|
|
| Gue Bangetz! |
| I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind.
Just remember that I can be strong and tender. |
| Baca Dooong |
|
| Archives |
|
|
| Fans Silahkan Isi |
|
|
| Blog Orang Gila |
|
| Narcism |
- Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
- Well behave women never make history
|
| Image Hosted By |
|
| Links |
|
| Designed-By |

|
| Credite |
|
| |
|
|
| Wednesday, June 28, 2006 |
|
~Thief ~ Suatu hari--beberapa minggu yang lalu--saya bertanya kepada seorang cowo: kenapa dia perlakukan saya seolah saya tidak punya hak sama sekali untuk masuk dalam hidupnya—setelah beberapa tahun. Dan jawabannya tidak terlalu mengejutkan saya. dia bilang bahwa saat itu bukahlah waktu yang tepat untuk saya. Saya hanya tersenyum. Kemudian saya katakan, bahwa diantara hidup yang begitu ramai ini—oleh setumpuk pekerjaan; keluhan dari berbagai orang; masalah keuangan; ketidakpuasan; dan berember-ember hal lainnya—harus pandai dalam mencuri waktu. Coz lover is a thief. Kalau dia mampu mencuri hati kita, kenapa kita tidak mencuri waktu untuknya? Karena waktu artinya adalah kesempatan—dan kesempatan ada hubungannya dengan keberuntungan. Teman saya bilang bahwa luck is a clock, it’s ticking—click…click…click… Kadang akhirnya waktu telah habis, itu artnya keberuntungan pun lewat. Eventually, there is date line for luck, isn’t it? Dulu, saya orang yang takut sekali untuk tidur—mungkin ini penyebab insomnia saya—kenapa? Karena dengan tidur saya merasa telah menyia-nyiakan waktu. Anggaplah rata-rata waktu tidur dalam sehari adalah 8 jam, berapa jam selama 29 tahun umur saya ini dilewatkan dalam keadaan tidak sadar akan banyak kejadian? 84.680 jam! Can u imagine?! Jadi kalau saya memang bisa untuk menghabiskan berpuluh ribu jam untuk tidur, saya pikir saya juga bisa untuk mencuri sebagian waktu buat orang yang telah mencuri hati saya. Dan membolehkan dia untuk masuk dalam hidup saya yang terus berdetik. Coz lover is a thief—and I like it—remind me of Sinbad or Robin Hood. Jadi saya lupakan saja laki-laki yang mengatakan bahwa saya datang disaat yang tidak tepat. Karena mungkin tidak akan pernah ada orang yang tepat disaat yang tepat, kalau tidak pernah mau menjadi “pencuri.” |
posted by fire-fly @ Permalink ¤9:39 PM  |
|
|
|
|
|
~ Jurnal ~ Jurnal. Awalnya penulisan di blog ini ditujukan sebagai kumpulan jurnal. Walaupun bukan jurnal yang terlalu berani—coz as a matter of fact, saya telah menulis lebih banyak lagi jurnal yang tidak mau saya publikasikan. Tapi seiring dengan banyaknya jurnal yang telah saya tulis sejak 4 tahun lalu, gaya penulisan saya pun telah menyalami banyak perubahan—kosa kata dan gaya—yang terkadang masih mendapat pengaruh dari penulis lain. Sampai akhirnya saya menemukan gaya sendiri—kalimat berbelit yang argumentatif. Dan jurnal-jurnal itu pun tidak lagi ditujukan hanya untuk diri sendiri. Harus saya akui, akhir-akhir ini saya menulis dengan lebih terbuka atau berani dalam istilah saya—untuk menohok hati sendiri. Berani untuk mengakui bahwa saya pun manusia yang banyak kurang dan gak pernah terhindar untuk menjadi naïf. Lebih-lebih lagi ternyata dari jurnal ke jurnal saya berhasil menemukan bagian-bagian diri yang pernah hilang atau memang gak pernah sempat utuh. A new me came from the worst. Ternyata, untuk mampu menulis dengan berani tidak perlu menjadi seorang penulis yang paling berani didunia ini. Dan untuk menjadi seorang pemberani, bukan berarti tidak takut; tidak pernah menangis; even more bukan dengan menganggap masalah itu tidak ada. Walau saya pernah dengar bahwa masalah hanyak akan ada apabila kita berpikir bahwa itu adalah sebuah masalah. Jelaslah kalau saya bukan orang yang berpikiran paling jernih, karena selalu menganggap semua hal adalah masalah. Tapi setidaknya, saya masih mau berusaha menulis dengan berani. Tulisan terberat adalah mengenai topik yang paling tidak kita suka ditujukan untuk orang yang paling kita cinta. Darn! It is hard--It was so painful, for me. Setelahnya, saya menjadi lebih jujur pada diri sendiri. Kalau jujur itu ada nilainya—walaupun belum tentu menyenangkan, mungkin—saya jadi berpikir bahwa nilai diri saya terlah bertambah. Also with a bonus: more self acceptance. Have a good day, everyone :)
