-Hidup tak bernyali- (Matipun tak berani) Ditengah malam-seperti biasa saya belum tidur-mendadak terlintas pikiran gimana kalau seandainya saya emang ditakdirkan untuk hidup sendiri selamanya? Not married-being single-jomblo. Sudah setahun ini saya ga punya pacar-bahkan juga ga berusaha nge-date lagi-karena merasa sama sekali belum siap untuk itu. Ya adalah sekali dua “ketemu” dengan cowo-cowo yang saya kategorikan sebagai freak guys. Tapi sejak terakhir tiga tahun lalu punya hubungan serius-dalam artian dua orang yang saling berkomitmen-saya seperti berada di negeri antah berantah. Limbung dan bingung. So lately, dalam rangka untuk sedikit mempunyai perasaan cinta, saya hubungi lagi si cowo tiga tahun lalu itu. Hidup untuk punya hubungan, dan mungkin juga punya hubungan untuk merasa hidup-at least more alive. Jadi saya pilih yang nomer dua, punya “hubungan untuk ngerasa hidup.” Lima tahun lalu saya sempat memutuskan untuk hidup selibat-dalam pengertian saya adalah “hubungan tanpa perasaan”-dan mendedikasikan hidup ini sefaham dengan konsep materialisme. Lumayan juga. Sampai saya kepentok ama satu orang ini. Awalnya saya belum menyadari kalau akan begitu, saya pikir “hubungan” itu seperti biasa-no feeling-but in the future I realize I was wrong. Nah sekarang, tidak saja sekedar saya merasa perlu dia untuk menjadi alasan hidup (menyedihkan ya?) tapi memang ternyata dia berhasil membuat saya merasa hidup lagi. Walaupun saya dihadapkan pada masalah besar-bahwa dia sudah mendeklarasikan diri untuk tidak akan pernah menikah-tapi setidaknya saya harus merasa punya harapan. Bukankah harapan terkadang satu-satunya pegangan untuk berniat meneruskan hidup? Jadi disinilah saya, “bermain-main” dengan kata “merasa.” Merasa hidup-merasa punya seseorang -merasa masih waras. Walaupun hubungan ini ga nyata-atau saya yang merasa ga nyata-saya merasa lebih hidup bersamanya. Walau sampai detik ini keberanian saya hanya sampai pada berbicara lewat telfon-itupun setelah saya kumpulkan seluruh nyali (dramatisasi). Ide untuk berkencan atau sekedar bertemu untuk melihat wajahnya saya pikir akan memerlukan seluruh kekuatan-untuk tidak hancur berkeping-keping setelahnya. Jadi, kembali pada pertanyaan diatas-bagaimana kalau saya ditakdirkan untuk being single? Tiba-tiba jam 1 dini hari ini, saya panik. Panik kalau-kalau saya akan mati sendirian didalam rumah dan seminggu kemudian orang lain baru menyadari ke-absenan saya. dan bagaimana seandainya saya dihadapkan pada kenyataan si MR. Not Believe in Marriage ini suatu hari menikah?-bukan saya yang dipilihnya. Dalam rasa panik yang menegangkan urat kepala saya-mengakibatkan migrain kumat-saya berusaha menelfonnya. Nada tuuut…tuuutt…terdengar di kuping saya-gak ada jawaban. Seharian ini, sejak sore tepatnya, saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Dan saya gak tau kenapa. Saya memang sering merasa seperti ini setahun terakhir. Dan saya pun sudah berhenti meyakinkan diri sendiri dengan berkata “everything’s gonna be all right.” –coz nothing was. Mungkin being single forever adalah salah satu pilihan juga dalam hidup ini. Tapi itu bukan pilihan saya. jadi, apakah hubungan yang sudah coba saya lupakan mati-matian 1 tahun terakhir ini-upaya yang gagal total-harus saya bangun kembali dengan menemuinya? Sebuah anggukan kecil dari saya mungkin akan merubah hidup, totally. Itu seperti menyakan kepada saya “lebih baik mana, merasa mati dalam hidup atau merasa hidup dalam kematian?” Saya merasa jadi orang yang “hidup tak bernyali, mati pun ga berani” atau pilihan terakhir adalah menikmati apapun yang terjadi. Seperti saya saat ini yang sangat menikmati “hubungan” dengannya. Jadi mungkin nanti saya boleh memlih untuk merasa hidup dalam hidup. Bukan tak ingin berdamai dengan hati Tapi hati perlu nyali untuk hidup Bukan pula tak ingin hidup Tapi hidup perlu damai di hati Bukan lupa akan rasanya rasa Tapi sepertinya rasa ingin dilupa Bukan tidak berani untuk menangis Tapi siapa yang mampu menghapus? Hidup tak bernyali….. Matipun tak berani. Jakarta-June 06’ 2006 |