Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg
Blog Orang Gila

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Wednesday, August 23, 2006
.::Aku Cinta::.

Cinta padamu berbentuk rasa sedih,
tak sanggup melihatmu menghancurkan hidup.

Cinta padamu dengan cara meninggalkan,
tak mampu berbagi hidupku yang tak indah.

Cinta padamu berupa umpatan,
"jangan tinggalkan aku, gila!"

Cinta padamu dijelaskan oleh patah hati,
karena tak rela ditinggalkan.

Cinta padamu tak seperti orang lain,
bukan sekedar indah, tapi tak tergantikan.

Cinta padamu bukan berarti bisa hidup dengamu,
tapi tak bisa hidup tanpamu.

Cinta padamu sulit dipahami,
tapi kamu mengerti aku cinta.

Bukankah hanya orang tercinta.....
yang mampu menghadirkan tawa
sekaligus air mata?
Karena dia, hidup menjadi beribu warna.

Ps. Untuk yang tercinta: love is a many splendored things.




posted by fire-fly @ Permalink ¤8:50 PM   2 comments
~Merdeka Edan-edanan~
(Versi Sarkastis)

Bertanah air satu, tanah air Indonesia!
Berbangsa satu, bangsa Indonesia!
Berbahasa satu, bahasa Indonesia!

Begitu isi sumpah pemuda-pemuda Indonesia pada tahun 1945. Kalau sekarang banyak yang berbahasa setengah Indonesia, mungkin hanya karena sudah agak lupa pada sumpah tersebut. Secara so what gitu lho! Ikut-ikutan merayakan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2006 ini, diperumahan tempat gue tinggal diadakan macem-macem lomba lengkap dengan hadiah-hadiah. Dan bokap gue yang jelas-jelas angkatan perjoeangan itu, bertekad untuk memenangkan pertandingan gaplek tingkat perumahan itu. Gue tanya kenapa gak tanding catur aja, dia jawab santai "gak pengen mikir berat-berat," dan nyokap gue nyelutuk bahwa kekalahan bokap waktu main catur ngelawan kakak gue di Los Angeles beberapa tahun lalu, rupanya meninggalkan trauma yang dalam, hahaha.

Gue yang memang sejak dulu, jiwa patriotiknya rada tipis --maklum angkatan inex dan sex bebas-- sama sekali gak ditawarin untuk ikutan lomba apapun. Jadi ya disinilah gue, mengetik seenak jidat saat yang lain lagi semangat mengibarkan bendera merah putih. Gue yakin para pejuang dulu akan tersenyum bahagia ngeliat anak-cucu mereka hanya perlu menancapkan bambu sebagai tiang bendera dihalaman rumah. Gak perlu ditenteng-tenteng, apalagi dirucingkan. Cuma jadi tiang bendera thok! Berkibarlah benderaaaaku....merah putih gagah perwira.....

Sudah 61 tahun Indonesia merdeka, anehnya tampang-tampang penuh teror masih sering gue liat seliweran di jalan-jalan. Kalau dari gerutuan mereka, gue bisa pastikan teror jaman sekarang adalah berupa kenaikan BBM, tarif listrik, makanan pokok dan berjuta-juta jenis barang lainnya yang kompak banget meneror seluruh negri. Dan gue sebagai seorang tukang teror kecil-kecilan kadang emang bersikap dilematis tentang hal ini. BBM gak naik, negara bangkrut karena kenaikan harga minyak dunia. BBM naik, semua orang jadi berwajah teroris, eh terteror maksud gue. Hmmm....teroris dan yang terteror sepertinya kok bisa jadi orang yang sama ya?

Contohnya ya gue ini, peneror yang terkadang dapat perlakuan anarkis juga. Sebagai teroris, gue meneror Si Tenyong --ikan piaraan-- dengan membawa rumah kacanya ke atas meja makan. Dengan tampang disadis-sadisin, gue tunjuk seekor ikang malang berwarna kecoklatan yang tergolek diatas piring sambil ngomong ama Tenyong "tuh, kalo lu macem-macem gue jadiin ikan goreng kaya gitu, mau lu?!" Dan Tenyong pun akan segera berenang panik dengan wajah penuh teror. Hahahaha, gue ngakak dengan puas. Tapi hukum karma rupanya berlaku dirumah ini. Gak lama datanglah nyokap dengan wajah sumringah sambil membawa piring dan meletakkannya tepat dibawah hidung gue. Disana, teronggok makhluk bercapit, berbadang melengkung bantet, dengan warna mateng kemerahan yang matanya (gue yakin) lagi mendelik ama gue.

Lobster! Raja udang, artinya adalah wajah terjelek diseantero lautan. Jedhang!!! gue hampir aja jatuh dari kursi makan. Dengan tampang pucet, gue buru-buru lompat dari kursi sambil ngomong dengan gagap "Eeee....gu..gue...nan...nanti aja ma..ma..kannya." Gue gak doyan makan segala jenis makhluk bongkok itu, paling gue tarik-tarikin sungutnya doang. Tapi kalo lobster, ngeliat tampangnya aja udah bikin gue ngerasa terintimidasi. Jadi sambil terbirit-birit lari kekamar gue mikir, gue adalah teroris yang terteror. Dan kayanya sambil berenang, Si Tenyong ngakak puas banget!