|
posted by fire-fly @ Permalink ¤9:35 PM  |
|
|
|
| Monday, June 19, 2006 |
|
.::How worth is he?::. If the mother of the-mature-guy that you want to marry with is staying in his house, and he’s asking you to marry him-live with him, also with his mom, would you dare to take this circumstance or just erase his name from your list option? Itu pertanyaan yang sedang saya ajukan pada diri sendiri. Dan dengan cepat saya menggelengkan kepala-resiko yang terlalu besar untuk diambil. Bukankah itu sudah jelas bahwa laki-laki itu telah berkomitmen dengan ibunya dan saya yakin dia tidak akan mampu lagi untuk berkomitmen dengan perempuan lain?! Tapi demi mempunyai second opinion-saya panggil beberapa “pakar” hidup dan percintaan yang agak sealiran dengan saya, yaitu teman-teman dekat saya. karena saya sendiri cenderung mempunyai kepribadian jamak-yang sering berseteru dalam proses pengambilan keputusan-demikian juga dengan teman-teman saya yang mewakili kepribadian saya sendiri, si skeptik, si melow, dan si bijak. Si skeptik-cewe single usia 30 tahun, straight, pemilik sebuah butik- dengan tegas menjawab pertanyaan itu dengan air muka yang didramatisir-tampang melongo yang seperti mengejek “itu bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan lagi! –karena sudah jelas tidak mungkin. Demi melengkapi ungkapannya itu dia bahkan kemudian bercerita bahwa seminggu yang lalu dia berkencan dengan seorang cowo ganteng yang mapan. Satu-satunya kekurangan-kalau bisa disebut kekurangan-adalah dia masih tinggal dengan ibunya dan lebih ngenes lagi, dia bahkan tidak membawa kunci rumah! Oleh karena itu dia gak pernah bisa pulang terlalu larut malam, karena khwatir ibunya akan menunggu terlalu lama atau mungkin sampai ketiduran. “Isn’t he pathetic?” tanyanya dengan retorika yang sarkastik. Ok, ok I got your point, girl. Si melow-cowo couple usia 25 tahun, gay, mahasiswa- menjawab didahului dengan kata “hmmm…” yang agak panjang sambil menggaruk-garuk dagunya sendiri. “If I really love, I would take that risk.” Akhirnya dia berkata dengan mata masih menerawang (berusaha ngeliat masa depan, mas?). “Alasannya sederhana, karena cowo itu gak akan berani neko-neko karena ada nyokapnya, dan itu keuntungan kita!” tandasnya. Si melow jelas-jelas tipe orang yang akan berbuat apa saja untuk cinta-bahkan cenderung memujanya. Selalu mempunyai harapan bahkan di saat terburuk. Percaya akan adanya cinta sejati dan sebuah jalan yang harus dibuat untuk meraihnya. Si bijak-lelaki widower usia 50-an, straight, pekerja sebuah perusahaan negara -seperti biasa menjawab dengan kata-kata dualisme yang selalu memaksa saya untuk memandang sebuah visi yang lebih luas dari daya pandang saya yang sempit. Tapi itu salah satu hal yang saya suka dari dia, kemampuannya untuk membantu saya memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dia terdiam cukup lama dan memandang ke arah lain sambil bernapas berat-satu sedotan rokok kretek rupanya tanda kembalinya ia dari alam perenungan ke dunia nyata. Karena sambil memandang wajah saya agak lama akhirnya dia berkata “Berita buruk, hidup tidak akan pernah sesuai dengan harapan kita.” “Tell me something I don’t know.” Sahut saya. dia tersenyum tenang dan meneruskan “di negeri ini banyak yang harus ditoleransi dan menjadi bagian dari hidup kita-semacam resposibilitas tambahan ya hahaha.” Gubrax! Kata saya sambil menepok jidat dan ngakak bersamanya.
