Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg
Blog Orang Gila

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Wednesday, May 25, 2005

Desperado - part I
Pusing….pusing 7 keliling. Otak gue udah mentok sekarang. Beberapa minggu ini lagi deket ama satu cowo, at the first gue ngerasa cocok banget ngomong ama dia. Everything has went well. But then something’s happened. Gue ngerasa ga “nyambung” lagi ama dia. So I decided to forget about him. Hari ini my best friend kasih info tentang dia yang bikin gue bimbang lagi. Gue bener-bener pengen teriakkkk…gue benci banget kalo ngerasa powerless, ga bisa menentukan sikap. Arghhhh….sumpex! bener-bener cuman ada miscommunication among he and
I. suddenly we just can’t “talk.” Are we coming from a different planet or what? Pleaseeeee help me to understand you, don’t just speak “bip..bip..bip…” What should I do? When my heart speaks differently with my head? Hikz hikz hikz…just let me go…..if you are not strong enough to be my man….let me go…..

posted by fire-fly @ Permalink ¤1:57 AM   1 comments
Monday, May 23, 2005
Girls' Story

“Ya, aku sudah dengar berita itu” Tutur Rosya dengan raut muka geram

Ah, rupanya berita yang baru saja kusampaikan bukan berita baru lagi. Aaahh..sedikit melegakanku, karena aku mungkin tak tahu reaksi seperti apa yang akan dia perlihatkan, seandainya aku lah yang pertama kali menyampaikan berita buruk ini.

“Maaf, aku baru menyampaikannya sekarang, karena baru hari ini kita bisa bertemu langsung. Aku tidak ingin menyampikannya melalui telfon. Lagipula kamu pasti tau, berita seperti ini bisa jadi hanya gosip saja. Dan aku juga tidak melihat kejadiannya secara langsung” ucapku lirih, sambil terus menatap raut mukanya dengan cermat. Kupilih semua kata sehati-hati mungkin.

Kami terdiam. Musik lembut mengalun dari speaker di langit2 café tempat kami bertemu hari ini. Ku aduk pelan es kopiku dengan sedotan. Rosya menerawang di sampingku.

“Aku akan bercerai” tiba-tiba saja Rosya berkata sengit.

“Hmmm….” Gumamku sambil mengambil sebatang rokok dan mengetuk-ngetukkan ujungnya. “yah, kalau kamu fikir itu jalan terbaik” kataku berusaha terdengar sebijaksana mungkin. Kupikir tidak ada gunanya mendebat saat ini, emosi marah jelas sekali sedang berada di udara sekitar ku.

“karena tidak ada gunanya mempertahankan perkawinan yang sudah ternoda! Semua perjuangan selama ini, tidak ada artinya lagi. Semua usaha ku untuk meyakinkan orang tua ku agar mau menerimanya sebagai pilihanku… Semua! Has no meaning at all!” kali ini Rosya mengatakkannya dengan mata memerah.

“fokuskan pada masalah yang sebenarnya, Ros” aku rasa kata-kata yang baru ku ucapkan tak akan masuk ke gendang telinganya, karena matanya nampak menerawang.

“cinta itu indah di awalnya saja, kamu tau itu! Setelah semua terasa manis, sisanya hanya pahit” Ina mengatakannya dengan berapi-api, sorotan mata orang yang sedang cedera berat. Setelah aku yakin secara fisik dia baik-baik saja, jadi aku yakin hanya hatinya yang sedang cedera. “dia tidak ada istimewanya. Tapi kenapa aku jatuh cinta padanya?!” Rosya meneruskan, masih dengan nada yang sama. Rupanya red wine telah membuat otaknya berkerja lebih lamban. Pertanyaan yang sungguh tak akan bisa kujawab. Siapa sih yang jatuh cinta pada suaminya? Pasti bukan aku.

“kamu perlu waktu untuk berfikir Ros. Sudah sebulan sejak hal itu terjadi,kamu belum mengerjakan pekerjaan rumah mu yah untuk memikirkannya. Terbawa emosi seperti ini hanya akan lebih menyulitkan”

“I don’t know what to do” ucapnya memelas. “Kamu tau kan, ini hal yang sangat berat untuk diputuskan?!”

“I know” jawab ku singkat, dengan nada memberikan dukungan.

- oOo-

Pagi-pagi sekali Zandra sudah tiba di apartementku. Dengan mata setengah mengantuk, aku tertegun memandangnya berdiri lunglai di depan pintu menjinjing tas kecil.

