Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Saturday, May 07, 2005

..: An Alien :..
(Kunang-Kunang part II)

Hari ini…aku melihat “Kunang-Kunang” lagi. Aaah….aku tersenyum sambil merentangkan tangan – menikmati rasa “bebas” ini. Aku dapati awan kelabu…angin membuat rambut panjangku terbang ga beraturan. Aku tau aku akan demam kalau berlama-lama disini. Tapi – kecuali gempa bumi – ga akan ada yang bisa bikin aku melangkah pergi dari tempat ini. Belum banyak kunang-kunang muncul, baru satu-dua berwarna kuning keemasan. Aku teringat pada Tj, Ken, Hery, Andy …silih berganti pikiranku melayang pada flash back tentang mereka. Tanpa bermaksud membandingkan…tapi mereka memang jenis kepribadian yang berbeda. Samar-samar kunang-kunangku semakin banyak….seiring dengan menghilangnya semua nama-nama itu. Tapi satu nama lain tiba-tiba muncul dengan kuat….wajahnya memenuhi sel-sel otakku yang kelabu seperti awan. Satu orang….lagi…..

“apa alasan kamu memilih dia?” tanya laki-laki yang berada disampingku sambil menyorongkan segelas minuman. Ku ambil gelas kecil itu dari meja—menggantinya dengan kakiku yang naiik dengan santai.

“karena dia ”laki-laki” kataku setengah merenung. Hening beberapa saat. “dia tau apa yang dia mau, dia berani mengutarakan apa yang dia mau – dan yang terpenting dia berani mewujudkannya..” lanjutku. Laki-laki ini masih menunggu. “Sikapnya…dia hmm lelakiku.” Sampai sini aku ingin diam.

“Akhirnya “bidadariku” luluh juga…hahahaha. Dua tahun aku kenal kamu, kesannya kamu tuh ga butuh laki-laki.”

“Karena waktu itu mereka bersikap ga ingin dibutuhkan…why should I need them? yang ini…dia ingin dibutuhkan, ingin disayangi, ingin dimengerti..”

“Dia bermakna sekali buat kamu ya?”

“Rez…kamu lihat lampu berwarna-warni diseberang sana? Bersama dia, itu bukan sekedar lampu.”

“Lalu apa itu?”

“Rahasia” kataku sambil mengedipkan mata. “aku pernah punya obsesi – berharap ada yg bisa mewujudkannya….dan dia yang kebetulan bisa. Memandang semua ini…….” Kataku sambil berdiri dan merentangkan lebar-lebar kedua tanganku.

“Hmmm apa yang istimewa dengan “semua” ini?”

“Aaaahhhh…..ini istimewa sekali. Bercinta dengan “semuaaa” ini. Segala-galanya buat aku. Salah satu rahasiaku dalam memandang dunia….dan dia bukan sekedar tau rahasia ini – aku bahkan berbagi dengannya.”

“Aku ga ngerti….tapi apapun itu – mendadak kamu sedih sekali.”

Aku kembali duduk…menyeruput isi gelas sekali lagi dan menekuk kaki-kakiku yg mulai kedinginan.

“Kenapa dia pergi?” tanyanya.

“Karena dia ingin pergi….”

“Ya, tapi kenapa?”

“Karena dia mau tau dunia ini seperti apa…..dia sedang belajar memahami apa arti hidup…”

“Kenapa tidak kamu ajari dia?”

“Biarkan dia belajar sendiri….biar dia sendiri yang menyadari dunia di luar sana itu seperti Kunang-kunang – hanya indah dipandang dari jauh.”

“Kamu tidak menahannya pergi?”

“Gak. Mencintai adalah memberi kebebasan untuk memilih. Buat kita yang sudah tau dunia luar….akan sangat menghargai apa yang ada sekarang – the best thing we ever had is what we have now. Bukan mencoba mencarinya. Bukan terobsesi olehnya. Suatu hari dia akan menyadarinya – tapi biarkan dia memilih.”

“Kenapa tidak biarkan dia mengagumi mu?”

“Karena…aku ingin dikagumi karena aku. Bukan karena aku bersikap pura-pura. Seperti mawar, wangi tapi berduri….tanganmu kena duri? – itu resikonya! Kalau ga ingin kena duri, petik aja bunga jelek di pinggir jalan! Sekali lagi – biarkan dia memilih.” Kata-kataku meluncur cepat. Satu regukan besar minuman menandai kegelisahanku.

“One more shot?” tawarnya. Tanpa menunggu jawabanku, dia masuk kedalam. Terdengar bunyi sendok berdenting.

“Kocoookk…bukan aduk!” teriakku

“Yaaaa…hahahaha…sorry, lupa.” balasnya.
Langit gelap seutuhnya, tanpa berliannya sebutirpun. Tiba-tiba aku ingin terbang…. Aku berjalan mendekati pagar balkon…memandang kebawah….memandang gedung-gedung dan jalanan padat. Memandang langit dan memejamkan mata -- tenggelam dalam kenikmatan. Terbang…dan melayang….pikirku.

