Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Tuesday, March 28, 2006

Nyut-nyut… Cring-cring…

Nyut-nyut, kepalaku berdenyut. Migrain yang selama separuh hidup selalu menghantui itu, membuat saya ngeper! Denyutnya kali ini seiring sebangun sekali dengan jumlah cring-cring dalam dompet saya yang tak terlalu nyaring lagi bunyinya. Mau pinjam uang ke bapak saya, sebagai Nature Bank. Bank yang sudah ada dari sononya, tanpa bunga, tanpa jaminan, dan tenggat pembayaran semampunya, rasanya malu gitu. Udah kerja lho saya, dengan bangga sekaligus mengkeret. Sebuah tas milik Ibu saya yang berajut benang merah ala turki itu sudah siap di sofa depan. Di dalamnya saya persiapkan pakaian dua stel saja, cukup untuk dua hari perjalan ke luar kota. Ini siap, itu siap. Rasanya sudah lengkap bawaanku. Setiap akan berangkat bekerja, selalu saya umpakan seperti akan pergi berperang. Apalagi hari ini akan ke Bandung. Persenjataan mesti lengkap donk! Setelah yakin semua ready to shoot, saya duduk di sofa hijau kalem ruang tamu. Nyut..nyut..nyuttt…tambah keras bunyi nyut dikepala saya. Apalagi sambil duduk diam dan menautkan jari jemari dengan memainkan kedua jempol yang saling tumpang tindih. Huwaaahh….kok rasanya lama sekali. Kembali terpikirkan tentang tumpukan tipis rupiah saya. Dengan sedikit rasa optimis terpikir, ah nanti mungkin akan ada tambahan dari hasil kerja saya disana.
nDinnn…nDiinnn…suara klakson yang merdu dikuping itu, gak cempreng, membuat saya melompat dari sofa. Setelah pemindahan sebuah koper segede babon dan tas kecil saya kedalam mobil itu, tentunya ritual berpamitan dengan orang tua harus dilaksanakan. Demi lancarnya perjalanan dan tugas lho… Amiinn…

Dalam perjalanan Jakarta-bandung, seperti biasa Mr. Driver yang menjemput saya akan mengajak berbincang. Ditengah udara Jakarta yang jenjreeeng, panasnya bertubi-tubi menusuk kulit, terasa semilir udara dalam mobil ber-air conditioning ini. Nyaman, sedap, sejuk didalam mobil hebat ini. Gimana gak hebat! Jok kulit hitamnya menempel dengan lembut dikulit. Jalannya terasa mulus sekali diatas aspal yang berlubang-lubang kecil, lempennng saja. Kalau melongok keluar jendela, yang terlihat ya jalan yang semrawut dan kering. Wah, didalam sini serasa saya di surga deh.

Pak musa-mr. driver yang tak pernah kehabisan bahan untuk dijadikan topik pembicaraan, seperti siang ini juga, tanpa ancang-ancang dia sudah mengomel tentang semakin mahalnya harga-harga rumah. Mungkin setelah melihat rumah (orang tua) saya yang berada dipinggiran kota, kecil-mungil-asri, cluster menengah, namun harganya sudah ratusan juta itu! Dia bercerita, dulu harga tanah di daerah perkotaan hanya Rp. 500.000/tombak. Sekarang di daerah pinggiran dan letaknya masih masuk kedalam pun sudah mencapai Rp.5 juta. Ck..ck…ck… sahut saya, walau saya tidak mengerti dengan kata ukur tombak, tetap terkagum-kagum dengan harga peningkatannya yang fantastis! Kemudian sebagai seorang sejarawan, dia bercerita bahwa zaman dulu hidup terasa lebih nyaman dan jelas lebih murah! Kemudian tentang harga sekolah anak-anaknya yang semakin mahal. Buruh kecil seperti saya, katanya, semakin tersudut. Tapi yah nasib diterima saja dengan lapang dada. Mendadak jadi filosof dia.

Pikiran saya tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada ucapannya, karena ha! Jujur saja, saya sedang memikirkan uang di dompet saya yang kering di tanggal tua seperti ini. Hatiku diliputi setengah rasa lega setengah bersalah. Merasa mendapat orang yang senasib mirisnya, tapi kok ya saya juga merasa kurang bersyukur. Karena yakin gaji saya sebulan jauh lebih tinggi daripada Mr. Driver ini. Padahal ya dia mesti ngidupin anak istri lho…saya yang masih menjadi anggota Jojoba (Jomblo-jomblo Bahagia) ini, gak pernah merasa cukup. Walah!

