Am I Asking Too Much? By Andri
Am I asking too much? Apakah saya terlalu banyak meminta? Berkali kali saya bertanya kepada diri sendiri. Tidak yakin tertuju kepada otak atau hati nurani, yang pasti keduanya berakhir dengan jawaban TIDAAAAK! Phuih, saya benar-benar berteriak “tidak.” Bukan otak atau hati nurani yang menjawab, tapi mulut saya… Siang hari terik – untungnya saya ada didalan coffee shop berudara sejuk, sialnya penuh dengan orang-orang yang asik menghabiskan waktu – saya berteriak dengan suara nyaring dan agak memekik. Nyata benar, saya frustasi. Tahun ini saya genap berusia tigapuluh tahun lumayan riskan bagi gadis-gadis sedunia, bahkan buat negara barat maju yang mendengungkan emasipasi. Riskan? C’mon, jangan pura-pura! Semua juga paham maksud saya. Riskan untuk tetap sendiri. Single. Jomblo. Belum kawin. PUAASSS. See, sejak dua tahun lalu, orang-orang sibuk melontarkan pertanyaan itu, seolah saya mengidap penyakit tertentu sehingga saya masih sendiri. Bahkan ayah saya dengan berbagai cara yang tidak dia sadari, berhasil merusak hari berkunjung kerumahnya di akhir pekan. Datang dengan pacar, dia cetuskan pertanyaan itu. Apalagi saya sendirian – asyik berjoged didepan acara TV ayah muncul dipintu kamar “kamu ga kepikir kawin?” that’s it! Tamatlah riwayat Beck dengan Odiley-nya. Pop, I was in the mood…. Am I asking too much? Bukan, bukan saya trauma, hanya saja setelah hubungan serius yang terakhir saya belum memulai lagi. Wong belum ada yang pas, tapi saya menikmati hidup. Saya berkencan sambil mencari. Saya juga tidak berkencan karena bosan mencari. Selama masa eksplorasi itu banyak hal yang saya pelajari. Bukan saja tentang pacar lebih kepada arti hubungan yang saya inginkan. Tidak pernah saya tetapkan kriteria khusus seperti cowo berwajah super keren, gaya masa kiri, dengan perut six packs. Tapi kemudian ajakan kencan datang juga dari makhluk seperti itu. Perkenalan singkat dilanjutkan dengan obrolan telfon. Sayangnya terlalu singkat karena dia harus mengunjungi New Zealand dalam rangka syuting produk lelaki (hmm…hmmm…bintang iklan!) Dia yang memilih tempat untuk merayakan kepulangannya. Saya setuju tanpa menancapkan target apa-apa. Toh, kami belum pernah bicara banyak sebelumnya, mungkin ini saat yang tepat untuk saling mengenal. Step 1, goin’ smooth…. Dia tau tempat yang bagus. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak bersuasana romantis-saya selalu terintimidasi dengan suasana romantis. Seperti yang sudah lewat, topic pembicaraan hanya yang ringan-ringan. Misalnya, album anyar DJ anu, tempat fitnes baru anu, alasan Stefano Gabbana dan Domenico Dolce bercerai, and so on… It’s start.
“Jadi kamu suka Selandia Baru?” tiba-tiba saya nyelutuk. Dia mengangkat wajahnya “Kenapa?” Saya ulangin pertanyaan, “Ya, cerita dong pengalaman shooting di Selandia Baru.” Tatapan aneh muncul di wajahnya. “Aku gak pernah ke Selandia Baru, shooting-nya kan di New Zealand. Kamu tau, dekat lokasi shooting-nya Lords of the Ring…bla..bla..bla…”
Saya tercekat, termangu, terpana, ter…. Good God, help me on this… Pandangan saya agak buram tapi masih terdengar sekilas ceritanya tentang rumah-rumah Hobbis (Hobbit, mungkin!) Makanan jadi terasa kurang bumbu. Atau lidah saya mendadak pahit? Bye, Hunk! Am I asking too much? Berikutnya terjadi setelah kencan dengan si Mr. Universe. Yang ini dandy, gaya yuppies berkantor di kawasan Sudirman. Hehe, saya cukup beruntung (mungkin…) Si “wall street” ini berkutat dengan jual-beli saham, memantau pasar modal dan sebagainya yang saya tidak mengerti. Untungnya, dia punya wawasan tentang berbagai hal di luar itu. At least, dia paham benar persamaan New Zealand dan Selandia Baru. Seperti umumnya yuppies, dia punya jadwal yang sooo “Sudirman.” Lunch di mal, ngopi di coffee shop trendi (kopinya juga aneka cita rasa), billiard after