Joshua...Oh Joshuaaa...
Sore ini gue keabisan roko…gue bela2in jalan kaki ke warung didalam komplek perumahan. Beberapa meter dari rumah gue, sedang dibangun sebuah rumah bergaya minimalis, nice, that would be my dream house! Tukang-tukang bangunan pada merhatiin gue—shit!—gue benci diliatin ama low level creatures begitu. Beberapa meter sebelum sampai di warung, dua anjing didalam pagar mendekati gue dengan berlari2 kecil. Gue pikir mereka akan menggongi gue, tapi anehnya mereka justru memandang gue dengan tatapan sayu yang adorable. “Hai…” sapa gue riang pada kedua anjing tersebut. “nguf nguf..” sapa mereka balik. Setelah membeli sebungkus roko, gue kembali kedepan rumah dengan dua anjing. Mereka masih berdiri dengan ke-empat kakinya didekat pagar, sepertinya menunggu gue. Gue tersenyum sambil membungkukkan badan. “Hai..” sapa gue lagi, memandang keduanya. "Kaing..nguf nguf..” suara keduanya lembut. “Cantikk..” kata gue mengerdipkan mata sambil melambai2kan tangan. “Nguf nguf…kaing…” napas mereka terdengar dengan gonggongan lemah. Keduanya jenis anjing berukuran besar yang masih muda. Satu jenis Sheppard, satunya lagi jenis berbulu panjang. Gue pandangi sekali lagi keduanya, so c u t e!—sebelum melangkah pergi. Satu anjing mengais2 tanah sehingga beterbangan mengenai si Bulu panjang. Gue ketawa… “Ngapain sih lu…?” tanya gue sambil melangkah menjauh. Ahhh….jangankan manusia, anjing pun sayang sama gue. Gue melangkah pulang dengan mantap, yakin bahwa masih ada orang yang akan sayangi gue. Ah, gue jadi inget ama Andri—she’s a dog lover. One day, dia pernah teriak2 histeris sambil menunjuk2 buku kumpulan foto-foto anjing. “Liat deh liat…who is this?” tanyanya sambil menunjuk anjing jenis kecil berbulu putih panjang, dengan polkadot hitam dihidungnya yang sedang memainkan kerang di pantai. “Siapa..Joshua??” tanya gue bingung. “Iyaaaaaaaaah…ini Joshua kan? Joshuaaaaaa…” Katanya histeris lagi memanggil anjing kesayangannya yang berada jauh di home town-nya. “Hmm..it’s probably Joshua…tapi gue ga yakin Joshua akan pernah main kerang dipantai seindah ini.” Kataku “Arghhh…I’m sure it’s him!!” tangis Andri. “Liat bulunya, It’s himmmm…” “Hmm yeah OK” kataku putus asa. “Gue ga minta apa-apaaaa…ga usah dibayar atas poto Joshua di buku ini.” Erangnya. “But, at-least…mereka bisa sebutkan namanya kan?! Namanya, kecilll aja, asal tertulis…” Rengeknya lebih keras. “Hwaaaa…gue kalo stress mendingan liat anjing daripada liat cowo…Hwaaa..it’s him, I knew it….hwaaaa.” tangisannya menjadi-jadi. “Hwaaaaa….u’re rite…hwaaaa…” Gue ikut menangis bersama Andri--entah karena prihatin atau memang gue ingin menangis tanpa sebab. |