Girls' Story
“Ya, aku sudah dengar berita itu” Tutur Rosya dengan raut muka geram Ah, rupanya berita yang baru saja kusampaikan bukan berita baru lagi. Aaahh..sedikit melegakanku, karena aku mungkin tak tahu reaksi seperti apa yang akan dia perlihatkan, seandainya aku lah yang pertama kali menyampaikan berita buruk ini. “Maaf, aku baru menyampaikannya sekarang, karena baru hari ini kita bisa bertemu langsung. Aku tidak ingin menyampikannya melalui telfon. Lagipula kamu pasti tau, berita seperti ini bisa jadi hanya gosip saja. Dan aku juga tidak melihat kejadiannya secara langsung” ucapku lirih, sambil terus menatap raut mukanya dengan cermat. Kupilih semua kata sehati-hati mungkin. Kami terdiam. Musik lembut mengalun dari speaker di langit2 café tempat kami bertemu hari ini. Ku aduk pelan es kopiku dengan sedotan. Rosya menerawang di sampingku. “Aku akan bercerai” tiba-tiba saja Rosya berkata sengit. “Hmmm….” Gumamku sambil mengambil sebatang rokok dan mengetuk-ngetukkan ujungnya. “yah, kalau kamu fikir itu jalan terbaik” kataku berusaha terdengar sebijaksana mungkin. Kupikir tidak ada gunanya mendebat saat ini, emosi marah jelas sekali sedang berada di udara sekitar ku. “karena tidak ada gunanya mempertahankan perkawinan yang sudah ternoda! Semua perjuangan selama ini, tidak ada artinya lagi. Semua usaha ku untuk meyakinkan orang tua ku agar mau menerimanya sebagai pilihanku… Semua! Has no meaning at all!” kali ini Rosya mengatakkannya dengan mata memerah. “fokuskan pada masalah yang sebenarnya, Ros” aku rasa kata-kata yang baru ku ucapkan tak akan masuk ke gendang telinganya, karena matanya nampak menerawang. “cinta itu indah di awalnya saja, kamu tau itu! Setelah semua terasa manis, sisanya hanya pahit” Ina mengatakannya dengan berapi-api, sorotan mata orang yang sedang cedera berat. Setelah aku yakin secara fisik dia baik-baik saja, jadi aku yakin hanya hatinya yang sedang cedera. “dia tidak ada istimewanya. Tapi kenapa aku jatuh cinta padanya?!” Rosya meneruskan, masih dengan nada yang sama. Rupanya red wine telah membuat otaknya berkerja lebih lamban. Pertanyaan yang sungguh tak akan bisa kujawab. Siapa sih yang jatuh cinta pada suaminya? Pasti bukan aku. “kamu perlu waktu untuk berfikir Ros. Sudah sebulan sejak hal itu terjadi,kamu belum mengerjakan pekerjaan rumah mu yah untuk memikirkannya. Terbawa emosi seperti ini hanya akan lebih menyulitkan” “I don’t know what to do” ucapnya memelas. “Kamu tau kan, ini hal yang sangat berat untuk diputuskan?!” “I know” jawab ku singkat, dengan nada memberikan dukungan. - oOo- Pagi-pagi sekali Zandra sudah tiba di apartementku. Dengan mata setengah mengantuk, aku tertegun memandangnya berdiri lunglai di depan pintu menjinjing tas kecil. “aku putus…dengan pacarku” tanpa basa basi Zandra membuat pernyataan yang langsung membuat ke-5 indraku benar-benar terbangun. “jadi kupikir aku menginap di tempatmu saja, untuk menghindarinya” ucap Zandra sambil melangkah masuk, tanpa perlu kupersilahkan lagi. “melarikan diri eh?” tanyaku sambil menyeringai “pasti ada yang tidak sudi dipecat, dan itu aku yakin bukan kamu” tebak ku tanpa perlu berfikir “ada masalah dengan kesehatannya, tidak bisa kuhindari, demi masa depanku” jawab Zandra sambil lalu. Ku lihat dia lebih sibuk membuat kopi, dari pada terfokus dengan pertanyaanku. “yah, jomblo lagi nih” katanya