Kunang-Kunang
Kemaren sore aku lihat ada kunang-kunang di Jakarta. Langit mendung…hujan turun gak lagi kecil-kecil. Dari gedung lantai sebelas awan terlihat berarak membentuk oval tak beraturan. Sebagian lazuardi tak lagi berwarna biru kelabu…tapi menjadi jingga…. Jingga…jingga… Langit kian temaram, semakin banyak kunang-kunang bertebaran. Warnanya tak lagi kuning tua…biru, putih, merah, hijau hinggap di gedung-gedung. Sekelompok kunang-kunang membentuk tulisan berwarna merah dan biru, besar dan terang…pasti sengaja menampakkan wujud seperti itu agar terlihat oleh orang-orang di jalanan. Aku memandang kunang-kunang dengan terkagum-kagum. Jingganya langit semakin memudar, terangnya kunang-kunang semakin beragam. Jangan bawa aku ke mount everest, jangan pula ke pataya…pemandangan ini tak ada duanya. Jendela sepanjang dinding ruangan terasa seperti sebuah televisi raksasa yang ingin menelanku atau menelan kunang-kunangku. “aku suka sekali pemandangan ini” kataku tanpa mengalihkan pandanganku. Laki-laki didepan memandangku sambil tersenyum. “ah, aku sudah bosan.” Katanya kemudian. Kugerakkan kepalaku beberapa senti untuk melihat wajahnya, dia masih tersenyum. Kupandangi lebih lekat… Dia, menenangkan. Wajahnya, berlatarbelakang gedung-gedung dan kunang-kunangku, tampak seperti sebuah pelabuhan kecil diluasnya lautan. Pasti dengan raut muka yang menakjubkan, aku kembali memandang televisiku. Perasaan ingin ditelan masuk benar-benar membungkam mulutku. Kunang-kunangku, hanya ada pada malam hari. Kunang-kunangku berwarna warni. Kunang-kunangku selalu ada setiap malam, kecuali kalo listrik satu kota Jakarta padam. Kunang-kunangku… Masih terpana, aku berpikir….kunang-kunang kecil sepertiku tak membutuhkan pelabuhan besar untuk berlabuh. Aku bergerak kearah laki-laki ini dan menciumnya sepenuh perasaan. Ps. Untuk almahum Umar Kayam, terima kasih cerpen-cerpennya yang sangat membuka hati. (terinspirasi dari cerpen “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” oleh Umar Kayam.) |