.:: Jujur (part II) ::. Berkata jujur dengan berpikir jujur itu ternyata bedanya banyak lho! Bedanya terletak pada subyek orang yang tidak kita bohongi. Jujur yang pertama itu berarti kita tidak membohongi orang lain. Jujur yang kedua artinya kita tidak bohong pada diri sendiri. Wah jangankan untuk jujur dengan orang lain, dengan diri sendiri aja seringnya susah! Tentang kata jujur ini sendiri masih immeasurable. Tiap orang punya stadar jujur masing-masing lho! Kata teman saya yang sudah beristri tapi sering selingkuh ini, jujur itu diplomatis. Ia berkata jujur kepada istrinya bahwa habis mabuk di sebuah café dengan seorang rekan kerja yang perlu di-loby. Tapi embel-embel bahwa ada beberapa perempuan yang menemani kan tidak perlu diceritakan. Saya jujur lho…katanya bangga. Duh biung! Seorang teman lagi yang (juga) telah beristri tetapi menyukai sesama jenis dengan lebih tegas meyakinkan bahwa kata ‘jujur’ itu sangat abstrak, dengan berkata lantang: saya jujur! Jujur bahwa saya berbohong!” rambut saya yang ikal, mendadak keriting seperti gaya rambut afro. Mau diakui atau tidak, memang kejujuran itu belum ada konsep dasar yang jelas. Saya sebagai penulis pun, dengan jujur kadang terlintas pikiran untuk tidak jujur. Tapi lebih banyak ketidak jujuran itu ditujukan pada diri sendiri. Dengan tidak jujurnya saya merasa bahwa saya telah menulis secara jujur. Waduh, rambut anda ikut-ikutan keriting gak? Susahnya menjadi manusia dewasa. Yang kebetulan sekali bekerja dibidang marketing. Kata orang, dunia marketing itu penuh ketidakjujuran yang dibungkus dengan kertas kado cantik berpita pink pula. Sewaktu ditanya apakah saya menggunakan produk yang saya tawarkan, terpaksa besoknya saya pun membeli produk itu dari dompet saya sendiri! Usaha untuk jujur yang mahal! Keesokan harinya saat saya sedang di supermarket memilih camilan yang lezat-lezat itu, saya dikagetkan oleh celutukan seorang anak kecil yang bediri disamping saya. Bagi saya, dia tak lebih tinggi dari kurcaci. Dengan mata bulat besat dan sedikit iler di sudut bibirnya, kurcaci itu memandangku melongo. Tante kok besar sekali, katanya polos. Kena gue! Kataku merutuk dalam hati. Akupun mendelik. Gugup juga dituduh sebagai tukang menghabiskan roll-egg setoples. Kamu juga, kenapa kecil-kurus dan ompong! Kataku sembari bergegas pergi sembari melirik maut ke kiri-kanan bagaikan ibu-ibu yang takut ketahuan mengambil sample kue terlalu banyak. Gawat juga kalo ada emak-nya kurcaci itu yang mungkin saja bertubuh sebesar gozila! Sekali lagi, nasib tidak berpihak pada yang jujur. Sore itu dengan hati setengah dipaksa untuk ceria, saya mengambil sepatu kets untuk lari keliling komplek (si kurcaci rupanya telah “menyetrum” pantat saya untuk mau beranjak dari depan komputer). Baru setengah putaran, napas saya sudah ngos-ngosan. Kaki sudah berat diajak melangkah, boro-boro lari. Tengok kiri, putar kepala kebelakang, tidak ada siapa-siapa. Saya pun memelankan langkah, niatnya untuk lari cepat, kok jadi jalan lambat ya… Gue akan usulkan kepada pemerintah untuk punya satu lagi cabang atletik, yaitu jalan lambat! pikirku merasa cemerlang. Eh, tapi kok di tanah kosong depan, saya lihat sepasukan PPD (Pasukan Pengamanan Dalam), yang selalu menyapaku digerbang dengan suara-suara bariton, sedang bersenam sore. Tengsin gue! Cepat-cepat saya melajukan gerakan tungkai. Sudah berpakaian olah raga dengan stil begini kok. Orang jujur pula! Hosh..hoshhh..hooshh… akhirnya saya tiba juga dipertigaan depan rumah. Saya lihat tetangga yang baru pindah sedang menyirami tanamannya yang sejumput itu. Dengan cengar cengir (dan pura-pura melap keringat) saya halo-halo si nyonya rumah. Asik juga berbasa-basi dengan tetangga baru, obrolan ya tentu benar-benar basa-basi, tentang pekerjaan, sudah berapa lama pindah (kok ditanya? Jelas-jelas kotak-kotak setengah terisi masih jumpalitan di dalam rumahnya). Tapi kemudian saya menyadari, sejak tadi saya kesulitan mendengar apa yang dikatakan si nyonya, sampai perlu dijelaskan dua kali. Setelah mengorek kuping dua kali, saya pun mulai memperhatikan bibir si nyonya yang selalu terkatup selama ia berbicara. Waduh, ya jelas suaranya seperti gumaman panjang yang berasal dari dalam sebuah gua. Hampir saja sebuah pertanyaan terlontar dari mulut saya, lagi sariwan, Bu? Ups…cepat-cepat saya katupkan bibir, untung teringat tentang tulisan saya yang bertema kejujuran ini. Tapi tak urung cengiran miring gak bisa saya tahan. Sampai rumah saya laporkan hal ini kepada Ibu saya. Menurut laporan dari mata-mata kecil kami (adik saya yang notabene bertubuh sangat tidak kecil) tentang keadaan seluruh komplek perumahan, didapat informasi bahwa si nyonya tetangga baru yang baru saja pindah itu, baru saja memasang gigi palsu baru. Bukan gigi palsu bekas dong! Dan gigi barunya itu belum pula terpasang dengan sempurna. Jadi ya terpaksa, berbicara sambil mengatupkan mulut. Dari pada semua gigi mendadak lepas-ambrol dan tetangga baru mendadak pingsan karena kaget. Emang kenapa? Tanya Ibu saya. Gakkk…gak apa-apa, Bu. Untung saja gue anak yang bandel, sahutku sambil ngeloyor masuk kamar mandi. Lho kok? Lha iya, coba saya anak penurut yang selalu menuruti nasehat orang tua untuk selalu jujur dan sejujur-jujurnya seperti jujur kacang ijo, saya gak perlu mandi lagi sore ini karena kena siram si nyonya! Jadi ternyata berkata jujur itu perlu lihat situasi, orang yang kita hadapi, tempat, dsb-nya… jujur itu repot ternyata! Jauh lebih gampang berbohong, tidak jujur dan manipulatif. Kalau kebohongan butuh orang cerdas. Ketidak jujuran butuh orang yang jenius. Dan kejujuran butuh orang yang bijak. Seperti teman saya bilang “cakep itu relatif, jelek yang mutlak!” jadi saya pun bisa berkata “kejujuran itu relatif, kebohongan yang mutlak!” Maka, jujurlah orang-orang Indonesia…termasuk kategori yang manakah diri anda? |