mengehala nafas. pernyataan yang ditujukan lebih kepada diri sendiri. Terdengar santai, tapi aku tau hatinya sakit. “oh well, welcome to the club” kataku lugas, mungkin akan membawanya sedikit ke realita bahwa dia tidak seorang diri. Ku perkirakan tidak sampai besok, Zandra sudah akan mengungkapkan dengan detail permasalahannya. Kepribadiannya yang sedikit tertutup, membuat ku tidak ingin bertanya lebih banyak. Seperti bom waktu, senyap pada detik-detik awal, klik.. klik..klik…dan kemudian meledak dengan suara yang keras pada waktunya. “kamu sendiri bagaimana, Kay?” zandra bertanya padaku. Meletakkan secangkir penuh kopi susu yang mengepul tepat di depan hidungku. Pasti tentang pacarku yang terbaru, ia ingin tau. Membandingkan hidupnya dengan hidupku, sambil berharap bahwa ada orang lain yang sama merananya, mencari dukungan seorang teman yang dekat dengannya. “yaaah hmmm..dari dulu juga kamu tau, terlalu banyak ikan di lautan untuk dipancing” kali ini aku nyengir untuk menggodanya “hedoisme eh? Tidak pernah berubah!” salak Zandra, bibirnya telihat maju beberapa senti “just kidding, girl” aku tergelak. “well, yeah ada seseorang yang aku fikir my prince charming” kata ku manggut-manggut. “tapi mungkin hanya frog prince” tak ada kata-kata yang lebih baik untuk si pangeran, kecuali menyebutnya pangeran kodok pikirku, sambil menyalakan sebatang rokok. “bagaimana dengan Benny? Penyihir juga telah merubahnya menjadi kodok kah?” Zandra mulai nyinyir “arrghh itu sudah 6 bulan lalu, Zan, basi!” sahutku sambil memutar-mutarkan mata, ekspresi yang aku ingin ia mengerti sebagai keheranan akan pertanyaannya pada sebuah nama yang seolah-olah sudah tidak ada dalam agenda ku sejak jaman firaun. “lagipula pangeran tampan mana sih yang tidak berubah jadi kodok setelah beberapa tahun” ujarku dengan sinis. Dan kami berdua tergelak, sejenak melupakan bahwa mungkin pernyataan ku adalah sebuah kenyataan. “aku tidak tau siapa lagi yang harus aku pacarin. Mungkin andy cukup menghibur saat ini. Semalam dia meminta aku jadi pacarnya” Zandra berkata dengan mimik serius “kamu suka padanya?” tanyaku dengan enggan. Pertanyaan yang sudah ku tau jawabnya. “tidak” jawab Zandra. nah kan aku sudah tau, kataku dalam hati seolah menyalahkan diri sendiri atas pertanyaan tolol ku. “tetap Andre yang ada dalam hatiku” ah pacar lama yang masih ada di hati, pikirku. “kalau begitu kenapa kamu tidak nikah aja ama Andre?” tanyaku gemas “masalah prinsip tetap jadi kendala, kamu juga tau. Aku sudah berusaha mencoba lagi, tapi tetap tidak ada perubahan.” Zandra terdiam, aku pun tak sanggup mengelurkan sepatah kata lagi. Otak ku bukan tidak sanggup mencerna lagi, tapi kegamangan menghampiri Zandra dan aku. Dan disanalah kami terdiam. Sampa pada suatu titik, dimana usaha ku sia-sia untuk menterjemahkan sebuah lagu yang liriknya sudah ku kenal baik.. “can you fire melt her ice. Seasons change, you cry in silence for the love you can not live without. You've done your best, you tried your hardest the time has come, be strong, give it up. All you need is a clear horizon….Clear horizon....” -o0o- “…..jadi gue saat ini memang tidak menginginkan satu pun cowo dalam hidup gue, Kay, hahaha. Uang lebih penting buat gue” teriak Oryn sambil menggerakannya telunjuk dan jempolnya sedemikian rupa. Hingar bingar musik di café, membuat kami harus berbicara