Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Sunday, May 15, 2005

.....Blowing My Mind!

Baby you’re mine. You are blowing my mind. We are two of a kind. Baby, you’re mine.... Syair lagu penyanyi Jazz, Basia, tiba-tiba terngiang di telingaku. You are blowing my mind…meledakkan pikiran dengan sekali hantam! Itu kata-kata yang sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana arti kehadiran laki-laki ini. Bagaikan sebuah snap shoot. Hanya sekejap, namun mampun meluluh lantakkan. Tiba-tiba semua yang ada di diriku meleleh--jantung menghentak, namun tidak bergemuruh--perut mendadak ngilu. Ada desiran sesuatu dalam tubuh yang merayap pelan-pelan, dari bawah ke tengah, dan berhenti tepat di dada. Ingin rasanya aku mengabadikan kejadian ini dalam gerakan slow motion. Walaupun hanya beberapa detik, namun rasanya inilah selamanya. Karena tiba-tiba dunia berhenti berputar. Dan semua orang mungkin membeku pada saat itu.

Kami berada di depan pintu lift hotel tempat sahabatku bermalam. Rapat yang berlangsung dari pagi hingga petang, hanya memberikan kami waktu untuk bertemu pada pukul sebelas malam. Aku sempatkan melongok keluar lewat jendela yang amat besar dari lantai sembilan. Begitu besarnya jendela itu dengan ornamen berwarna warni cerah disekelilingnya membuatku berpikir pintu itu seperti menuju ke suatu tempat yang sangat indah. Malam itu tanpa bintang. Namun aku masih bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang memang tampak menjulang ingin menyentuh langit. Namun langit malam seperti tak akan pernah tersentuh, terlihat lebih gelap dari terakhir kali aku memandangnya. Aku merasa sangat kecil dan ringkih di antara bentangannya. Awan kelabu sepertinya menutupi sinar bulan yang indah. Dingin. Sahabatku mengajak ke café hotel yang berada di lantai dua. Sop buntut hangat tentu mampu menepis rasa dingin ini. Jam sebelas malam? Aku tidak perduli. Walau Jane Fonda sekalipun yang menghiba untuk mengasihani tubuhku yang akan menerima asupan lemak dari sop buntut di tengah malam buta, tidak akan menyurutkan langkah kaki yang sudah mantap. Mungkin lebih tepatnya langkah kami. We are starving! And we can eat a horse!

Sitting there and feeling lonely. Had my blue eyes for you only. Suddenly you turned around and smiled at me. Pintu lift terbuka setelah beberapa saat kami menunggu. Dengan terbahak kami memasukinya. Cerita tentang lelaki konyol yang dikencani sahabatku seminggu lalu menjadi bahan lelucon kami yang paling mutakhir. Sepertinya kami memang sahabat yang menjadi belahan jiwa. Dan celakanya! kami memang terlahir sebagai penghujat. Untungnya kami tidak pernah berebut untuk menghujat lelaki yang sama. Selera kami berbeda. Tapi selalu ada lelaki yang pantas dihujat dalam segala bentuknya. Mungkin kami sama-sama berpikir 90% lawan jenis adalah yang masuk kategori brengsek, 9% berotak bodoh, dan sisanya adalah paduan keduanya, brengsek dan bebal! Dan kami dua perempuan yang keras kepala dan sinis.

It wasn't my imagination. Had no doubt no hesitation. When it comes to love I know where I wanna be. Di dalam lift telah berdiri seorang lelaki. Dia yang ku sebut diawal cerita. Kami hanya bertiga. Dia berdiri tepat di depan tombol lift, aku malangkah dibagian kosong sebelah kanan, dan sahabatku berada ditengah bagian belakang bersandar pada dinding lift. Kami, saya dan dia, berhadapan. aku datang, aku melihatnya, dan aku terpana! Ada pancaran aura dari dalam dirinya yang sulit aku jelaskan. Aura itu begitu kuat, begitu menggoda dan alam bawahku terpanggil untuk memandangnya. It’s a quiet moment. Adegan slow motion terjadi. Seperti ada ribuan kamera yang merekam semua kejadian dari segala angle dengan pelan dan sunyi, bergeser satu senti setiap seribu detik. Aku pikir seluruh jagad raya pun terdiam dan ikut menyaksikan adegan ini. Pengambilan gambar ini dimulai dengan mengarahkan mataku pada bagian paling bawah.

Is it real or am I dreaming. I've been waiting light years for someone like you. Can't believe you are here with me. Hal pertama yang tertangkap oleh “kamera” adalah sepasang sendal sporty terbuka pada bagian depannya yang menjejak lantai lift.. Bergerak pelan dan mantap semakin ke atas, satu senti, dua senti…sepuluh…tampak tungkai kakinya yang langsing, berbulu di sana sini. Merayap ke atas aku menangkap ujung celana khaki nya yang selutut, berwarna coklat tanah, terdapat kantong luar di kiri dan kanannya. Semakin mendekati tujuan, aku tak dapat menahan diri untuk menatap bagian tengahnya sepersekian detik lebih lama dari bagian bawahnya.

