.::How worth is he?::. If the mother of the-mature-guy that you want to marry with is staying in his house, and he’s asking you to marry him-live with him, also with his mom, would you dare to take this circumstance or just erase his name from your list option? Itu pertanyaan yang sedang saya ajukan pada diri sendiri. Dan dengan cepat saya menggelengkan kepala-resiko yang terlalu besar untuk diambil. Bukankah itu sudah jelas bahwa laki-laki itu telah berkomitmen dengan ibunya dan saya yakin dia tidak akan mampu lagi untuk berkomitmen dengan perempuan lain?! Tapi demi mempunyai second opinion-saya panggil beberapa “pakar” hidup dan percintaan yang agak sealiran dengan saya, yaitu teman-teman dekat saya. karena saya sendiri cenderung mempunyai kepribadian jamak-yang sering berseteru dalam proses pengambilan keputusan-demikian juga dengan teman-teman saya yang mewakili kepribadian saya sendiri, si skeptik, si melow, dan si bijak. Si skeptik-cewe single usia 30 tahun, straight, pemilik sebuah butik- dengan tegas menjawab pertanyaan itu dengan air muka yang didramatisir-tampang melongo yang seperti mengejek “itu bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan lagi! –karena sudah jelas tidak mungkin. Demi melengkapi ungkapannya itu dia bahkan kemudian bercerita bahwa seminggu yang lalu dia berkencan dengan seorang cowo ganteng yang mapan. Satu-satunya kekurangan-kalau bisa disebut kekurangan-adalah dia masih tinggal dengan ibunya dan lebih ngenes lagi, dia bahkan tidak membawa kunci rumah! Oleh karena itu dia gak pernah bisa pulang terlalu larut malam, karena khwatir ibunya akan menunggu terlalu lama atau mungkin sampai ketiduran. “Isn’t he pathetic?” tanyanya dengan retorika yang sarkastik. Ok, ok I got your point, girl. Si melow-cowo couple usia 25 tahun, gay, mahasiswa- menjawab didahului dengan kata “hmmm…” yang agak panjang sambil menggaruk-garuk dagunya sendiri. “If I really love, I would take that risk.” Akhirnya dia berkata dengan mata masih menerawang (berusaha ngeliat masa depan, mas?). “Alasannya sederhana, karena cowo itu gak akan berani neko-neko karena ada nyokapnya, dan itu keuntungan kita!” tandasnya. Si melow jelas-jelas tipe orang yang akan berbuat apa saja untuk cinta-bahkan cenderung memujanya. Selalu mempunyai harapan bahkan di saat terburuk. Percaya akan adanya cinta sejati dan sebuah jalan yang harus dibuat untuk meraihnya. Si bijak-lelaki widower usia 50-an, straight, pekerja sebuah perusahaan negara -seperti biasa menjawab dengan kata-kata dualisme yang selalu memaksa saya untuk memandang sebuah visi yang lebih luas dari daya pandang saya yang sempit. Tapi itu salah satu hal yang saya suka dari dia, kemampuannya untuk membantu saya memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dia terdiam cukup lama dan memandang ke arah lain sambil bernapas berat-satu sedotan rokok kretek rupanya tanda kembalinya ia dari alam perenungan ke dunia nyata. Karena sambil memandang wajah saya agak lama akhirnya dia berkata “Berita buruk, hidup tidak akan pernah sesuai dengan harapan kita.” “Tell me something I don’t know.” Sahut saya. dia tersenyum tenang dan meneruskan “di negeri ini banyak yang harus ditoleransi dan menjadi bagian dari hidup kita-semacam resposibilitas tambahan ya hahaha.” Gubrax! Kata saya sambil menepok jidat dan ngakak bersamanya.
Kalau saya gabungkan pendapat mereka semua saya akan mendapat kesimpulan bahwa that man is a pathetic, but worth to try with understanding of added responsibility. Pertanyaan yang menentukan sekarang adalah: how worth is he for you? (not how deep is)-dare to marry that pathetic; dare to try; dare to take that responsibility.
If I think this is like running from my parent’s jail to my mother in low’s jail, how worth is he? If I think he is the only man where my happiness placing, how worth is he? Tell me, how worth is he? |