Jaman sekarang, bukan rumah namanya kalo gak pake teralis besi. Padahal notabene rumah gue terletak didalam cluster dan dijaga 24 jam oleh Pasukan Pengamanan Dalam yang serius banget dalam menjalankan tugas (saking seriusnya, gue sampe risih sendiri kalo pulang subuh dibukain pintu gerbang oleh para PPD yang --mungkin-- diajarin cara bermimik sangar dan curigaan itu) Tapi liat aja rumah gue dari lantai bawah sampai atas berteralis besi motif bunga-bunga. Begitu juga dengan hampir semua rumah-rumah di Indonesia. Di jaman perjuangan sampai merdeka begini kok sama-sama gak ada rasa aman? Dan tayangan-tayangan kriminalitas di televisi, semacam "Patroli; Bang Napi; Jejak Kasus" ikut-ikutan meneror mental pemirsa Indonesia. Kita jadi percaya, cenderung paranoid, bahwa segerombolan kriminal sedang mengintai di dekat rumah.

Jadi yah mau bilang apa, kita bawa santai aja, Jack. Merdeka sampe beratus-ratus tahun pun, urusan teror-meneror kayanya bakalan terus berlanjut. Kalau begitu, marilah kira jadi teroris. Karena seperti kata orang bijak (sebenernya kata gue sih, supaya keliatan keren kan mendingan "orang bijak" yang ditulis): Kalau semua kenyang, gak akan lagi ada aksi anarkis. Jadi sama lah dengan: kalau semua jadi teroris kan gak ada lagi yang merasa diteror. Masa sesama teroris saling teror?! Hehehe. Jadi, kalau aksi anarkis masih terjadi sampai sekarang, itu karena ada pihak yang gak kenyang? Ya iyalah! Sogok ke partai kiri, organisasi kanan rusuh. Kasih amplop ke kanan, yang belakang nyodok. Nah, bagi yang rata dong pelicinnya. Jadi, semua kenyang, semua senaaaaaaaaang......!

Saya bangga menjadi orang Indonesia, karena:
1. Lampu lalu lintas warna merah dan hijau sama artinya: jalan terus. Lampu kuning artinya: gas pol!
2. Bisa beli DVD bajakan dengan harga murah meriah, cuma goceng nonton sampe ngaceng! (matanya yang ngaceng maksud gue)
3. lebih percaya dukun daripada dokter. Mbah samijan lebih canggih daripada alat pemantau gunung berapi.
4. naik angkot, jauh-deket cuma seceng dan boleh pula minta berhenti sembarangan, layaknya gue anggota Corps Diplomatic.
5. gak pernah di sidang gara-gara pelanggaran lalu lintas. Cuma bermodal Rp.20.000 udah bisa ngebuuuuuut lagiiii......
6. kalo naik motor dan nyerempet mobil, gue maki-maki tu yang punya mobil. Udah gue yang salah, bisa maki-maki orang pula!
7. kalo cebok gak perlu pake tissue. irit!
8. walau kantong lagi kering, tetep bisa maduma (masuk-duduk-mabok) dengan oplosan. Minum hari ini, maboknya ampe 2 hari!
9. banyak utang. Dan gue hobby ngutang (bahasa yang baik dan benar mungkin "berhutang" ya? kalo ngutang kan artinya make kutang?)
10. otak orang Indonesia adalah yang termahal didunia. Masih cling seperti baru karena jarang dipake!

Jadi, berbahagialah yang tinggal di Indonesia, negara terbebas diseluruh dunia. Dimana teror-meneror adalah hal biasa. Pemerintah meneror masyarakat dengan harga; masyarakat meneror dengan menghancurkan cafe, pintu gerbang gedung kehakiman, dan lemparan telur busuk ke gedung DPR-MPR. Yang paling seru adalah Inex, shabu-shabu, cimeng, whiskey dan segala jenis benda penghasil euphoria dijual BEBAS disini. We can buy and do anything in Indonesia. We are free man in free country, I love staying here. Coba, dimana lagi bisa hidup seenak udel seperti di Indonesia? Jadi.....merdeka Indonesia! Merdeka! Merdeka! Hahahahaha.........
posted by fire-fly @ Permalink ¤8:42 PM   0 comments
Si Jablai
Duduk dimeja makan dengan kaki nangkring sebelah diatas kursi-sebelahnya lagi terjuntai santai, jari-jari tangan menggendang-gendang meja seirama dengan mulut yang nyanyi sember lagu dangdut Si Jablai (...lai..lai..lai...panggil aku Si Jablai. Abang jarang pulang, aku jarang dibelai...srrrr.....) Jam 9 malem dengan perut kenyang, mood gue lagi bagus. Si Jablai tiba-tiba lenyap bersamaan dengan kalimat yang sudah berkali-kali didengungkan nyokap beberapa tahun terakhir ini "Kapan kamu nikah?" Hah?! gue bengong sesaat sambil menjulingkan mata. Pertanyaan sekaligus berupa peringatan yang sama dasyatnya dengan ledakan C4 ini masih berlanjut "Inget lho, tahun depan kamu udah 30 tahun. Kapan mau punya anak?"

Berhubung sisa-sisa euphoria semalem masih terendap dialiran darah, gue gak segera membalas ambush tersebut, malah ketawa cekikikan. "Mau kawin ama siapa?" tanya gue dengan nada setengah ngeledek. Sesaat pertanyaan dan pernyataan reguler tersebut mengendap diantara suara ngakak gue yang asik ngebaca SMS-SMS dari si Bleguk Siah. Dengan muka setengah merah padam karena ketawa cekakakan, gue ngebuka front lagi karena tau nyokap pasti lagi senewen ngeliat kelakuan gue yang seperti nganggep "permasalahan" ini paling hebat hanya sebagai sarcastic jokes diantara teman-temen gila gue. "Bu, liat bright side-nya aja lah....masih mending umur 30 tahun gue single kan, daripada udah beranak dua dan suami gue gak karuan kerjanya? Hehehehe....." Nyokap mendelik, hihihi.

