merasa telah menyia-nyiakan waktu. Anggaplah rata-rata waktu tidur dalam sehari adalah 8 jam, berapa jam selama 29 tahun umur saya ini dilewatkan dalam keadaan tidak sadar akan banyak kejadian? 84.680 jam! Can u imagine?! Jadi kalau saya memang bisa untuk menghabiskan berpuluh ribu jam untuk tidur, saya pikir saya juga bisa untuk mencuri sebagian waktu buat orang yang telah mencuri hati saya. Dan membolehkan dia untuk masuk dalam hidup saya yang terus berdetik. Coz lover is a thief—and I like it—remind me of Sinbad or Robin Hood. Jadi saya lupakan saja laki-laki yang mengatakan bahwa saya datang disaat yang tidak tepat. Karena mungkin tidak akan pernah ada orang yang tepat disaat yang tepat, kalau tidak pernah mau menjadi “pencuri.” |