“aku putus…dengan pacarku” tanpa basa basi Zandra membuat pernyataan yang langsung membuat ke-5 indraku benar-benar terbangun. “jadi kupikir aku menginap di tempatmu saja, untuk menghindarinya” ucap Zandra sambil melangkah masuk, tanpa perlu kupersilahkan lagi.

“melarikan diri eh?” tanyaku sambil menyeringai “pasti ada yang tidak sudi dipecat, dan itu aku yakin bukan kamu” tebak ku tanpa perlu berfikir

“ada masalah dengan kesehatannya, tidak bisa kuhindari, demi masa depanku” jawab Zandra sambil lalu. Ku lihat dia lebih sibuk membuat kopi, dari pada terfokus dengan pertanyaanku. “yah, jomblo lagi nih” katanya mengehala nafas. pernyataan yang ditujukan lebih kepada diri sendiri. Terdengar santai, tapi aku tau hatinya sakit.

“oh well, welcome to the club” kataku lugas, mungkin akan membawanya sedikit ke realita bahwa dia tidak seorang diri. Ku perkirakan tidak sampai besok, Zandra sudah akan mengungkapkan dengan detail permasalahannya. Kepribadiannya yang sedikit tertutup, membuat ku tidak ingin bertanya lebih banyak. Seperti bom waktu, senyap pada detik-detik awal, klik.. klik..klik…dan kemudian meledak dengan suara yang keras pada waktunya.

“kamu sendiri bagaimana, Kay?” zandra bertanya padaku. Meletakkan secangkir penuh kopi susu yang mengepul tepat di depan hidungku. Pasti tentang pacarku yang terbaru, ia ingin tau. Membandingkan hidupnya dengan hidupku, sambil berharap bahwa ada orang lain yang sama merananya, mencari dukungan seorang teman yang dekat dengannya.

“yaaah hmmm..dari dulu juga kamu tau, terlalu banyak ikan di lautan untuk dipancing” kali ini aku nyengir untuk menggodanya

“hedoisme eh? Tidak pernah berubah!” salak Zandra, bibirnya telihat maju beberapa senti

“just kidding, girl” aku tergelak. “well, yeah ada seseorang yang aku fikir my prince charming” kata ku manggut-manggut. “tapi mungkin hanya frog prince” tak ada kata-kata yang lebih baik untuk si pangeran, kecuali menyebutnya pangeran kodok pikirku, sambil menyalakan sebatang rokok.

“bagaimana dengan Benny? Penyihir juga telah merubahnya menjadi kodok kah?” Zandra mulai nyinyir

“arrghh itu sudah 6 bulan lalu, Zan, basi!” sahutku sambil memutar-mutarkan mata, ekspresi yang aku ingin ia mengerti sebagai keheranan akan pertanyaannya pada sebuah nama yang seolah-olah sudah tidak ada dalam agenda ku sejak jaman firaun. “lagipula pangeran tampan mana sih yang tidak berubah jadi kodok setelah beberapa tahun” ujarku dengan sinis. Dan kami berdua tergelak, sejenak melupakan bahwa mungkin pernyataan ku adalah sebuah kenyataan.

“aku tidak tau siapa lagi yang harus aku pacarin. Mungkin andy cukup menghibur saat ini. Semalam dia meminta aku jadi pacarnya” Zandra berkata dengan mimik serius

“kamu suka padanya?” tanyaku dengan enggan. Pertanyaan yang sudah ku tau jawabnya.

“tidak” jawab Zandra. nah kan aku sudah tau, kataku dalam hati seolah menyalahkan diri sendiri atas pertanyaan tolol ku. “tetap Andre yang ada dalam hatiku” ah pacar lama yang masih ada di hati, pikirku.

“kalau begitu kenapa kamu tidak nikah aja ama Andre?” tanyaku gemas

“masalah prinsip tetap jadi kendala, kamu juga tau. Aku sudah berusaha mencoba lagi, tapi tetap tidak ada perubahan.” Zandra terdiam, aku pun tak sanggup mengelurkan sepatah kata lagi. Otak ku bukan tidak sanggup mencerna lagi, tapi kegamangan menghampiri Zandra dan aku. Dan disanalah kami terdiam. Sampa pada suatu titik, dimana usaha ku sia-sia untuk menterjemahkan sebuah lagu yang liriknya sudah ku kenal baik.. “can you fire melt her ice. Seasons change, you cry in silence for the love you can not live without. You've done your best, you tried your hardest the time has come, be strong, give it up. All you need is a clear horizon….Clear horizon....”