"Makanya dulu Ibu sih ngebilangin gue milih suami harus yang begini-begitu......jadinya ya seperti ini" cerocosan gue sambil cengar-cengir.
"Ya iya lah" kata nyokap. "Jangan yang gak karuan. Paling enggak, seagama dan punya kerja."
"Hehehe. Semua orang pasti punya kekurangan, Bu. Yang cocok, gak seagama. Yang berduit, rada bloon. Mau gak?" gue ngakak lagi. Nyokap cemberut, siap-siap nyelepet gue pake serbet.
Gue tau banget calon mantu idaman nyokap --dan gue yakin semua nyokap di dunia ini-- si dokter yang sering banget nelfon, tapi gue curigai demen ama sesama jenis itu....hahahaha. Buat nyokap dia adalah kandidat kuat, buat gue....boro-boro kandidat, masuk sebagai opsi juga kaga!
Yah....yah...yah...seperti gue pernah bilang ama temen edan Si Bleguk itu, "opsi adalah masalah perspeftif" karena menurut dia, gue punya 4 orang opsi, sementara gue pikir sih gak ada seorang pun, alias zero-nir-none. Pertanyaannya adalah, kenapa gue sampe mikir begitu? --ga punya opsi--

Because in my point of view, none of them filled my prerequisite. it's matter of perspective. Or, am I so naive? atau seperti pertanyaan Si Bencong Sukses --temen cewe gue yang sama-sama single diumur 30-- am i asking too much? Padahal kalau dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, idealisme gue sekarang sudah banyak banget tererosi-terkikis lho. Karena gue nyadar sih, tetap keras kepala mempertahankan idealisme berarti berakhir tanpa siapa-siapa. End up with no body. Dan kalo di umur 40 tahun --sepuluh tahun kedepan-- gue masih single, itu sama aja seperti ada note ditempel di jidat gue dengan tulisan "expired date" A.K.A "kaga laku" A.K.A "Si Jablai" Blah, mang enak?!

Dan gue pribadi menganggap bahwa erosi idealisme itu bukan suatu penurunan, tapi justru proses pendewasaan. Anggaplah gue sekarang punya kemampuan lebih untuk memahami kekurangan orang lain sebatas kewajaran (asal jangan kurang libido), dan yang terpenting bisa melihat kemampuan dan keterbatasan diri sendiri. No need for being cocky, nor low self esteem. Kita emang lahir dengan segala keistimewaan berikut kekurangan. Begitu juga dengan orang lain tho?

Jadi dengan semua pemahaman baru tersebut, seharusnya gak terlalu sulit buat gue untuk menemukan seseorang saat ini, ya kan? Tapi entah kenapa, masih aja berasa susah. Mungkin kembali lagi pada perkara rasa --gak bisa dibohongi dan susah untuk dikompromikan. Rasa itu bukan masalah penghiburan semata, seperti kalo ngomong "I'm happy for being single." Blah, For me it sounds like a denial. And that's bullshit! Karena kalimat yang sebenarnya --bagi orang yang sudah berumur 30 tahun lebih tapi masih belum menikah-- adalah "I've been trying to be happy for being single." Atau yang lebih sadis lagi "I've tried to be happy for being single" (Hahahaha, kaciaaaan deh lu!) Mereka --termasuk gue-- bukan bahagia karena masih sendiri, tapi mencoba untuk bahagia karena kenyataan pahit sudah tergelar lebar didepan mata "gue masih sendiri." Jadi terpaksa belagak bahagia. Dan sebenarnya gak ada kata-kata yang cukup ampuh untuk mampu menghibur, bo!

Tapi bukan berarti gue merasa terintimidasi dengan keadaan ini lalu grasak-grusuk menerima seseorang dengan seadanya sih. Hanya saja seperti manusia pada umumnya, ingin dicintai dan disayangi itu pasti toh. Namun mengharapkan a knight with shining armor and riding a white horse to rescue me like in a fairy tale, pasti juga enggak lagi. Miris, tapi enggak putus asa. Terdesak, tapi gak membabi buta. I'm setting up my gold, not gargabe though! Jadi yang gue inginkan sekarang adalah menemukan dan ditemukan oleh seorang laki-laki biasa yang punya cinta luar biasa untuk mampu berbagi keistimewaan dan kekurangan, dengan bertanya "will you be happy by sharing life with me?"

Does it still sound like a fairy tale? Mungkin enggak, tapi malah jadi dangdut abeeeesss.........! Hahahaha. Lai lai lai lai laiiii...panggil aku Si Jablai.... Abang jarang pulang, aku jarang di belai.... Lai lai lai lai laiii......