Kalau saya gabungkan pendapat mereka semua saya akan mendapat kesimpulan bahwa that man is a pathetic, but worth to try with understanding of added responsibility. Pertanyaan yang menentukan sekarang adalah: how worth is he for you? (not how deep is)-dare to marry that pathetic; dare to try; dare to take that responsibility.
If I think this is like running from my parent’s jail to my mother in low’s jail, how worth is he? If I think he is the only man where my happiness placing, how worth is he? Tell me, how worth is he? |
posted by fire-fly @ Permalink ¤7:33 PM  |
|
|
|
|
|
.::Insomnia::. Katakan pada ayahku, Singaku bangun malam hari Beritahu ibuku, Aku tidak pulang malam ini Tidak kutemukan sosok mengerikan dikamar mandi Yang kudengar hanya jeritan panjang Tidak kudapati rambut ikal terurai hanya ada layar terkembang si gilaku terbahak membuat jantungku menghentak separuh lagi rokok kuhisap hingga pagi mampu menyesap singaku…singaku… mengaum sepanjang malam-malamku.
Jakarta- June 3, 2006 |
posted by fire-fly @ Permalink ¤7:26 PM  |
|
|
|
|
|
-Hidup tak bernyali- (Matipun tak berani) Ditengah malam-seperti biasa saya belum tidur-mendadak terlintas pikiran gimana kalau seandainya saya emang ditakdirkan untuk hidup sendiri selamanya? Not married-being single-jomblo. Sudah setahun ini saya ga punya pacar-bahkan juga ga berusaha nge-date lagi-karena merasa sama sekali belum siap untuk itu. Ya adalah sekali dua “ketemu” dengan cowo-cowo yang saya kategorikan sebagai freak guys. Tapi sejak terakhir tiga tahun lalu punya hubungan serius-dalam artian dua orang yang saling berkomitmen-saya seperti berada di negeri antah berantah. Limbung dan bingung. So lately, dalam rangka untuk sedikit mempunyai perasaan cinta, saya hubungi lagi si cowo tiga tahun lalu itu. Hidup untuk punya hubungan, dan mungkin juga punya hubungan untuk merasa hidup-at least more alive. Jadi saya pilih yang nomer dua, punya “hubungan untuk ngerasa hidup.” Lima tahun lalu saya sempat memutuskan untuk hidup selibat-dalam pengertian saya adalah “hubungan tanpa perasaan”-dan mendedikasikan hidup ini sefaham dengan konsep materialisme. Lumayan juga. Sampai saya kepentok ama satu orang ini. Awalnya saya belum menyadari kalau akan begitu, saya pikir “hubungan” itu seperti biasa-no feeling-but in the future I realize I was wrong. Nah sekarang, tidak saja sekedar saya merasa perlu dia untuk menjadi alasan hidup (menyedihkan ya?) tapi memang ternyata dia berhasil membuat saya merasa hidup lagi. Walaupun saya dihadapkan pada masalah besar-bahwa dia sudah mendeklarasikan diri untuk tidak akan pernah menikah-tapi setidaknya saya harus merasa punya harapan. Bukankah harapan terkadang satu-satunya pegangan untuk berniat meneruskan hidup? Jadi disinilah saya, “bermain-main” dengan kata “merasa.” Merasa hidup-merasa punya seseorang -merasa masih waras. Walaupun hubungan ini ga nyata-atau saya yang merasa ga nyata-saya merasa lebih hidup bersamanya. Walau sampai detik ini keberanian saya hanya sampai pada berbicara lewat telfon-itupun setelah saya kumpulkan seluruh nyali (dramatisasi). Ide untuk berkencan atau sekedar bertemu untuk melihat wajahnya saya pikir akan memerlukan seluruh kekuatan-untuk tidak hancur berkeping-keping setelahnya. Jadi, kembali pada pertanyaan diatas-bagaimana kalau saya ditakdirkan untuk being single? Tiba-tiba jam 1 dini hari ini, saya panik. Panik kalau-kalau saya akan mati sendirian didalam rumah dan seminggu kemudian orang lain baru menyadari ke-absenan saya. dan bagaimana seandainya saya dihadapkan pada kenyataan si MR. Not Believe in Marriage ini suatu hari menikah?