“Apa sebenarnya yang indah sih?” tanyanya membuyarkan keinginan terbangku. Berdiri tepat dibelakangku, tangannya sudah melingkari badanku..seolah-olah dia tau niatku.

“Kamu tau….biasanya kalau sudah begini, aku grusak-grusuk masuk kepelukannya. Dia akan bilang: ‘manja amet sih!’ Hahahaha…tapi aku tau dia senang karena merasa dibutuhkan.”

“Lalu?” hmm…bau after shave laki-laki ini tercium olehku

“Lalu aku akan memandang sambil membela-belai pipinya. Sekali lagi dia akan membentakku: ‘apaan sih liat-liat! Risih tau!’ Hahahaha…dan aku akan bilang: ‘Sayang sama kamu’.”

“Wow….cara kamu mendeskripsikannya begitu cerdas.” Katanya sambil melepaskan tangan dari pagar balkon dan menarikku kembali ke sofa. “Kamu sayang dia ya?”

“Sangat.”

“Kamu ingin bersamanya lagi?”

“Hmmm…aku…aku gak tau.”

“Aneh…sayang tapi…”

“Rasa sayang dan rasa ingin memiliki itu dua hal yang berbeda.”

“Hey..hey..jangan sedih begitu.”

“Kamu tau apa yang paling bikin aku sedih? Dulu aku tau persis apa yang aku mau dari dia. Sekarang aku ga tau lagi.”

“Kenapa ga tau?”

“Karena lelaki-ku ga tau apa yang dia mau. Dia dulu jadi lelaki-ku karena dia bersikap seperti laki-laki – tau apa yang dia mau – berani mengutarakan apa yang dia mau – berani mewujudkannya …malamarku walau mungkin belum benar-benar siap. Tapi waktu itu dia jadi laki-laki. Aku mencintai sekaligus ingin memilikinya.”

“Bedanya dengan sekarang?”

“Hmmm itu yang bikin dia istimewa, that was my MAN! “Takes more than combat gear to make a man. Takes more than a license for a gun. Confront your enemies, avoid them when you can. A gentleman will walk but never run.” Kataku sepenuh perasaan.

“ooo…I’m an alien…I’m a legal alien…I’m an English man in New York….” Aku dan dia berbarengan menyanyikan lagu Sting – Englishman in New York. “be yourself no matter what they saaaayy….Hahahahaha….”

"A gentleman will walk but never run." kataku mengulangi

“yupe rite" sahutnya. "But he ran, itu yang bikin kamu mencintainya, tapi ga ingin memilikinya....."

“Kalau sekarang, apa bedanya dia dengan laki-laki lain? Banyak laki-laki tapi tidak bersikap seperti laki-laki. Mereka lari saat berhadapan dengan masalah. Lalu apa fungsinya laki-laki?! Apa kejantanan hanya diukur dari kemampuan penis kalian memuaskan ditempat tidur?—Kelelakian diukur dari timbunan uang yang kalian peroleh? Haahahaha” kataku tertawa satire. Dia dulu berbeda. Dia dulu begitu ..begitu...hmmm begitu 'laki-laki'.”

“Buat kamu itu ga penting?”

“Bukan ga penting! Tapi apa gunanya semua itu, kalau laki-laki berhenti bersikap seperti laki-laki?! Kataku emosi. Lawan bicaraku diam. “Ah entahlah…..mungkin dengan bersikap begini, buat dia adalah salah satu cara untuk membuktikan rasa cintanya” lanjutku getir.

“Oh. Aku pikir, yang memiliki kamu sungguh beruntung.” Katanya sambil memopangkan tangan. “Kamu perempuan yang gampang diatur…asal dia jujur dan bisa ‘menjaga’ hati kamu. Kalau dia tau, gampang sekali hidupnya.”

“Oh. Katakan itu padanya.”

“Gak ah, seperti kamu bilang..biarkan dia tau sendiri. Biarkan dia cari sendiri.”

“Ya. Let him find the way.” Kataku sambil memandang kunang-kunang berwarna merah-kuning-ungu. Follow the fire-fly…you will find me…..

“Kamu mau nginep disini malam ini?”

“Gak. Aku harus pulang.”

“OK. Aku biarkan kamu memilih.” Katanya tersenyum penuh arti.

“Yeah…biarkan semua orang memilih.” Kataku sambil bangkit dari sofa. “Tapi yang jelas….aku sudah memilih Kunang-Kunangku.”

Sekali lagi aku pandangi “hamparan padang” kunang-kunang. I’ll be back….don’t worry. Maybe, if I’m that luck…I’ll brought you a gentleman that I love…..a gentleman who never runs anymore.

posted by fire-fly @ Permalink ¤4:08 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home