Ps. Untuk "Wok," terimakasih setulus-tulusnya atas kesabaran, perhatian, dan cinta. Bersama kamu, aku pernah bahagia.
posted by fire-fly @ Permalink ¤8:34 PM   0 comments
Friday, August 11, 2006
~Tanggung Jawab Moral~

Heran juga, didalam hidup gue yang serba praktis dan gak kenal kata toleran, gue dihinggapi oleh perasaan tanggung jawab moral terhadap orang lain. Teman-teman, bahkan diri gue sendiri....selama ini menganggap bahwa gue adalah korban kaum urban --individualis, gak acuh, dan oportunis sejati. Dulu hidup gue emang hanya dipenuhi oleh makhluk-makhluk metrosexual yang mengaklamasi diri sebagai orang modern, yang membuat definisi sendiri terhadap kata "modern," yaitu clubbing dan ngegasak berbagai jenis minuman beralkohol sampe tergeletak tepar gak karuan; gonta ganti pacar --jenis kelamin gak masalah, yang penting kasih sayang-- sesering ganti celana dalem; ketawa-ketiwi tiap hari di coffee shop sambil lirik kiri-kanan siapa tau ada yang cucok; sampai ngegosipin cowo mana yang paling yahud di tempat tidur. Kata "modern" jadi kerasa sama artinya dengan "immoral" bagi kaum puritan. Menurut pakar sosiolog, manusia modern adalah mereka yang menggunakan fasilitas tercanggih (telfon dan HP, komputer dan internet) Buat gue sekarang, arti kata itu menjadi samar. Tiba-tiba gue ngerasa gak kenal lagi pada diri sendiri.

Mereka bilang gue unik, aneh, langka, ajaib.....tapi gue anggep gue cuman berbeda, karena memang cara pikir gue yang setengah modern, setengah ortodoks yang hampir katatonik. Entahlah, mungkin agak catharsis --perasaan terharu yang disebabkan oleh sebuah drama-- karena buat gue, hidup itu seserius sebuah opera (Hey, sorry mungkin gue banyak menggunakan istilah-istilah yang sulit kali ini....karena tiap abis nenggak minuman yang berapi otak gue lebih sinting dari biasanya). Anyway, gue emang pantes disebut manusia modern --dalam definisi apapun lah-- walau gue sendiri selalu nganggep diri sendiri sebagai seorang korban. Korban dari kebejatan moral sendiri.

Diawal gue udah singgung tentang tanggung jawab moral. Bagi yang sering baca tulsian gue di blog ini, bisa ngeliat bahwa gue gak pernah sama sekali menyinggung kegiatan apapun yang berbau kemanusiaan (semuanya berbau kesetanan). Ada tsunami di Aceh dan pantai Pangandaran, cuek. Gunung berapi dan gempa di yogya, EGP. Boro-boro badai Katharina. Semuanya gue anggep angin lalu. Kalian pikir gue cuek? 100% betul! Kalian pikir gue gak punya hati? itu 50% doang betulnya. Hati sih punya, perasaan juga (untungnya) masih punya....jangan bandingin gue ama si Pecun Gak Punya Hati itu (ada yang kesindir neh, hahaha...) Tapi masalahnya, gue seperti orang yang sudah ngebuang jauh-jauh perasaan gue, seperti kalian ngebuang foto-foto mantan pacar ke laut atlantik. Brengseknya, manusia modern emang lebih mentingin logika daripada hati! (contohnya Siti Nurhaliza yang lebih milih gadun milyuner beranak 4 yang umurnya lebih tua 20 tahun pula, hmmm........). Dan gue salah satu manusia brengsek, walau mungkin gak sejenis dengan Puan Siti.

Kalau sekarang gue ngomong tentang tanggun jawab moral, please deh, bukan berarti gue udah mikir tentang hal-hal besar seperti ngebantu korban bencana yang gue sebut diatas. Atau paling imut, ngerasa bertanggung jawab atas timbunan sampah di negeri Indonesia raya tercinta ini. Halah! Gue gak sebaik itu. Gue masih si egois yang ngebuang puntung rokok seenak udel dan gak pernah mau ngalah kalau nyetir di jalan Sudirman. Tapi perasaan bersalah yang ujug-ujug menyesap ini cuman disebabkan oleh seseorang yang masih punya hati. Hatinya besaaaaaaar banget dan (celakanya) diberikan untuk gue. Gue gak suka dikecewakan, tapi akhir-akhir ini gue baru sadar bahwa gue sering banget mengecewakan orang lain. Gue sering ngaku-ngaku dibikin mewek ama pacar gue, padahal gue sendiri bahkan nyorongin arsenik ke bibir mereka. Arsenik dalam bentuk perselingkuhan, manipulasi, nyuekin SMS atau telfon kalo gue lagi males ngomong, ngetawain yang bilang cinta, ngeremehin yang bilang setia......dan berbagai jenis "racun" lainnya.

Jadi, siapa sebenarnya yang jahat? Mereka yang ga tau bagaimana cara bikin gue bahagia.....atau gue yang selalu cari alasan untuk meninggalkan mereka? Sumpah, gue cuman bisa garuk-garuk kepala. Kata "same shit, different bulls" rupanya udah terpatri kenceng di otak gue. Entah siapa yang menjadi "shit" dan siapa yang "bull?" tapi yang jelas kalo keduanya digabungkan menjadi "BULLSHIT."