office hour, dugem di jumat malam,. Sedikit sombong, tapi saya pikir biasa. Tipikal anak gaul sekarang. Saya sendiri masih mengulur waktu kencan, takut menemukan keanehan yang bikin malas bertemu lagi. Beberapa kali kita bertemu makan siang di sela kesibukan kerja, tapi bukan kencan spesial yang direncanakan. Sampai dia mengajak dan saya mengiyakan. Pilihannya jatuh ke suatu café yang cukup wah di kawasan Kemang. Kebetulan di antara bejibun café disini, saya belum sempat menjamahnya. Masih gres dan agak ngeri dengan daftar harganya. Mungkin terlalu padat buat kencan pertama, namun saya terhibur melihat wajah-wajah yang tidak asing di majalah Life Style. Party goes bertebaran…Hehehe… Buat saya lebih asik melihat gaya socialite-socialite ini ketimbang sosok pemain sinetron. Merka lebih “wild,” gak jaim dan lebih seperti orang biasa dengan outfit dan aksesoris yang mengenyangkan mimpi saya akan barang kualitas bagus. They really have awesome taste…. Sejak masuk, si Yuppy ini sudah mulai dengan sapaan “hi” dan “what’s up” ke kanan-kiri, depan-belakang. Wait, dia gaul banget ya? Sekali dua kali, saya dengar ada yang menjawab. Hanya saja tatapan mereka tampak janggal. Mudah-mudahan saya gak salah kostum. Berikutnya kami duduk di meja, dan anak gaul ini masih sibuk memutar kepala-exactly like an automatic antenna rotator-sambil akrab menyapa. Way tooo much! Kami pun memesan. Belum sampai appetizer datang, saya sadar bahwa dia benar-benar melupakan saya. Obrolan tiba-tiba membahas tentang betapa akrabnya dia dengan si A pemilik 2 tanker, si B anak pemilik hotel anu. Saya menganguk-angguk, tapi detik berikutnya…. Dia benar-benar melesat pergi sampai hampir membawa serbet makan. “Sorry, bentar ya. Itu si anu, udah lama gak ketemu nih.” Saya masih bengong belum menjawab, dan memandang pelayan yang datang dengan main course lobster super gede penuh hiasan kembang. Ini lobster apa bouquet? Tiba-tiba ada suara berbisik ditelinga saya. Cowok botak putera pengusaha anu bertanya dengan suara pelan dan dalam “Maaf, kebetulan kami agak lupa. Boleh tanya nama teman kamu?” Saya menjawab pelan (persis seperti murid ketahuan nyontek) dan tampaknya dia kurang mendengarnya. Saya ulangi lebih keras. Si Botak menoleh ke teman-teman semejanya. Mereka berpandangan lalu satu sama lain mengendikkan bahu. Damn, saya paham benar maksa shoulder shake itu. Mereka tidak kenal teman kencan saya. Selanjutanya, bisa diduga, saya putuskan tidak bertemu lagi. Apalagi berkencan. Mungkin that New Zealand guy even better. Am I asking too much? Apa benar saya terlalu banyak meminta. Apa saya terlalu pemilih? Saya tidak pernah punya tipe khusus apalagi punya standar tertentu. Saya sendiri tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Saya percaya dengan proses. Cenderung mengagungkannya. Saya sadar betul, proses butuh waktu dan saya menikmati tiap menit yang berlalu, bahkan ketika saya menjomblo. Tidak semuanya indah karena saya juga merasakan kesepian, keceburuan dan kebosanan. Ironisnya, semua perasaan itu juga saya rasakan saat saya berpasangan. Bitter sweet, proses ini saya jalani. Am I asking too much? Saya jadi menimbang lagi. Wajar kan kalau saya suka cowok pintar dengan wawasan yang luas? Atau cowok rendah hati dan apa adanya? Apalagi kalau cowok yang tegas dan berpendirian kuat? Saya pikir semua cewek juga suka dengan cowok dengan kriteria tersebut. Itu bukan tipe, tapi lebih kepada kualitas. Tapi kalau boleh menambahkan, saya juga suka sama cowok dengan penampilan kasual gak neko-neko plus parfum beraroma sporty. Paduan sedikir sandalwood, sedikit cyprus, bergamot, tapi tidak terlalu spicy. Dan tidak bernuansa musk…
Am I asking too much? Maybe I am.
July, 2005
*Catatan Fire Fly: The writer is my closest girl friend. Dia ada di dalam beberapa tulisan saya, baik berupa nama maupun penokohan. |