Nafasku tertahan. Tak ada udara masuk ke dalam paru-paru, akibatnya aku sedikit tersengal. Dengan sedikit hentakan lembut saat mengeluarkan nafas, aku kembali terfokus untuk melanjutkan perjalanan pada tubuhnya. Seolah-olah aku mampu melihat menembus tubuhnya tanpa terbungkus pakaian, tanpa terbalut kulit, hanya dirinya utuh.

Aku melihat ujung kausnya yang berwarna jingga. Mataku yang mungkin berbias warna jingga, sampai pada bagian perutnya…dadanya… Dan tepat satu senti dibawah wajahnya. Sampai sini, tubuhku mulai menggigil. Entah karena udara malam yang dingin ditambah hembusan molekul dingin air contidioner, atau karena lelaki ini telah membuatku membeku. Tak sadar, aku merapatkankan jaket jeans hitam.

I've got you and I can't hide it anymore. I want the world to know that… “Kalau udara dingin, perut terasa lapar ya” Hah! Makhluk ini bersuara. Tepat disaat yang tidak tepat bagiku untuk dapat memahami kalimat pernyataan, mungkin pertanyaan yang sederhana tersebut. Jangan tanya apa makanan kegemaran ku. Jangan tanya lebih jauh arti dari break even point yang sudah menjadi dasar berpikirku. Otakku bisa keriting! Dan jangan tanyakan apa aku mau makan bersamanya, karena aku yakin secara reflek akan menganggukan kepala dengan cepat. Terlalu cepat sehingga siapapun akan tahu, aku tidak perlu berpikir dua kali, atau bahkan tidak berpikir sama sekali untuk menjawabnya. Diam sajalah kamu, batinku. Dan lututku pun mulai gemetaran -- tertangkap basah tengah dengan kurang ajarnya memandang semua bagian tubuhnya dengan mulus, hampir tanpa sensor. Hampir! Adakah bel yang dapat berbunyi saat ini juga untuk menyelamatkanku? Bel apa saja, tolonglah…. Walaupun bel tanda kebakaran. Walaupun bel tanda kematian. Aku tak perduli. Aku ingin menghilang. Bel..bel..bel…

Baby you're mine. You are blowing my mind… Tapi tidak ada satu bel pun yang berbunyi saat itu. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dari kepalaku, yang merutuk kata ‘bodoh..bodoh…bodoh…’ Aku tidak mungkin pura-pura tidak mendengar kata-katanya. Hanya ada kami bertiga didalam lift, dan tidak ada satu pun terdengan bunyi bom jatuh, bahkan tidak pula bunyi uang logam sekecil apapun. Jadi aku tau pasti, suara bariton itu keluar dari kerongkongannya dan ditujukan kepadaku. Kenapa sih harus aku yang tadi merapatkan jaket? Bodoh lagi! Karena sahabatku tidak mengenakan jaket. Dengan atau tanpa jaket, jelas aku yang tadi menunjukkan ekspersi kedinginan. Jadi dia benar-benar berbicara padaku ya, ratapku memelas. Jelas dia tadi memperhatikanku. Setidaknya dia tahu beberapa saat yang lalu mataku tidak sedang menerawang. Mungkin pula dia tahu pergerakkannya yang pelan dan merayap naik. Apakah dia tau aku telah terhipnotis karena auranya? Oh apakah dia tahu mataku yang tadi sempat terdiam di satu titik? Tolooonggg…bawa aku pergi, Martians! Culik aku dengan pesawat luar angkasa kalian!

We are two of a kind. Baby you're really mine…Dengan berat ku angkat kepala dari pandangan pada lehernya. Langsung ke matanya. Aku tidak mau malu dua kali dengan menyempatkan diri untuk menatap detil wajahnya. Walaupun aku ingin sekali menikmatinya lagi. Wajahnya pasti memiliki detil yang lebih banyak lagi untuk diamati. Matanya berwarna coklat tua dan masih memandangku, menunggu. Beberapa saat adegan ini bagai diambil dari sebuah kamera yang berada disebelah dalam dari suatu benda.....yang terkoyak pedang panjang -- tajam...menusuk masuk kedalam benda yang dengan cepat sekali terburai...menjadi serpihan-serpihan. Benda itu adalah hatiku!

Kepalaku hanya dapat mengangguk pelan, seperti ada tuas dibelakang leher yang hanya mampu bergerak sesuai dengan kemampuan tuas yang sangat terbatas karena tertahan sebilah besi. Diiringi suara lirih “iya” yang aku sendiri tidak mengenalinya, ku pikir suara itu keluar dari mulut seekor kodok yang kena radang tenggorokan!