Akhirnya, setelah berada dipersimpangan jalan selama berabad-abad, kiri dosa-kanan lebih dosa-terus jurang (pilihan hidup gue emang gak ada yang enak), kalau dulu gue memilih untuk memilih jalan yang paling banyak dosa, kemaren gue milih untuk gak memilih, sekarang gue lagi milih untuk masuk jurang. Mendingan gue yang susah dan jungkir balik koprol sampai jatoh dari jendela lantai 20, daripada ngebiarin beberapa orang baik yang bernasib buruk --karena jatuh cinta ama gue-- untuk bernasib lebih buruk lagi dengan terus bersama gue. Karena mereka menawarkan sebuah perasaan yang gak lagi gue mengerti. Mereka, kalian, elu, gue.......memang tinggal di dunia yang sama, tapi jalan yang kita pilih berbeda. Hidup pun jadi punya arti yang berbeda. Semua orang pasti pengen bahagia, tapi definisi bahagia itu sangat subyektif. Begitu juga dengan batasan toleransi dan standart moral, sangat absurd. Tapi buat gue saat ini, gue bahagia liat kalian bahagia --siapapun deskripsi "kalian-- teman, tukang sayur, mantan pacar, pacar, selingkuhan, orang gila, polisi lalu lintas, mas ganteng manajer Fashion Bar......siapapun lah yang gue kenal.

See...gue juga punya tanggung jawab moral kan? karena gue masih mikirin kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaan gue sendiri (hehehe, silly me) Jadi tenanglah, sayangku.....semua kenyataan pait saat ini, akan terasa semanis janda depan rumah, suatu saat nanti. Kalo mengutip kata Iza --yang mirip Ariel Peterpan itu-- beberapa tahun lalu untuk gue, dia bilang "Cantik, semuanya akan terasa indah pada waktunya" Sayangnya, sampai sekarang pun gue masih ngerasa pait tentang dia (hahaha, sorry Za!)

Penutup. Jadi apa pesan moral dari tulisan kali ini? Gak ada! Karena gue bukan penulis cerita anak yang selalu ngasih pesan moral --walau moral si penulis juga masih berupa tanda tanya besar-- ingat cerita Si Kancil yang cerdik dengan menipu segerombolan buaya agar dapat menyebrang sungai? Menurut gue itu cerita yang dungu! Kancil penipu kok dijadikan seperti pahlawan untuk dongeng anak. Nah, gue gak pengen ikut-ikutan mendungui dengan sok-sokan bikin pesan moral segala. Jadi begini aja deh akhir tulisannya: "Tanggung jawab moral versi gue adalah: walau gue gak bisa ngebahagiaan orang lain, at least......gue gak mau siapapun menjadi sedih karena gue. Kalaupun ada yang masih sedih karena gue, ya....mengertilah, bahwa gue orang yang sulit dimengerti. Lagipula kebahagian elo bukan tanggung jawab gue gitu lho!"

NB. Karena sudah gue berikan seluruh hati, tapi kamu gak mengerti. Sama aja dengan bullshit kan? (lagunya si Baim neh)
posted by fire-fly @ Permalink ¤8:01 PM   0 comments
Friday, August 04, 2006
~After The Storm~
Masalah itu terkadang datang seganas gelombang tsunami, namun efeknya bisa lebih dasyat. Yaitu berupa sakit kepala yang parah, pusing 17 kali keliling senayan dan gejala-gejala penurunan kualitas fisik lainnya. Bahkan berefek juga pada HP gue yang sekarang berubah fungsi menjadi puzzle game (banting sekeras-kerasnya HP anda sampai berkeping-keping, kemudian susunlah kepingan-kepingan tersebut menjadi utuh kembali. selamat bermain puzzle HP!). Kemudian ada lagi yang disebut efek rumah kaca, dimana emosi yang labil membuat 1 masalah merefleksikan 100 masalah di masa lalu, persis seperti efek sinar pada kaca --memantul, membias kesana kemari. Sehingga dampratan bisa menjalar dari 1 orang menjadi ke teman kantor, satpam rumah, pembantu, teman, orang tua, bahkan ball boy di tempat tenis pun jadi sasaran sejuta topan badai.

Semua hal diatas baru aja gue lewati. Tapi ternyata, tau gak....semua hal tersebut bukan yang paling buruk. Pernah dengar yang disebut silent moment? Suasana yang mendadak sepi sesaat sebelum atau sesudah terjadinya bencana besar. They said: the worst is coming after the storm. What is it? yaitu melihat akibat dari bencana tersebut! Saat bencana terjadi, gue sibuk meluapkan emosi bahkan dari emosi yang paling gelap sekalipun berhasil dikeluarkan, atau mungkin berdoa seratus kali lebih banyak dan lebih panjang daripada hari sebelumnya (berdoa agar selamat dari cobaan dan godaan duda ganteng sebelah rumah). Intinya, saat terjadi masalah, otak gue di hiruk pikukkan dengan upaya terlepas dari masalah --Save Our Souls, God! But then after........

Perasaan paling ganas yang pernah ada selama manusia pernah ada, yaitu menyesal dan merasa sendirian. Bahkan setelah gue curhat berjam-jam dengan teman atau seorang pakar masalah (nama tengahnya aja "masalah" --you are the best problem solver because you are the problem itself, hahaha) Gue malah terbelit perasaan yang lebih kacau daripada emosi itu sendiri......sekarang yang gue katakan pada diri sendiri adalah "seandainya HP gue gak gue banting, seandainya....." Bisa ngerasa gak bahwa kata "seandainya" atau "just if" adalah kata paling menyedihkan dari seluruh kosa kata? Kenapa? --karena disitu ada rasa penyesalan akan suatu keadaan yang gak lagi bisa gue rubah. Dan harus gue bayar dengan kehilangan sebuah HP dan seorang pacar --yang pasti keinginan untuk menghilangkan seorang saudara dengan arsenik. Bukankah itu mengerikan? Atau hanya gue yang mengerikan?

