Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Wednesday, May 31, 2006


Perempuan "Baik-baik"

Saya punya banyak sekali mantan pacar, atau cowo yang sekedar “numpang lewat” seperti figuran dalam film sex murahan. Dan mereka semua seperti serempak bubar jalan seperti juga kehadiran meraka yang serempak datang tiba-tiba. Saat ini saya jomblo berat dan seperti kehilangan identitas. Semacam masa transisi. Seperti dulu transisi pertama dari anak-anak menjadi remaja, dan inilah transisi ke-dua saya, menuju dewasa. Saya harus mengulang lagi menyusun prinsip-prinsip hidup, mana yang boleh dan setengah boleh.
Waktu diumur 20-an, semuanya serba boleh dan semua harus dicoba. Drugs, alcohol, suami tetangga, sebut apa sajalah! Saya belum kenal kata “taboo” dan “standard.” Dan saya bertemu dengan lelaki beristri ini.
Sebagian dari pacar-pacar saya meng-klaim saya sebagai perempuan pencemburu dan posesif. Sebagian lainnya justru mempunyai pendapat yang bersebrangan, saya dingin dan tidak perdulian. Dan dalam keadaan krisis identitas,
Namanya RK, seorang lelaki beristri. Buat saya dia adalah seorang teman, tempat berbagi yang menyejukkan, dan salah satu sumber kebahagiaan. Karena dia mau menerima saya apa adanya dan memperlakukan saya seperti princess. Wah, bisa dibayangkan bagaimana saya dulu cinta padanya. Hingga pada suatu hari, tak sengaja saya tau dia punya pacar lain. Saya marah luar biasa. Dulu dia beri tahu bahwa dia telah beristri, tapi rupanya dia lupa memberitahu tentang pacarnya!
Dia punya istri, saya tau dan terima hal itu sebagai sebuah kenyataan yang gak perlu dipermasalahkan. Cemburu pun jelas saya tidak berhak. Kalo pacar, jadi beda permasalahannya. Saya merasa punya hak untuk merasa cemburu dan dibohongi.
Jadi, dalam hal ini saya lihat bahwa penyebab kecemburuan dan kemarahan saya adalah karena sebuah fakta. Fakta yang telah disampaikan sebelum saya membuat keputusan, dan kemudian fakta yang baru disampaikan setelah saya membuatnya. Pada hal pertama, saya merasa punyak hak untuk memilih dan bertanggung jawab penuh pada pilihan saya untuk mencintainya. Dalam hal yang kedua, saya merasa hak prerogative saya itu telah dirampas! Kecewa karena merasa dibohongi, marah karena saya terlanjur mencintainya.
Kecemburuan ataupun ketidak cemburuan ternyata merupakan sebuah refleksi atas sikap yang kita terima. Bukan saya yang aneh dengan mempunyai dua sikap yang bertolak belakang, tapi mereka lah yang ternyata memperlakukan saya dengan sikap yang bertolak belakang. Ternyata kecemburuan saya berkaitan langsung dengan cara mereka memperlakukan saya.
Sekarang pertanyaan saya adalah:
Mengapa cowo mengawini perempuan “baik-baik” yang menurut alasan klise mereka adalah perempuan yang bisa menjadi ibu yang baik dan istri yang setia? Untuk kemudian setelah menikah, para cowo ini akan berselingkuh dengan perempuan yang membuat mereka bergairah! Rupanya istri mereka yang perempuan baik-baik itu hanya mampu mengurus anak-anak dan menyiapkan baju bersih untuk suami, tapi membuat dunia rumah tangga terasa datar! Mungkin karena perempuan-perempuan itu sudah terlalu disibukkan oleh semua “pekerjaan” mereka sehingga kehilangan kreatifitas untuk menjadikan hidup lebih berwarna. Atau mungkin juga karena jenis perempuan seperti itu memang sudah sejak lahir minim daya imajinasinya. Apapun lah!
Mengapa cowo harus selingkuh dan menjadikan itu seperti sebuah kemenangan kompetisi? Apakah imajinasi liar mereka dikeliilingi oleh para perempuan pada akhirnya menjadi sebuah obesesi yang harus dipuaskan dalam kenyataan?
Kenapa tidak kawini saja perempuan yang telah membuat hidup meraka menjadi bergairah? Mungkin bukan perempuan yang akan menjadi Ibu yang sempurna, tapi pasti akan menjadi teman hidup yang tidak membosankan.
Dari sepuluh orang cowo yang pernah meminta saya menikah dengan mereka, saya ajukan pertanyaan yang sama “mengapa saya?” Lima orang menjawab: “karena saya pikir kamu akan menjadi Ibu yang baik buat anak-anak saya”
Mereka jelas-jelas menggunakan kata “saya” bukan anak-anak “kita.”
Mau tau perkataan saya berikutnya?
Saya bilang: “datang saja ke yayasan penyalur pembantu atau baby sitter!”
Brengsek kan mereka?!! Menganggap saya sebagai baby sitter. Mungkin baby sitter bahkan lebih baik karena mereka menerima gaji yang jelas setiap bulan. Sedangkan saya? Belanja rumah tangga saja mungkin menggunakan metode tight budgeting!
Begitu hebatnya perempuan-perempuan yang menjadi istri seseorang. Merawat anak siang dan malam. Menyediakan baju bersih dan tersetrika rapi buat suami. Itupun mereka masih harus rela kalau si suami berselingkuh dengan perempuan lain yang lebih cantik tanpa daster lusuh, menggairahkan karena berwawasan luas, dan semua kecanggihan lainnya. Walah kekurangan mereka hanya satu, mereka bukan perempuan “baik-baik.”


posted by fire-fly @ Permalink ¤7:44 PM  
1 Comments:
  • At 9:29 AM, Blogger Diva said…

    cari laki baik2 lieverd *hugz* yg mau nyetrika,babysit kidz dan merentangkan tangannya yg penuh dgn aneka bumbu masakan sewaktu kamu pulang kerja *wink*

    bapak dan suami baik yg setia carinya dimana yah?

     
Post a Comment
<< Home