-bukan saya yang dipilihnya. Dalam rasa panik yang menegangkan urat kepala saya-mengakibatkan migrain kumat-saya berusaha menelfonnya. Nada tuuut…tuuutt…terdengar di kuping saya-gak ada jawaban. Seharian ini, sejak sore tepatnya, saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Dan saya gak tau kenapa. Saya memang sering merasa seperti ini setahun terakhir. Dan saya pun sudah berhenti meyakinkan diri sendiri dengan berkata “everything’s gonna be all right.” –coz nothing was. Mungkin being single forever adalah salah satu pilihan juga dalam hidup ini. Tapi itu bukan pilihan saya. jadi, apakah hubungan yang sudah coba saya lupakan mati-matian 1 tahun terakhir ini-upaya yang gagal total-harus saya bangun kembali dengan menemuinya? Sebuah anggukan kecil dari saya mungkin akan merubah hidup, totally. Itu seperti menyakan kepada saya “lebih baik mana, merasa mati dalam hidup atau merasa hidup dalam kematian?” Saya merasa jadi orang yang “hidup tak bernyali, mati pun ga berani” atau pilihan terakhir adalah menikmati apapun yang terjadi. Seperti saya saat ini yang sangat menikmati “hubungan” dengannya. Jadi mungkin nanti saya boleh memlih untuk merasa hidup dalam hidup. Bukan tak ingin berdamai dengan hati Tapi hati perlu nyali untuk hidup Bukan pula tak ingin hidup Tapi hidup perlu damai di hati Bukan lupa akan rasanya rasa Tapi sepertinya rasa ingin dilupa Bukan tidak berani untuk menangis Tapi siapa yang mampu menghapus? Hidup tak bernyali….. Matipun tak berani. Jakarta-June 06’ 2006 |
posted by fire-fly @ Permalink ¤7:19 PM  |
|
|
|
| Monday, June 05, 2006 |
|
.:: Rindu, Gila! ::.
Rindu sampai mati karena Rindu anak Pak Sugeng dan diculik sampai mati Pak Sugeng jadi gendeng
Rindu setengah hidup Karena aku ingin hidup-bukan mati Karena untuk merindu Ternyata harus hidup
Rindu setengah mati saat aku menyebrang jalan dan ditabrak tronton jadi aku merindukannya sampai setengah mati
Setengah rindu setengah lagi benci aku benci karena merindu aku rindu untuk membenci
Rindu setengah setengah hampir rindu, tapi keburu marah marah pun jadi setengah kelu karena hampir marah, tapi keburu rindu
Rindu, Gila! Rindu karena dia gila Gila karena merindu Ternyata si gila, juga bisa rindu.
*puisi gila bikinin si TJ yang gila dan gue yang setengah gila gara-gara dia gila. Akhirnya sesama orang gila memang harus saling menggilai.
Jakarta- June 3, 2006 |
posted by fire-fly @ Permalink ¤7:01 PM  |
|
|
|
|
|
.:: Future, Present and Past Time ::.
Future is unpredictable;misteri-karenanya kita takut. Manusiawi sekali untuk takut pada hal-hal yang belum kita tau. Rasa takut lah yang membuat kita jadi lebih berhati-hati dalam melangkah. Tapi takut bukan dijadikan alasan untuk menghindar atau menghentikan langkah. Bukankah itu gunanya sebuah misteri? Membuat penasaran dan menimbulkan rasa ingin tau-dasar bertumbuh kembangnya manusia. Seperti saat kita sedang menonton film thriller -semakin tegang semakin membuat penasaran akan akhir cerita. Sama hal-nya dalam hidup, kita tidak akan berhenti melangkah karena rasa ingin tau pada apa yang akan terjadi nanti. Oleh karena itu praktek ramal-meramal nasib tidak akan pernah surut (Hi Permadi) karena rasa khwatir sekaligus penasaran kita. Jadi jangan remehkan rasa takut, jangan pula terlalu takut. Fear is an alert and also curiosity. Future is hopes-and a hope sometimes is the only thing we have.