Lucu...disaat gue jengkel, marah, kesel karena telah kehilangan kontrol (pake huruf "r" ya) gue berharap bisa calm down. Sekarang saat badai reda, gue ngerasa sendirian dan gak punya perasaan apa-apa --kosong-- justru gue pengen mampu untuk merasakan sesuatu. Where are all my emotions? Where is my anger; my love.......... Where my feelings are gone? Gue ngerasa sendirian. Gak ada yang meluk gue. The worst's coming after the storm , and I feel that this is my worst --all alone by myself.

Temen gue bilang begini: jangan pernah merasa terlalu memiliki, karena semua orang suatu saat akan pergi. Pergi karena ingin selingkuh atau diambil Tuhan. They shall loose, she said, no matter what the reason is. Pernyataan yang apresiatif menjurus agresif ini menurut gue 1/2 kenyataan-1/2 menyedihkan. Karena itu memang sebuah kenyataan yang menyedihkan. Tapi gue pikir, kalau gak pernah merasa kehilangan bagaimana bisa menghargai saat-saat memiliki? Kita menghargai sesuatu karena pernah kehilangan. Gue menghargai sesuatu setelah kehilangan. Dan gue seperti punya keyakinan yang terlalu berlebihan, bahwa segalanya akan hilang. Jadi gue menunggu.......menunggu sesuatu untuk hilang, kemudian berteriak keras-keras "Eureka! I knew it!" Dan akhirnya gue ngerasa sendirian, lagi.

Gue percaya bahwa seseorang yang pantas gue tunggu adalah orang yang gak membiarkan gue untuk menunggu dan bisa mencintai gue tanpa perlu menunggu untuk dicintai. Tapi si Masalah bilang: satu-satunya pilihan yang ada saat ini adalah menunggu. Menunggu hujan reda supaya tau perbedaan air mata dan air hujan; menunggu matahari terbit supaya bisa tidur; menunggu orang yang tepat untuk datang. Menunggu..... menunggu...... Sampai kapan? Sampai seorang cewe gembrot menyanyikan sebuah lagu opera? atau orang prancis yang bilang "ill est trop tard, c'est la vie" (sudah terlambat, begitulah hidup). Gue emang bukan orang yang sabar atau sudi menunggu --menunggu itu absurd! Tapi kalau ternyata itu adalah satu-satunya cara.......mungkin gue harus ngerubah kepercayaan gue tersebut, eh?

Akhirnya, feel god damn lonely in the middle of bizarre feeling and cool night, I'm wondering.......will this love ended even before it's blooming? I don't know. I dont even know what to think anymore. Suatu hari, entah karena hasil gue menunggu di halte bis atau didepan pager rumah........gue pengen bilang pada seseorang: jangan tinggalin gue lagi. Gue benci ngerasa sendiri.
posted by fire-fly @ Permalink ¤7:43 PM   1 comments
Wednesday, August 02, 2006
~FOREVER~
"When i fall in love it will be forever...or i'll never fall in love again...."

Gue terbengong-bengong sampe ngences sewaktu ngeliat video clip sebuah lagu lama yang dinyanyikan ulang oleh Glen Fredly feat Dewi Sandra --"When I Fall in Love." Lagu itu pertama gue denger beberapa tahun lalu --dinyanyikan oleh Julio Iglesias, Si buaya darat cap "Lupa Umur" itu-- tapi gak begitu kerasa sampe kedalam hati gituh. Apa karena gue udah sentimen yang sangat pre-judge terhadap si penyanyi, yang menurut gue sok ganteng b'gaya 2 juta itu?!
Anyway, gue salut melihat kemesraan yang tampak gak dibuat-buat oleh Glen dan Dewi (a month later i just found out that they are going to get married), mungkin karenanya syair lagu itu jadi kerasa "nendang" banget dihati gue --kena dari ujung celana dalem ampe di G-spot. Gue jadi termenung-menung sendiri mikirin apa iya, suatu hari nanti gue punya keinginan untuk bilang "it will be forever?" terhadap seseorang. FOREVER, lho! Bukan main dasyatnya dan bukan untuk main-main. Artinya gue mau terikat pada seseorang selamanya.......dan pernyataan sebenarnya dibalik kata "forever" itu adalah: siapa orang yang bisa mencintai gue selamanya? Siapa manusia super hero yang sanggup mengimplementasikan kata tersebut tanpa metafor? Kata cinta aja sudah bukan main, ditambah pula dengan embel-embel selamanya......Ck..ck...ck....(ekspresi terkagum-kagum)

Tiga hari gue ikut-ikutan ngeceng disebuah counter event bridal --bertaburan baju-baju pengantin yang indah itu-- ternyata mampu membom bardir pikiran gue dengan sebuah kata "pernikahan" --yang dulu terasa mengerikan-- beberapa hari ini terluluhkan dengan ngeliat raut bahagia para calon pengantin yang sibuk berkonsultasi tentang wedding day mereka (plus negoisasi harga dong). Ngerasa seperti Carrie Bradshaw --serial TV Sex and the City-- yang sering nonton pagelaran busana di Manhattan, New York, pertanyaan miris terlontar juga saat ngeliat peragaan busana pengantin "kapan gue bisa seperti mereka?" dan teman disamping gue (anggep aja dia seperti Stanford, temen gaynya Carrie) ngejawab santai "ya kapan-kapan...itu juga kalo ada yang mau kawin ama elu." Bles...bles...bles...hati gue ambles!
Sambil clingak clinguk, sembunyi-sembunyi gue raba gaun pengantin tercantik di floor. Baru beberapa detik ngerasain halusnya silk dan agak mengkhayal mesum, kenalan gue yang perancang gaun pengantin itu --entah nongol dari mana-- ngagetin dengan nanya "mau gaun yang itu, Say?" sambil nyolek pinggang gue. Sumpah mampus gue mengkeret! dan cuman bisa cengengesan. Dalem hati gue ngedumel sendiri, wong yang mau kawin ama gue aja kaga ada! Boleh gak gue pesen gaun ini, tapi makenya mungkin 10 tahun lagi. Itupun masih mungkin. Hikz.

