|
|
| Gue Bangetz! |
| I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind.
Just remember that I can be strong and tender. |
| Baca Dooong |
|
| Archives |
|
| Fans Silahkan Isi |
|
|
| Narcism |
- Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
- Well behave women never make history
|
| Image Hosted By |
|
| Links |
|
| Designed-By |

|
| Credite |
|
| |
|
|
| Tuesday, November 28, 2006 |
|
.::No Granted::.
Oh, dengarlah sayangku....Aku mohon kau menikah denganku..... (Sung by Glen Fredly) Marriage...oh geez, it's frighten me. Takut telah memilih orang yang salah. Worried if it didn’t work out. Belum lagi memikirkan berapa biaya untuk hidup berdua. 30 tahun hidup sendiri aja sudah repot banget ngurus ini dan itu. Masalah anak, orang tua, mertua, sodara dan ipar. Marriage is beyond my imagination. Makanya gue takjub ama mereka yang sudah menikah 10 tahun dan belum berniat untuk terjun ke jurang. Lebaran hari ke-dua. HP gue berdering…riiiing. “Hai, besok gue nyampe Jakarta jam 12 siang.” “OK, telfon aja kalo udah nyampe. Besok gue kerja.” “Gue jadi ngelamar lho.” “Kata nyokap gue, dateng aja dulu.” “OK, besok ketemu nyokap lu ya.” Hehehe….bingung? baru aja gue tulis kalo marriage is beyond my imagination, tiba-tiba ada yang mau ngelamar. Gak usah bingung, me-so unpredictable. Entah tambah dewasa atau naïf--mungkin gabungan keduanya— buat gue sekarang, pernikahan adalah sebuah one step a head. Satu langkah maju. Gak ada orang yang mau melangkah mundur, diam ditempat juga gak bisa selamanya. Marriage is a part of life. One of plenty choices we had. I choose to jump to it, with a bandage on my eyes. Kalo ada yang tanya kenapa gue menikah, bukan jawaban klise yang akan gue katakan, seperti untuk mendapatkan keturunan dan membina keluarga sakina, mawadah, warohmah (tiga kata terakhir lagi popular diucapkan oleh artis-artis Indonesia di infotainment, kira-kira mereka ngerti artinya gak ya?) Tapi jawaban gue kira-kira seperti ini: Well, kenapa tidak?
Kenapa Tidak? Belum gue temukan satu jawaban atas pernyataan klise “kenapa tidak.” Kalo pertanyaan “Tidak, kenapa?” Nah! mungkin akan banyak jawaban-jawaban basi yang gue denger. Semacam, itu adalah kewajiban manusia yang berakal (versi agamaist); Harus, karena manusia adalah makhluk sosial yang gak bisa hidup sendiri (versi sosiolog); For sex, darling (versi bejad); Pokoknya nikah aja, titik (versi gak punya pendirian). “Kenapa tidak” versi gue adalah, karena orang akan terlihat aneh diusia dewasa dan belum menikah. Kalo gak freak ya frigid. Well, label kedua-nya gak pengen nempel di jidat gue.
Life is a Terminal Indeed! Itu pemahaman baru gue, bahwa hidup hanya sebuah terminal—persinggahan sementara. Is there life after life? No body knows. Yeah, orang lain bisa aja bilang setelah hidup ini ada tempat lain yang disebut “surga” dan “neraka.” Kalo tanya gue, I don’t know those places really exist or not, coz’ I’ve never been there. Yang gue tau tentang hidup dan tempat hidup ya sekarang ini. Berdiri diatas bumi dan menghirup oksigen yang tercemar karbon monoksida. Kadang gue juga bertanya, kemana orang-orang itu setelah bergeming dan tak bernapas? That’s a mystery of futures.
Futures Bahwa gue kebetulan bekerja pada sesuatu yang berhubungan dengan “futures,” gue menyadari banget bahwa sesuatu yang ada didepan completely a mystery. No one can be sure what will happen next. Gue cuma punya seperangkat tools berupa grafik untuk membuat prediksi. Kadang gue menang, kadang juga kalah. Sama seperti hidup dan pernikahan, siapa bisa meramal dengan tepat apa akhir dari sebuah keputusan? Tapi kalau enggak ngambil keputusan pun, gak bakal bisa tau didepan ada Aston Kucher atau Mas Tukul Arwana kan?. Yah, untung-untunganlah, kalo Mas Aston bisa buat calon suami, mas Tukul jadi tukang kebun….buat gue, selalu ada sisi bagus dari setiap kejadian busuk. Jadi, orang bodoh yang cuma berani diem. Not dare to walk through into mystery.
Fairy Tale Bombed with A.C Handerson fairy tale, I grew up with a dream in my head that I’m one of little princes. But, once you are in early 30s, you’ll figure that life is bigger than a tale. There is no prince. No palace. We got to work real hard to get money for our meal and shelter (for a prince too?!) The only truth about tale is the ending word “happily ever after” with or without prince, but definitely with money. Materialistic gal I am.
Whatta Fuck?! Yeah, whatta fuck life does! That’s probably what you guys say in silent. But, hell no! Beauty of life only figured by those whom have no granted. How? If you are asking me, at the end of my journey will be relief when I’ve tried hardest. I know, sometimes best isn’t enough. Isn’t enough for whom? It’s enough for me as long as I can say: “I did my best.” It doesn’t really suck, does it? So, make a decision now….and never looks back. The luckiest person on earth is they who have no granted.
-lagi ngedumel sendiri
|
posted by fire-fly @ Permalink ¤8:06 PM  |
|
|
|
|