Resensi Buku
Cantik Itu Luka


Luka itu mengalir jauuuhhh….. Mengerti sekarang kenapa aku bilang “cantik itu luka?” Semua kelebihan yang kita punya, kecantikan-kekayaan-kecerdasan selalu mempunyai perimbangan buruk lain. Karena dulu, seorang teman pernah berkata padaku: “Tuhan itu adil. Manusia semua bernilai 10, kalau kamu dapat point 8 untuk satu hal, maka hal lainnya kamu hanya dapat point 2.”
“Cantik” itu luka….. Mencoba meraih sebuah hal saja menjadi obsesi, hanya akan menimbulkan luka. Karena inti hidup adalah KESEIMBANGAN. Tanpanya, “cantik” itu luka. Dan luka itu..mengalir jauh. Rangkaian Cerita Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dewi Ayu, anak Aneu Stamler atau cucu Ted Stamler. Dewi Ayu adalah anak perkawinan luar nikah dari dua bersaudara lain ibu. Namun kedua orang tua Dewi Ayu, Henri Stamler dan Anue Stamler meninggalkan Dewi Ayu begitu saja di depan pintu rumahnya dan mereka pergi angkat kaki ke negeri Belanda. Inilah awal kisahnya. Di zaman Jepang sebagian besar penduduk ditangkapi oleh Jepang, terutama yang dianggap pro Belanda, termasuk Dewi Ayu. Ia diasingkan ke sebuah pulau kecil yang seram dan terpencil. Pulau ini, Bloedenkamp, adalah sebuah tempat yang mengerikan dan menjijikkan. Selain dkenal angker, di sana juga tak ada makanan disediakan . Karena itu para tawanan umumnya memakan apa yang ada di sekitar mereka termasuk cacing, ular ataupun tikus. Kekejaman dan kehausan seksual Jepang di Bloedenkamp telah memanggil nurani Dewi Ayu untuk memberikan dirinya kepada seorang tentara Jepang untuk disetubuhi. Dewi Ayu sendiri, sebagaimana kenyataan di ujung Pemerintahan Kolonial Belanda, berada dalam kesulitan sosial dan ekonomi. Setelah mengalami kegetiran bersama penduduk di Bloedenkamp, Dewi Ayu bersama gadis-gadis lainnya dibawa diam-diam oleh Jepang ke tempat pelacuran Mama Kalong di Halimunda. Mereka dipaksa menjadi pelacur. Mama Kalong adalah germo yang paling terkenal dan profesional di sana. Namun pada masa berikutnya rumah pelacuran Mama Kalong menjadi terkenal dan identik dengan Dewi Ayu, ia menjadi selebriti di kota tersebut. Ketenarannya menyamai nama-nama penguasa di kota tersebut. Bahkan Halimunda sendiri menjadi identik dengan kecantikan pelacur Dewi Ayu. Dewi Ayu melahirkan empat anak yang tidak dikehendakinya, tiga di antaranya sangat cantik dan diminati banyak lelaki di kota Halimunda. Ketiga putrinya yang cantik itu adalah Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Kecantikan tiga putri itu juga menjadi malapetaka bagi keluarganya sendiri. Karena itu, saat ia hamil pada keempat kalinya, ia berdoa agar anaknya dialahirkan buruk rupa. Sebab kecantikan akan membawa mereka ke dalam petaka. Anaknya yang keempat ini benar lahir dengan menjijikkan namun punya keajaiban, ia diberi nama Cantik. Namun Cantik akhirnya juga terjebak dalam perselingkuhan dengan Krisan. Krisan, keponakannya sendiri yang patah hati setelah ditinggal mati Nurul Aini, kemudian mencintai si Cantik dan mau bercinta dengannya. Tak salah, jika si Cantik tak habis pikir, heran dan ingin tahu. Sehingga ia bertanya pada Krisan, "kenapa kau menginginkan aku?" Dengan satu jawaban, akhirnya Krisan mau mengakui, "sebab cantik itu luka." Jawaban itu tak lebih sebagai satire pengarang untuk sebuah pikiran filosofis akan makna kecantikan di balik wajah seorang perempuan! Komentar: Novel ini begitu tangguh dan telaten membangun jalan cerita yang rumit dan kompleks dengan sejumlah latar sejarah yang luas dan fantasi yang absurd maupun surealis serta melibatkan banyak tokoh berkecenderungan kejiwaan dan tabiat bejat, skizofrenik dan tak terduga arah dan bentuknya. Untuk bagian yang berkait dengan selangkangan, paparan Eka mengingatkan kita Nick Carter dan bacaan stensilan lain yang sangat mungkin pernah mampir semasa puber dulu. Tapi ini kali dipakai secara binal, liar, tanpa tunduk pada norma sehingga terasa sebagai bagian keseharian yang lumrah, dan kehilangan kemesumannya. (Alex Supartono – Kompas) Peristiwa inses (perkawinan dengan keluarga dekat yang melanggar adat dan agama) dan pembunuhan oleh para keturunan Ted Stammler itu terbukti mendapatkan posisi yang tak terbela lewat sebuah ”logika” hubungan sebab-akibat cerita yang cerdas dan mistis: keberadaan roh jahat yang memendam dendam pada keturunan Ted Stammler dan mengarahkan mereka pada kehancuran. (Binhad Nurrohmat – Suara Pembaharuan) Ps. Selamat membaca buku ini dan “tenggelam” di dalamnya. Dan siap-siap untuk terguncang selama beberapa hari. |