Dia tersenyum. Aku membalas dengan senyum kecil, salah satu sudut bibir yang bergerak lebih tinggi. Tampangku pasti terlihat pasrah, tak dapat melakukan apa-apa lagi. Aku sempat melirik ke arah kanan, terlihat sahabatku yang sedang bersandar pada dinding lift. Sekilas aku sempat melihat sahabatku sedang memainkan salah satu kakinya di lantai, dengan cara diputar-putar. Seperti lagak orang yang tersipu-sipu. Huh! Kenapa dia? tersipu-sipu memikirkan sop buntut hangat yang lezat kah?

Now I see what I've been missing. It's the happiest girl you're kissing… Tak ada yang bisa aku lakukan lagi. Memandangnya sungguh tidak mungkin lagi. Pura-pura melamun hanya akan terlihat bodoh. Membetulkan jaket lagi hanya akan memperlihatkan suatu gerakan dibuat-buat. Satu-satunya cara mengalihkan pandangan hanya pada tombol lift berupa angka-angka yang menyala di nomer 1 dan 2. Lantai dua, tempat coffee shops. Pasti dia yang menuju lantai 1. Mau kemana dia ditengah malam seperti ini? Tempat makannya di lantai dua! Kenapa aku perduli, pikirku setengah memarahi diri.

Pintu lift terbuka. “silahkan” kata lelaki itu dengan sopan sambil membentangkan sebelah tangannya kearah pintu lift. “terima kasih” sahut sahabatku yang keluar belakangan. Seorang teman lelaki kami telah menuggu didepan pintu. Dengan tangan terbentang dan senyum lebar ia menyambut kami. Oh, apa pikir lelaki didalam lift itu…bahwa salah satu dari kamu telah memiliki kekasih? Aku telah memiliki kekasih? Bukan! Dia teman lelaki kami. Bukan kekasih, bukan pacar, hanya teman. Tolong katakan itu padanya. Sekaligus tolong katakan padanya permohonanku agar dia tidak melanjutkan perjalannya dengan lift. Hentikan lift itu! Jangan tutup pintunya. Biarkan terbuka dan melangkah lah keluar bersama kami. sop buntut itu pasti akan terasa hambar dibandingkan kelezatan dirimu.

Namun pintu itu tertutup dengan bunyi berdesir. Aku hanya dapat memandangi cerminan diri sendiri yang terpantul olehnya. Pupil mataku terfokus dan dapat melihat ada ukiran bunga dipermukaan pintu itu. Ukiran bunga-bunga kecil yang merambat, lengkap dengan daun-daunnya memenuhi. Lelaki itu telah ditelan lift.

“Aaarrrgghhh…” sekejap setelah pintu itu tertutup, aku menjerit tertahan dengan putus asa. Tapi tunggu, suara itu tidak hanya keluar dari kerongkonganku. Ternyata sahabatku juga mengeluarkan suara yang sama. Mukanya pun tampak putus asa. Kami berpandangan dengan wajah keheranan. Tapi satu lirikan yang kami lakukan secara berbarengan ke arah pintu lift, membuat aku mengerti apa yang sedang terjadi. “Lelaki itu…aaaahhhh” spontan kami berseru sambil menunjuk kearah lift. Dan kami tahu lelaki itu pasti telah pergi. Meninggalkan dua perempuan yang terpana dan putus asa. Si teman lelaki kami memandang dengan keheranan. Tak pernah kusangka kalau aku dan sahabatku bisa menyukai satu lelaki yang sama.....atau memang laki-laki itu begitu dasyat?! Dua penghujat lelaki ini dibuat begitu hilang akal!

Degup jantungku masih berdetak lebih cepat ketika masuk ke dalam café. Tiba-tiba tubuh terasa ringan, seperti ada beban yang lepas dari otakku. Sesuatu terasa mengalir di dalam tubuh, dari atas dan terus naik. Kemudian berhenti tepat di dada. Menyebabkan perasaanku melayang. Aku lirik sahabatku tersayang yang telah menemukan sofa empuk dipojok, nampak sibuk atau menyibukkan diri dengan menekan tombol-tombol pada telfon genggamnya. Aku pun tak mau berdiam diri, segera meraih telfon genggam dan mengetik beberapa kata yang dikutip dari syair lagu Baby you’re mine. “I've been waiting light years for someone like you. Baby only you can make me feel like this” ONLY YOU CAN MAKE ME FEEL LIKE THIS. Kepada siapa akan aku tujukan kata-kata ini? Oh, lelaki berbaju jingga, berapakah nomer telfonmu?

Hotel Treva,
Our incognito "sharing" moment, my beloved friend Andri.

posted by fire-fly @ Permalink ¤4:23 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home