.:: Tanpa Seribu Bahasa ::.
Diem. Kadang diem itu paling enak. Matikan semua emosi, semua rasa. Just diem...in silence. Beberapa hari lalu, bisa dibilang-- I made a tough decision. I quit from my -- devil advocat-- company. I also heard such a BOOMbastic news. A second after, I killed all my emotion. Looked cool...I was just smiling and saying: "OK. anything else Ma'am?" Dalam diam, gue berpikir: apa standart kuliatas hidup gue?" -- Bangun pagi-pagi buta, mandi buru-buru, sarapan seadanya lalu ngebut di jalan on the way to my office. Pulang malem--cuman sempet ganti baju, bersihin muka, chatting sebentar dan plug! ngiler di bantal gue. 5 days/week! Juma'at malem mabok ampe tengah malem di cafe..pulang belerz. W'end--pilih di rumah! Tidur seenak udel- chatting ampe mabox! Monday--begitu lagi. Gaya hidup hedoisme korban urban city. Beuh! Tiga bulan ini gue ngerasa udah nyueqin temen-temen gue...i dont think i have a social life with peeps that i like anymore! I was living in hell! I might a work-alcoholic.
OK. back to diam. Diam...diam...diam.. Hentikan sebentar langkah--hirup udara yang banyak--bikin teh susu anget. Gue mau apa sih? Ternyata gue pengen a simple life. Kunang-kunang ga indah dipandang seorang diri. Gue butuh seseorang untuk bersama-sama memandang kunang-kunang. As a matter of fact, apapun yang gue pandang looks even prettier when my love one beside me. Hey , kamu...! Saat ini gue mungkin sedang "diam." Tapi bukan berarti gue ga tau apa yang gue inginkan! (ugh i miz him)
Ps. Ga ada kamu, gue ga bisa se-tenang ini. Tanpa kamu gue mungkin udah ilang arah. Thank you to be there for me. You mean a lot. |