Seperti sedang malakukan proses penyulingan dan permentasi, gue ngeliat cowo yang pernah datang dalam hidup gue satu per satu pergi --entah karena terdepak, ditendang, persaingan ganas, dan sejuta alasan yang kadang benar adanya, namuan seringkali (hanya) alasan kontroversi yang manipulatif. Mereka secara gak sengaja tersuling --yang busuk dibuang aja-- dan beberapa berhasil menjadi senikmat anggur hasil permentasi yang sukses. Tapi dari semua proses itu pun, gak satu jua yang pernah mengatakan kata itu --forever. Gue gak tau sih bagaimana tampang mereka sesaat sebelum pergi atau dipaksa pergi dari hidup gue....mungkin ada yang bertampang pucet-mual-mules-jijik; atau malah lega-bersukur-sumringah sambil berdoa "Terimakasih Tuhan, kau tunjukkan jalan yang benar dengan tidak bersama perempuan itu lagi." Eh lah.....who knows kan?! Jadi mungkin agak jelas juga, bahwa kata "forever" itu teramat sakti mandraguna, jadi gak boleh diucapkan sembarangan. Dan yang lebih jelas adalah bahwa gak semua orang mampu melakukannya!

Sebenarnya selain membuat gue terkagum-kagum pada lagu itu, ada perasaan miris yang awalnya hanya terasa tipis-tipis saja. Tapi tambah kesini kok perasaan miris itu mulai rada dalem juga terasa, ditambah bonus: perasaan merana, kecewa dan sedih. Perasaan campur aduk yang sporadis banget rasa bahagianya ini --kadang ngebuat gue pengen adu tinju ama Mike Tyson (walaupun pasti KO pada jab pertama, paling gak gue jadi beken. Siapa tau jadi sampul majalah khusus freak people dengan mata bengep)-- gak lain gak bukan disebabkan oleh ketidak beranian gue untuk ngucapin atau ngedenger kata "forever." Jangankan selamanya, saat ini pun gue ngerasa gak ada yang bener-bener mencintai gue plus kesintingan gue. Biasanya orang akan menyerah menghadapi mood gue yang perubahannya ekstrim --gampang up and down seperti jet coaster-- dalam hitungan menit. Not even my folks able to love me the way I am.

Makanya ngeliat ada 2 orang manusia seperti Glen and Dewi yang mampu nyanyi dengan sepenuh hati "when i fall in love...it will be forever," hati gue jadi nyessss, rada tentram juga. Tentram karena ngerasa masih ada sedikit harapan bahwa dari 6 milyar manusia yang numpang tinggal di bumi, ada yang masih bisa mengerti arti kata "forever." Bukan hanya sekedar bilang "Pacaran yuk atau kawin yuk.....then i love you, i need you....bla bla bla gombalan lainnya." Tapi memahami bahwa kata-kata itu mengandung konsekuensi dan tanggung jawab moral, yaitu bagaimana ngebuat kekasih hati bahagia --bukan dibikin nangis jungkir balik; memahami eksistensinya didalam hidup; dan menghargai orang yang telah memberikan hatinya.

Yah begitulah......at the end of this written, gue masih merasa kecewa dan tetap gak mengerti dengan segala polemik didalam hati gue sendiri. Tapi satu hal yang gue pahami, bahwa mencintai itu bukan perkara mudah..........dan gue ngerasa gak pernah dicintai dengan mudah, walaupun gue bisa horny dengan mudah. Lucu ya.... Tapi heran, kenapa bergalon-galon air mata gue masih juga tumpah berbulir-bulir saat ini? Mungkin karena "when i give my heart.....it will be completely...." Cuih! pasti loe pada kaga ngarti maksud gue...... Iya kan, iya donk, bener kan, bener donk, so pasti getu lho. Emang dasar o'on terakreditasi loe pade!

".............in the restless world like this is, love is ended before it began. And too many moon light kisses seem too cruel in the warm of the sun....."
posted by fire-fly @ Permalink ¤7:25 PM   0 comments
~SNOB~
Satu-satunya orang di dunia ini yang gue kenal dapat ketawa dalam duka; ngakak dalam tragedi; cengengesan ngeledek diri sendiri dalam ironi, adalah diri gue sendiri. Entah itu sebuah berkah atau petaka; kekuatan atau justru kelemahan; waras atau sinting. Karena dengan kondisi yang demikian itulah gue mampu untuk merasa benci karena mencintai seseorang dan cinta untuk membencinya. Dari sekian banyak perlawanan yang gak jelas dalam diri sendiri itu, menimbulkan sikap dilematis yang akut. Gue sering emosi pada hal-hal kecil, tapi bersikap seolah gak perduli dan arrogant akan hal-hal penting. Satu-satunya yang jelas dalam diri gue adalah ketidakjelasan Jelas gue orang yang gak jelas. Ironisnya, gue sering sok mengaku sebagai orang yang suka pada simplicity, padahal orang lain mungkin ngeliat gue sebagai manusia yang penuh kompleksitas.

