Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Wednesday, May 31, 2006
-Lagi Frustasi-

Saya pikir Tuhan sebenarnya tidak pernah punya rencana. Kemana langkah kita, tujuan apa yang ingin kita capai sepenuhnya ada pada usaha dan nasib. Kalau Tuhan adalah sang maha perencana, dia benar-benar tak bermurah hati pada saya saat ini. Seperti saat kita melihat sebuah sarang semut yang seperti labirin itu, seekor ratu dengan ribuan prajurit. Kita bisa bertingkah seperti hal-nya Tuhan melihat isi dunia ini, hanya mampu mengawasi apa yang sedang terjadi atau menghancurkan sarang itu dengan membanjirinya dengan air. Mengaturnya? Jelas tidak mungin. Apalagi merencanakan giliran prajurit mana yang harus mati untuk mengawini sang ratu. Koloni ini mengatur hidup mereka sendiri, dan mereka hanya mampu berencana, namun nasib juga yang menentukan. Nasib yang bergerak dengan sendirinya.
Dulu, saya pikir Tuhan sengaja mengatur garis hidup saya sedemikian melangut. Agar saya mau menyembah, memohon-mohon agar saya mendapatkan apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Dulu, saya pikir Tuhan itu narsis dan begitu perlu untuk dipuja. Seolah lantunan doa-doa panjang bagaikan udara yang dihirup-Nya, atau untuk menjunjukkan maksud saya dengan lebih tepat adalah doa-doa itu seperti asap yang mengepul-ngepul
keluar dari bong yang mengakibatkan euphoria. Dan Tuhan ingin merasa seperti itu. Dan sayapun berdoa lagi lebih panjang.
Tapi apa yang terjadi? Dia sedang euphoria, tapi saya masih frustasi dipermainkan nasib. Ya, nasib. Karena bukan Tuhan yang merencanakan, Dia sedang
euphoria. Hanya nasib yang bisa di kambing hitamkan. Katakan….katakan apakah nasib harus sedemikian mampunya membuat kepedihan? Apakah nasib sedemikian berkuasanya pada saya, dia, mereka, dan seluruh orang di muka bumi dan seluas jagad raya ini? Berkuasa ataupun tidak, yang jelas nasib tidak berpihak pada saya.
Dulu saya salahkan Tuhan apabila ada yang tidak beres dalam hidup saya. Kadang saya berondong Dia dengan pertanyaan “mengapa.” Mengapa Kau biarkan ini terjadi? Mengapa Kau ciptakan saya? Mengapa ada rasa cinta? Mengapa kau biarkan pedih ini enggan pergi?
Mengapaaaa??! Jerit saya. Saat itu hening. Tak jua saya dapatkan jawaban yang ingin saya dengar. Sampai pada satu waktu dimana saya tidak lagi merasa perlu dijawab. Karena jeritan saya hanya memantul di setiap urat nadi sendiri. Saat itulah saya tau, bahwa memang tidak ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan saya.
Nasib yang mempertemukan saya pada mereka. Nasib pula yang dengan anarkisnya membuat saya ada, lengkap dengan segala pedih. Nasib yang telah membuat saya mencintai orang yang tidak dapat saya miliki, yang tidak semestinya saya cintai, yang telah merampok semua isi otak saya. Berjuta-juta detik, ribuan menit, ratusan hari saya lalui dengan setiap sudut hati saya yang terasa ngilu karenanya. Saya tak lagi bertanya “mengapa?” Saya tak perlu lagi
menunggu jawaban yang hanya akan membuat keheningan. Saya tak butuh jawaban. Saya tau, ini hanya nasib.
Dulu saya meyakini bahwa setiap orang yang terlahir keduania, telah menyepakati 3 perjanjian. Yaitu perjanjian tentang hari kematian, banyaknya rezeki dan dengan siapa jodohnya. Dulu saya meyakini banyak hal. Meyakini bahwa sebuah hubungan itu nyata adanya. Cinta adalah dasar kehidupan. Hidup adalah sebuah skenario besar dengan sutradara tunggal. Saya ditakdirkan untuk seseorang yang juga ditakdirkan untuk saya. Sekarang, saya tak mempunyai lagi barang satu keyakinan. Karena hubungan itu tidak nyata. Tanpa cinta saya mati? Tidak. Saya sangat hidup, saking hidupnya, saya dalam keadaan yang benar-benar sadar saat tergores sangat dalam. Dan tidak ada skenario, semua berjalan sesuai kemana arah jalan yang tersedia oleh nasib.
Bukankah itu sebuah kehilangan yang dasyat? Saya terkagum-kagum pada kemampuan sebuah rasa kehilangan ternyata dapat meluruhkan seluruh semangat, keinginan, kemampuan, harapan. Membabak belurkan sebongkah hati. Sempurna sekali untuk menghancurkan sebuah hidup.
Sungguh saya tidak akan pernah mengerti mengapa saya dibiarkan mencintai orang-orang yang tidak bisa saya miliki. Cinta mereka buat saya, celakanya, telah memaksa saya tertatih-tatih pergi. Sungguh, saya tidak akan pernah mengerti mengapa. Mengapa ini telah membuat saya benar-benar tenggelam didalamnya. Nasib telah mempermainkan saya dengan menyediakan sebuah jalan yang tak mampu saya lewati. Memang nasib adalah pelawak maha hebat! Dan Tuhan telah mengkhianati dengan tidak menjaga saya. Memang Tuhan mempunya beragam cara agar terus dipuja.
Saya….sungguh tak sabar, menunggu lenyapnya roh dari seluruh lapisan alam semesta, agar saya tak akan pernah lagi merasakan pedih ini.
Tanpa amarah. Tanpa air mata. Tanpa apa-apa lagi yang tersisa.
Sudahlah, bagaimanapun Tuhan selalu ngotot untuk selalu benar.
Saya hanya tertunduk pasrah.

To My dM’z: Give me strength….

Jakarta May 26th, 2006

posted by fire-fly @ Permalink ¤8:10 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home