Present day is a gift; salah satu teman gue pernah bilang kenapa masa sekarang (present day) disebut sebagai hadiah (present). Karena di saat ini lah kita bisa mengambil keputusan, saat ini kita mengalami semua benar-benar mengalami segala perasaan yang menyenangkan. Bukan mengira-ngira masa depan atau menyesali masa lalu. Tapi kenapa banyak orang takut pada masa sekarang? karena saat ini kita merasakan segala rasa pedih-beda dengan masa lalu dimana kita sering kali lupa pada apa yang dulu dirasakan. Walau sebenarnya, saat inilah yang paling tepat untuk memperbaiki kesalahan yang lalu-dan mungkin mempengaruhi dengan cara yang positif untuk masa mendatang. So anything you are going to make-make it today-but make it wisely. Present day is our chance to make a right decision.
Past time made who we are now. Masa lalu yang membuat kita menjadi seperti sekarang ini. Kita yang tough-weak-triumphal-pathetic- atau apapun kita saat ini. Sebagian orang mengaggap masa lalu adalah sebagai masa paling kelam-banyak pula yang menganggapnya sebagai masa terbaik dalam hidup. Bagi yang menganggapnya sebagai yang pertama adalah orang yang mau belajar. Sedang yang kedua adalah orang tidak mau belajar dan meremehkan apa yang didapat saat ini. Kalau kamu pikir bahwa kamu tidak termasuk dalam salah satu kategori diatas, mungkin kamu belum sempat menyelami diri sendiri lebih dalam. Karena sadar atau tidak, seringkali kita berkata “dulu saya adalah seorang….; dulu ada seseorang yang sangat tepat untuk saya, tapi…..; dulu saya pernah….” Dan dulu-dulu lainnya. Secara gak sadar kita mengatakan pada diri sendiri bahwa diri kita yang sekarang tidak lebih baik dari kita yang dulu, karena kita lupa bahwa masa lalu sebenernya adalah milik kita yang selamanya akan menjadi bagian dari hidup. Kita lupa betapa sedihnya kita akan sesuatu di masa lalu, sehingga sering kali kita mengulang kesalahan yang sama. Oleh karena itu, menurut saya “lupa” adalah anugerah-saya gak bisa bayangkan kalau saya punya kemampuan untuk mengingat segalanya. Tapi lupa juga sekaligus dapat menyesatkan. Jadi itu semua tergantung pada diri kita sendiri, mau mempergunakan sisi “lupa” yang mana. Past time can be our sun light or dark shadow.
Jadi saya pikir kita gak perlu terlalu takut akan masa depan, karena masa depan akan jadi masa kini yang kita ketahui. Bijaksanalah akan masa sekarang, karena masa sekarang akan menjadi masa lalu yang tidak dapat kita ubah lagi. Jangan pula terlalu menyesali masa lalu, bukankah masa lalu yang membuat kita menjadi seperti sekarang ini? |
posted by fire-fly @ Permalink ¤6:57 PM  |
|
|
|
|
|
.:: Worst Dates ::.
Apa hubungan antara kencan-kencan terburuk dengan kesempurnaan?
Saya pernah bercinta dengan seorang cowo yang tampak “mengerikan” dalam keadaan tanpa busana. Kakinya kurus seperti belalang, dan parahnya, banyak bekas luka gigitan nyamuk. Saya pikir saya telah diajak kencan oleh seorang wartawan majalah National Geographic yang baru keluar hutan dan kurang makan! Besok dan seterusnya saya tidak pernah lagi mengangkat telfon darinya. Jadi kalau berniat untuk mempunyai hubungan dalam jangka (agak) panjang dengan teman kencan, pastikan bercinta di dalam ruangan yang bercahaya cukup. Sehingga dapat dipastikan saat bercinta pertama kali anda telah cukup memindai bagian-bagian tubuhnya yang tidak terlihat sebelumnya. Kalau memang berniat menjadikannya sebagai kencan semalam, istilah kerennya one night stand, justru usahakan penerangan yang seredup mungkin didalam ruangan. Anda tidak mau kan lari terbirit-birit seperti saya waktu itu? Lain waktu, dengan seorang peranakan Iran-Australia, eksekutif muda tampan yang saya kenal di sebuah café. Dia menginap disebuat kamar deluxe hotel bintang lima. Awalnya everything went well-he’s smart! Really. Jadi kami sempat berbincang tentang banyak hal yang selama ini hanya ada di otak saya-karena pacar-pacar yang