Perjalanan terus berlanjut, gedung-gedung penyangga langit Jakarta mulai tampak jarang. Di kiri-kanan nampak beberapa hektar tanah kosong-rada gersang, calon-calon pabrik. Nyeeesss….roda mobil masih berputar dengan mulusnya. Saya putar knop air-co kekiri, wah kalau tetap dengan putaran yang tadi, bisa-bisa saya bukan berada disurga lagi tapi kutub utara berteman dengan penguin menyetir mobil.

“Mbak…” panggil Mr.Driver setelah berdiam beberapa saat. Oh iya, dia memanggilku dengan sebutan “mbak” bukan “ibu,” seperti seharusnya, karena jelek-jelek gini saya teman bos-nya lho. Kadang-kadang juga memanggilku dengan “neng.” Ya gak apa-apa lha. Dari dulu saya malah jengah kalau dipanggil dengan “gelar” seperti itu. Tapi setiap saya tegur beberapa orang yang umur dan statusnya dibawah saya untuk memanggil tanpa embel-embel itu, kok mereka yang rikuh gitu. Dan akhirnya, saya menyerah saja, terserah mereka mau memanggil saya seperti yang mereka anggap pantas.

“Kata bapak, kita jemput Mr.Marek di bandara.”

“Iya, saya juga sudah diberitahu kok pak.” Mr.Marek, orang Polandia, adalah kolega bisnis teman saya itu.

“Mr. Marek itu sepertinya marah lho sama saya, mbak.”

“Eh lha…kok bisa?” Tanya saya heran

“iya, ada masalah sama saya gitu, keliatannya.”

“emang pak Musa kenapa?” Tanya saya lagi. Gimanapun, orang bawah memang yang selalu dianggap salah kalau ada yang tidak beres. Otak saya pun, yang sudah dari kecil terlatih menjadi juragan, tentu saja segera bertanya apa yang Mr. Driver ini lakukan sampai Mr.Marek marah padanya.

“waaah…..gak tau itu mbak. Pokoknya setiap saya jemput dari Jakarta sampai bandung ga pernah ngajak ngomong saya.”

Sampai sini saya terngaga.

“kalo di dalam mobil, kepalanya menghadap ke kiriii terus…gak pernah noleh ke saya.” Lanjutnya.

Saya pun meledak, tertawa keras sekali.

“Oalaaaah Pak musaaa…..memangnya kalau Mister Marek ngajak ngomong pake bahasa inggris, bapak ngerti apa?”

Mr.Driver hanya meringis saja, hampir tanpa ekspresi!

Waduh, saya pikir saya sedang berhadapan dengan komedian jenius ini. Dia berhasil membuat saya tertawa, sementara wajahnya itu lho! Bisa tetap terlihat kalem.

Gapura berwarna jingga itu sudah terlihat didepanku. Disebelah kiri, nampak beberapa pesawat terbang di landaian bandara.

“Pesawat-pesawat itu bisa muat 200 orang ya mbak?”

“Eh ya lebih pak. Yang panjang itu pesawat Boeing, bisa muat sampai 600 orang lho.” Kataku sembari menunjuk sebuah pesawat Singapore Airlines.

“Oooh begitu yak…” kata Mr.Driver terkagum-kagum. Mungkin kagum pada kapasitas pesawat yang jauh melebihi perkiraannya, atau mengagumi kecanggihan info data-ku. Sarjanaaaaa sih…..

Yak, aku tersenyum sendiri, memenuhi kompleks narsisku. Kadang-kadang perlu juga berbicara dengan orang bawah, kita yang setengah pintarpun juga terlihat jadi jenius kok! Hehehe….ketawaku dalam hati.

Perjalanan selama 3 jam kali ini tidak banyak terisi dengan obrolan. Bukan saja karena aku sudah terlalu capek plus udara dingin yang nyeesss di kulit. Tapi mulutku lebih suka untuk diam sambil merenungi, ternyata buat intelektual semacam aku pun, kok gawatnya! mempunyai masalah yang sama dengan Mr.Driver ini. Krisis finansial! Tapi Mr.Driver yang mungkin paling tinggi tamatan SMU ini, lebih mampu dari pada aku untuk menjalani hidup dengan lawakan satir-nya. Ditambah lagi, kompleks narsis yang menghinggapiku ini., wah tambah banyak lagi minus-ku….yang harus aku renungi sambil membawa penderitaan nyutt…nyutt…nyutt….cring…cring…. gubrax!

posted by fire-fly @ Permalink ¤5:26 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home