-o0o-

“…..jadi gue saat ini memang tidak menginginkan satu pun cowo dalam hidup gue, Kay, hahaha. Uang lebih penting buat gue” teriak Oryn sambil menggerakannya telunjuk dan jempolnya sedemikian rupa.

Hingar bingar musik di café, membuat kami harus berbicara lebih keras. Sahabatku Oryn yang mandiri, men hatred, dan sangat menyukai riasan gothic melengkapi gaya tomboynya. Caranya memperlakukan semua pria dalam hidupnya, kupikir sangat unik. Caranya mendeskripsikan pria hanya sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan tanduk, tak kurang tak lebih. Upayanya untuk terlihat kuat dan begitu keras terhadap diri sendiri, tak lebih dari pelarian entah karena alasan ditinggalkan atau tidak adanya kemauan untuk berkompromi. Mungkin ia pikir kompromi adalah kekalahan bagi ras perempuan di muka planet ini.

“what happen to Mr. Crully?” pria berambut keriting yang pernah beberapa kali Oryn sebut dalam pembicaraan kami.

“Huh! Udah kelaut! Gue pikir dia lebih suka pergi ber-karaoke bersama teman-temannya dari pada bersama gue. Jadi gw sms dia, I said bye! Dia pikir dia siapa?!”

-o0o-

Begitu sulitnya kah mencari lelaki yang tepat di zaman sekarang? Saat banyak makanan-makanan instan dijual di supermarket, tekhnologi yang sudah sebegini canggih dengan fasilitas internet untuk mengirim e-mail dalam waktu sangat singkat, dan semua orang yang nampaknya terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari dengan mobil terbarunya yang buatan korea?
Sedemikian sibuknya, sedemikian banyak fasilitasnya. Tapi tak ada satupun pasar yang menjual lelaki. Bursa lelaki?

Aku berkhayal, mungkin suatu hari nanti semakin sulitnya komunikasi antara laki-laki dan perempuan, menyebabkan terjadinya market demand untuk mendapatkan lelaki dengan cara cepat. Mungkin ada semacam chips yang ditanamkan di otak mereka, agar bertindak sebagaimana yang diinginkan pembelinya. Lelaki yang romantis,selalu ingat untuk memberikan bungan mawar di hari ulang tahun. yang smart, mampu berbiacara dalam bahasa yang digunakan sesuai tingkat kecerdasan pasangannya. yang jantan, perduli pada kepuasan pasangannya di tempat tidur. yang tegas, mampu mengambil keputusan diantara beberapa pilihan yang sulit. yang mau mendengarkan keluh kesah pasangannya, saat perempuan merasa perlu menumpahkah segala kekesalannya akibat harus mengantri di supermarket. atau entah apalagi tuntutan perempuan. Tuntutan yang ada karena tak terpuaskannya keinginan untuk dipahami atau ketidak inginan untuk dipahami.

Sahabat-sahabat perempuanku, Rosya yang dikhianati, Zandra yang berada ditengah-tengah kebimbangan, Oryn yang kecanduan kerja dan menganggap laki-laki sebagai pelengkap hidup saja, mungkin sebagai perwakilan dari para perempuan yang hampir lupa pada arti religius seorang laki-laki...yang seharusnya melindungi, fisik maupun hati perempuan. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa mereka diciptakan dari tulang rusuk laki-laki?

Or it is just because we ask too much to that creature…rather than try to accept them?

Aku tidak mengajak siapapun yang membaca tulisan ini untuk mengusung bendera Girl Power, atau membuat perempuan berpikir untuk mendirikan klub men hatred. Karena tulisan ini akan menjadi terlalu berat. This is just a simple article, conversation between my girl friends and i. Ungkapan hati.

…..the darkest night is slowly fading and the sun will come out to blind your eyes.could it be a new beginning? Trust yourself - you're an angel, you can fly. Trust yourself…you’re an angle you can fly.......

posted by fire-fly @ Permalink ¤12:13 AM   1 comments
Sunday, May 15, 2005
Conversation with God
(Thanks for every single thing)

Jalan tol menuju Karawaci malam ini terasa lengang. Mungkin disebabkan karena hujan yang turun sejak sore hari. Tentu orang-orang lebih suka menghabiskan sisa malam ini mencari kehangatan di coffe latte atau restoran yangmenyediakan sop buntut. Atau mungkin juga mereka mencari kehangatan jenis yang lain. Yang jelas, malam ini dijalan tol yang basah, hanya ada mobilku dan beberapa truk pengangkut barang. Aku dan Andri sahabatku, berdua kami didalam mobil, seperti biasa selalu mempunyai topik yang menarik untuk dibicarakan. Kadang serius. Tapi selalu diwarnai kata-kata sinis yang menggelikan.