Orang bilang gue suka membesar-besarkan masalah kecil, dan gue merasa bahwa gue suka mengecilkan masalah besar. Karena menurut gue masalah besar itu bisa dibicarakan; beralasan untuk dijadikan bahan bertengkar; dan sah-sah saja untuk dijadikan dasar keputusan --jadi gue ga terlalu ngerasa bersalah pada diri sendiri. Sedangkan hal-hal kecil, selain gak pantes dijadikan alasan pertengkaran --dan seringkali jadi bahan tertawaan orang lain karena memperlihatkan betapa naifnya gue--juga sebagai ajang untuk menyalahkan diri sendiri.
Ya, gue orang nomer satu dalam hal menunjuk hidung sendiri dan berkata "you are stupid!" atau kalau mau lebih dramatis seperti temen gue --kalau merasa telah melakukan kesalahan tolol-- serta merta meletakkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf "L" dijidatnya sendiri, sambil ngomong "Loser!" Padahal belum tentu dia ataupun gue yang salah. Tapi siapapun yang bersalah, gue pikir gak seorang pun semestinya terlalu menyalahkan dan memaki diri sendiri, walau untuk seorang pecundang sekalipun. karena akhirnya apa? Kepercayaan pada diri sendiri pun menipis dan lama-lama hilang seperti pasir disapu angin (kecuali dipadang pasir yang terhampar bermiliar juta pasir).

Hal-hal kecil itu, buat gue, mempunyai makna lebih besar ketimbang satu hal besar. Karena dari hal-hal kecil terbangun hal besar. Hal-hal kecil itu susah disapu, seperti kerang --kecil tapi sangat banyak didasar lautan, menancap dan terisap dipasir jadi sulit untuk disapu ombak-- tapi kalau kena jari wadow! kulit teriris dan rasanya perih. Coba bayangkan kalau elo tersayat kerang disekujur tubuh (kerang, bukan panu ya....panu sekujur tubuh, hahaha) sakitnya berasa dimana-mana. Begitu juga dengan kesalahan-kesalahan kecil. Kecil sih tapi kalo rasanya bikin perih dari ubun-ubun sampe jempol kaki loe yang kapalan itu, gimana rasanya? Nah sekarang bayangkan kalau semua pedih perih diseluruh kulit itu loe rasain dihati.

Gue menyebutnya: Iritasi Hati. Hey orang dulu bilang, luka dibadan dapat diperban, luka dihati dibawa ampe mati, nah lho....kejam kan sakit hati itu?! Apa mungkin nanti ada pedagang asongan di perempatan lampu merah berteriak "heart bandage....heart bandage...." atau narasi sebuah iklan TV "Sembuhkan luka hatimu dengan obat sakit hati cap kapak. Cap Kapak membuat hatimu yang terkapak menjadi utuh kembali....Tanpa bekas!"

Mungkin sekarang loe pada bertanya-tanya sebenernya gue sakit hati tentang apaan sih? Yang jelas, karena hal kecil sih....tapi sakit hati akut yang menahun dan membuat depresi. I hate snob people.....I hate them so much until i want to head banging to a wall --jeduk! jeduk! jeduk! (bukan gedek-gedek, itu sih ajeb-ajeb). Sebatang mantan pacar yang begitu yakinnya gue masih cinta ama dia setelah 13 tahun lewat. Seorang teman bertampang super jelek tapi ngaku-ngaku banyak yang ngejar (dikejar preman pasar, mbak?!). Seekor mamalia yang ngaku kenal ama artis anu, itu dan ini. Segerombolan tawon kere yang ngerasa kaya raya dan bisa "ngebeli" gue (mungkin antara gue dan mereka ada perbedaan standar tentang kata "kaya raya"). Baru nraktir sekali (diemperan) udah ngerasa berduit; punya PDA (kreditan) udah ngerasa tajir. Woi anjir! yang kaya raya itu paling enggak, kaga bau knalpot --alias kemana-kemana naek mobil keren! Punya PDA tapi tinggal di kamar kost-kostan sumpek, sumuk, seencrit itu sama aja gombal! Loe kenal ama 10 artis, gue bahkan kenal ama 1000 artis (tapi mereka kaga kenal gue seh....errr). Aduh, sekarang tembok kamar gue beneran remuk deh.

OK....udah jelas?! Jelas bagaimana gue dengan mudah menjadi frustasi karena orang-orang yang kalo ngomong pada lupa ngaca itu --perlu gue beliin cermin segede bunderan HI?-- biar semua pada bisa ngaca bareng-bareng. How pathetic; moron; loser; snob; idiot; red neck we are...or you are. Yes, you! Satu cerita penutup, beberapa kutu jantan peliharaan gue dulu seneng banget menceritakan tentang urusan ngecengin kutu betina and how sexy they were. Daym! Sambil dalam hati merutuk "I don't need to hear this.....and I don't give a damn, snob bugs!" gue cuma senyum-senyum aja, penuh makna. Maknanya agak sadis: while you can only watch those sexy chicks, I sleep with other guy. Revenge is so sweet, tho. Hell ya bugs!
posted by fire-fly @ Permalink ¤7:18 PM   0 comments