dulu terus terang saja memang kurang mampu memuaskan sisi intelektual saya. He sounds perfect huh? Wait until he opened his pants. It was so small, daym small-not even so hard! It maybe the smallest dick I’ve ever seen in my life-bahkan untuk ukuran cowo asia sekalipun. Jadi malam itu cukup terjadi satu kali saja, pagi-pagi sekali saya memohon dengan sangat untuk dijemput oleh seorang teman. Jadi, jangan gampang percaya pada opini yang berkembang di masyarakat bahwa ras tertentu merupakan jaminan kepuasan -itu bukan jaminan! Terutama yang kelihatan hampir sempurna-karena memang hampir dan belum sempurna. Justru yang semakin nampak sempurna adalah yang paling gak sempurna at the end. Memang gak ada orang yang sempurna-misalnya yang mau menuangkan kopi untuk kita dipagi hari-tapi setidaknya dia harus cukup mampu memuaskan ditempat tidur! Kali ini dengan seorang play boy sudah saya kenal selama 6 tahun, dia dulunya teman clubbing. Cewenya, wew, berjibun-mungkin sama panjangnya dengan daftar nama calon anggota DPR-MPR-bedanya semua cantik. Sampai-sampai terkadang saya minder juga kalau lagi jalan dengan dia dan cewe-cewenya. Dan di suatu malam yang pekat dengan bau Jack Daniel, ditambah pula saya yang sudah beberapa bulan tak berkencan untuk mempersiapkan bahan tesis, menjadikan malam itu terlalu sempurna untuk dibiarkan lewat dengan tidur saja. Apa yang saya harapkan? Tentu aja setidaknya dia punya beragam cara dan gaya, melihat dari pengalamannya-bahkan mungkin pengalamannya dua kali lipat dibanding dengan umurnya sendiri. Tapi ternyata? C’mon….gak lebih dari lima menit, I already said bye to his hard dick! Mungkin emang bener cuma batre energizer yang last longer! So jangan terlalu percaya pada kredibilitas seseorang-itu bisa menipu! Saya jadi berpikir apa yang membuat cewe-cewe cantik ber-body keren itu bertahan lama berpacaran dengannya ya? Hmmm……
Saya yakin kamu percaya bahwa sebenarnya masih banyak cerita-cerita saya lainnya seperti diatas. Saya juga yakin kamu pernah mengalami hal itu. Saya jadi teringat pada seorang cowo yang sudah tiga tahun ini “berhubungan” dengan saya. Dia gak ganteng sekali-juga ga malu-maluin-;bukan pengusaha sukses-malah kalau boleh dibilang pas-pasan; bukan orang yang sangat cerdas-tapi bisa berkomunikasi dengan saya; bukan pula orang yang romatis-tapi mau mengambilkan asbak rokok saya; bukan orang yang paling cinta pada saya-tapi perduli pada kesehatan saya; bukan orang yang suka mengecup pipi saya-tapi selalu ada untuk saya; bukan orang yang setia pada saya-bahkan dia tidak percaya pada perkawinan; bukan orang yang mau mengalah pada saya-bahkan cenderung mau menang sendiri; bukan the biggest dick-tapi selalu mampu memuaskan saya. jadi apakah orang yang terlihat begitu gak sempurna ternyata merupakan orang yang paling mendekati sempurna pada akhirnya?
Bukankah dulu kita selalu berkhayal memiliki pasangan yang sesuai standar kriteria? Yang ganteng, sukses dalam pekerjaan, perhatian, pengertian, cerdas, setia, jujur dan berbagai kriteria yang biasanya terdapat dalam kolom “kontak jodoh” di koran-koran. Saya akhirnya malah berpikir itu semua muluk-muluk! Pantaskan kalau para jomblowan-jomblowati anggota kontak jodoh itu belum menemukan orang yang sesuai dengan keinginan sampai mereka setua sekarang? pantaskan kalau saya diusia mendekati 30 ini sering merasa kecewa pada opsi-opsi yang ada dan sekarang sudah setahun men-jomblo? Karena saya dan mereka sama-sama pengkhayal tingkat tinggi. Karena saya terobesesi pada kesempurnaan, padahal saya sendiri sangat jauh dari sempurna. Mungkin ketidak sempurnaan lah yang menjadi arti sesungguhnya dari kata “sempurna.” Mungkin kita tidak sempurna di satu sisi, tapi sempurna disisi lain. Tapi setidaknya, saya ingin mendekati sempurna di dalam satu hal saja, which is……., you knew it, right? Hehehehe…. |
posted by fire-fly @ Permalink ¤6:54 PM  |
|
|
|
|