“You know what..” tanya Andri memulai pembicaraaan. “Hari ini gue duduk didepan show room sambil ngeroko….”

“Dan sambil merenungi nasib sial lu yang lagi sakit ambien?” potongku menggodanya

“Ya! Gue lagi merenungi nasib, masa orang seperti gue bisa kena penyakit menyedihkan itu!” sungutnya

“Hahahahahhaa…..” sungguh aku masih tergelak membayangkan bagaimana terhinanya seorang Andri yg dramatis, selalu membayangkan akan mengalami sakit parah seperti kanker otak, merasa sangat terpukul mengalami penyakit “sepele” ini.

“Saat perenungan itu, tiba-tiba datanglah seorang Armon!” lanjut Andri dengan dramatis. Seolah-olah ingin meyakinkanku bahwa makhluk bernama Armon ini sungguh tidak biasa. “Dia duduk disamping gue dan genjrang genjreng dengan gitarnya. Oh, sungguh manusia yang menyedihkan!”

Armon, lelaki bertubuh binaraga dan selalu datang dengan penuh kejutan. Kejutan yang selalu membuat semua orang terbengong-bengong melihat penampilannya yang berjaket kulit di siang bolong. Ditambah kacamata reibennya. Ooooh…lagaknya bagai lelaki terganteng diseluruh dunia. Aku tidak akan heran kalau suatu hari ia mengenakan kaus bermotif macan yang menempel ketat memperlihatkan otot-otot bisepnya. Hey, apa kamu begitu cintaya pada diri sendiri dengan semua otot itu dan merasa menjadi pusat seluruh jagad raya?

“Kemudian…” lanjut Andri. “Gw berdoa pada Tuhan agar entah bagaimana caranya Ia menggantikan Armon menjadi Rob yang duduk disitu” kata Andri dengan hikmad sambil menengadahkan kedua tangannya didepan dada.

Aku melirik cepat sambil tetap konsentrasi pada jalan dan tersenyum kecil melihat prilakunya.

“Kemudian, lu tau apa yang terjadi?” tanya Andri dengan gerakan cepat menghadap kearahku.

“Ternyata masih tetap Armon yang duduk disitu?” tanyaku mengendikkan alis.

“Tepat!” seru Andri sambil mengacungkan jari telunjuknya. “Oh dia masih duduk disamping gue dan belum berhenti menyanyi! Tuhan belum mengabulkan doaku.”

“Hahahahaha….I knew it!” kataku tergelak. “Lu pikir semudah itu mendapatkan sesuatu yang lu inginkan dalam hidup ini?! Hahahaha…”

“Eh, tapi tunggu dulu…gue kembali berdoa pada Tuhan untuk kedua kalinya sambil memejamkan mata dengan lebih hikmad. Berdoa agar Rob yang ada disitu” kata Andri kembali memeragakan sikap orang yg sedang berdoa. “and u know what?!” tanyanya dengan dramatis.

“No, I don’t” kataku tersenyum

“Armon menghilang! He disappears so sudden!” seru Andri

“Hahaha…” aku kembali tergelak. “Well, even though God did not give you what you want, which is Rob? At least Dia mengabulkan doa lu agar Armon ga ada disitu lagi. Rite?”

“Itulah! That’s what I mean. He did not giving me something that I don’t wanted!”

“Yes he did not. Hahaha”

“He knows me so much!”

“Yes, He does. He might knowing you more than yourself” kataku


Guys, kadang Tuhan gak memberikan apa yang kita minta. Tapi gue pikir, kita patut juga berterimakasih pada apa yang TIDAK diberikan-Nya. Gak celaka hari ini, belum habis nafas pagi ini, ga dikasih tom cruise – tapi brad pitt pun gue masih berterimakasih kok sama Tuhan…hehehe. God….you know me better than myself. You know what the best to make this life still circling. God…you really really have a lot of job up there. Thank you…..for not giving me what I don’t wanted. Ternyata, life is not as tough as I thought.


posted by fire-fly @ Permalink ¤6:01 PM   0 comments

.....Blowing My Mind!