lebih keras. Sahabatku Oryn yang mandiri, men hatred, dan sangat menyukai riasan gothic melengkapi gaya tomboynya. Caranya memperlakukan semua pria dalam hidupnya, kupikir sangat unik. Caranya mendeskripsikan pria hanya sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan tanduk, tak kurang tak lebih. Upayanya untuk terlihat kuat dan begitu keras terhadap diri sendiri, tak lebih dari pelarian entah karena alasan ditinggalkan atau tidak adanya kemauan untuk berkompromi. Mungkin ia pikir kompromi adalah kekalahan bagi ras perempuan di muka planet ini. “what happen to Mr. Crully?” pria berambut keriting yang pernah beberapa kali Oryn sebut dalam pembicaraan kami. “Huh! Udah kelaut! Gue pikir dia lebih suka pergi ber-karaoke bersama teman-temannya dari pada bersama gue. Jadi gw sms dia, I said bye! Dia pikir dia siapa?!” -o0o- Begitu sulitnya kah mencari lelaki yang tepat di zaman sekarang? Saat banyak makanan-makanan instan dijual di supermarket, tekhnologi yang sudah sebegini canggih dengan fasilitas internet untuk mengirim e-mail dalam waktu sangat singkat, dan semua orang yang nampaknya terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari dengan mobil terbarunya yang buatan korea? Sedemikian sibuknya, sedemikian banyak fasilitasnya. Tapi tak ada satupun pasar yang menjual lelaki. Bursa lelaki? Aku berkhayal, mungkin suatu hari nanti semakin sulitnya komunikasi antara laki-laki dan perempuan, menyebabkan terjadinya market demand untuk mendapatkan lelaki dengan cara cepat. Mungkin ada semacam chips yang ditanamkan di otak mereka, agar bertindak sebagaimana yang diinginkan pembelinya. Lelaki yang romantis,selalu ingat untuk memberikan bungan mawar di hari ulang tahun. yang smart, mampu berbiacara dalam bahasa yang digunakan sesuai tingkat kecerdasan pasangannya. yang jantan, perduli pada kepuasan pasangannya di tempat tidur. yang tegas, mampu mengambil keputusan diantara beberapa pilihan yang sulit. yang mau mendengarkan keluh kesah pasangannya, saat perempuan merasa perlu menumpahkah segala kekesalannya akibat harus mengantri di supermarket. atau entah apalagi tuntutan perempuan. Tuntutan yang ada karena tak terpuaskannya keinginan untuk dipahami atau ketidak inginan untuk dipahami. Sahabat-sahabat perempuanku, Rosya yang dikhianati, Zandra yang berada ditengah-tengah kebimbangan, Oryn yang kecanduan kerja dan menganggap laki-laki sebagai pelengkap hidup saja, mungkin sebagai perwakilan dari para perempuan yang hampir lupa pada arti religius seorang laki-laki...yang seharusnya melindungi, fisik maupun hati perempuan. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa mereka diciptakan dari tulang rusuk laki-laki? Or it is just because we ask too much to that creature…rather than try to accept them? Aku tidak mengajak siapapun yang membaca tulisan ini untuk mengusung bendera Girl Power, atau membuat perempuan berpikir untuk mendirikan klub men hatred. Karena tulisan ini akan menjadi terlalu berat. This is just a simple article, conversation between my girl friends and i. Ungkapan hati. …..the darkest night is slowly fading and the sun will come out to blind your eyes.could it be a new beginning? Trust yourself - you're an angel, you can fly. Trust yourself…you’re an angle you can fly....... |
hmmm... ampe sesak napas bacanya, klinkt echt lieverd of is het echt waar?!
comment *sigh*