Baby you’re mine. You are blowing my mind. We are two of a kind. Baby, you’re mine.... Syair lagu penyanyi Jazz, Basia, tiba-tiba terngiang di telingaku. You are blowing my mind…meledakkan pikiran dengan sekali hantam! Itu kata-kata yang sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana arti kehadiran laki-laki ini. Bagaikan sebuah snap shoot. Hanya sekejap, namun mampun meluluh lantakkan. Tiba-tiba semua yang ada di diriku meleleh--jantung menghentak, namun tidak bergemuruh--perut mendadak ngilu. Ada desiran sesuatu dalam tubuh yang merayap pelan-pelan, dari bawah ke tengah, dan berhenti tepat di dada. Ingin rasanya aku mengabadikan kejadian ini dalam gerakan slow motion. Walaupun hanya beberapa detik, namun rasanya inilah selamanya. Karena tiba-tiba dunia berhenti berputar. Dan semua orang mungkin membeku pada saat itu.

Kami berada di depan pintu lift hotel tempat sahabatku bermalam. Rapat yang berlangsung dari pagi hingga petang, hanya memberikan kami waktu untuk bertemu pada pukul sebelas malam. Aku sempatkan melongok keluar lewat jendela yang amat besar dari lantai sembilan. Begitu besarnya jendela itu dengan ornamen berwarna warni cerah disekelilingnya membuatku berpikir pintu itu seperti menuju ke suatu tempat yang sangat indah. Malam itu tanpa bintang. Namun aku masih bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang memang tampak menjulang ingin menyentuh langit. Namun langit malam seperti tak akan pernah tersentuh, terlihat lebih gelap dari terakhir kali aku memandangnya. Aku merasa sangat kecil dan ringkih di antara bentangannya. Awan kelabu sepertinya menutupi sinar bulan yang indah. Dingin. Sahabatku mengajak ke café hotel yang berada di lantai dua. Sop buntut hangat tentu mampu menepis rasa dingin ini. Jam sebelas malam? Aku tidak perduli. Walau Jane Fonda sekalipun yang menghiba untuk mengasihani tubuhku yang akan menerima asupan lemak dari sop buntut di tengah malam buta, tidak akan menyurutkan langkah kaki yang sudah mantap. Mungkin lebih tepatnya langkah kami. We are starving! And we can eat a horse!

Sitting there and feeling lonely. Had my blue eyes for you only. Suddenly you turned around and smiled at me. Pintu lift terbuka setelah beberapa saat kami menunggu. Dengan terbahak kami memasukinya. Cerita tentang lelaki konyol yang dikencani sahabatku seminggu lalu menjadi bahan lelucon kami yang paling mutakhir. Sepertinya kami memang sahabat yang menjadi belahan jiwa. Dan celakanya! kami memang terlahir sebagai penghujat. Untungnya kami tidak pernah berebut untuk menghujat lelaki yang sama. Selera kami berbeda. Tapi selalu ada lelaki yang pantas dihujat dalam segala bentuknya. Mungkin kami sama-sama berpikir 90% lawan jenis adalah yang masuk kategori brengsek, 9% berotak bodoh, dan sisanya adalah paduan keduanya, brengsek dan bebal! Dan kami dua perempuan yang keras kepala dan sinis.

It wasn't my imagination. Had no doubt no hesitation. When it comes to love I know where I wanna be. Di dalam lift telah berdiri seorang lelaki. Dia yang ku sebut diawal cerita. Kami hanya bertiga. Dia berdiri tepat di depan tombol lift, aku malangkah dibagian kosong sebelah kanan, dan sahabatku berada ditengah bagian belakang bersandar pada dinding lift. Kami, saya dan dia, berhadapan. aku datang, aku melihatnya, dan aku terpana! Ada pancaran aura dari dalam dirinya yang sulit aku jelaskan. Aura itu begitu kuat, begitu menggoda dan alam bawahku terpanggil untuk memandangnya. It’s a quiet moment. Adegan slow motion terjadi. Seperti ada ribuan kamera yang merekam semua kejadian dari segala angle dengan pelan dan sunyi, bergeser satu senti setiap seribu detik. Aku pikir seluruh jagad raya pun terdiam dan ikut menyaksikan adegan ini. Pengambilan gambar ini dimulai dengan mengarahkan mataku pada bagian paling bawah.

Is it real or am I dreaming. I've been waiting light years for someone like you. Can't believe you are here with me. Hal pertama yang tertangkap oleh “kamera” adalah sepasang sendal sporty terbuka pada bagian depannya yang menjejak lantai lift.. Bergerak pelan dan mantap semakin ke atas, satu senti, dua senti…sepuluh…tampak tungkai kakinya yang langsing, berbulu di sana sini. Merayap ke atas aku menangkap ujung celana khaki nya yang selutut, berwarna coklat tanah, terdapat kantong luar di kiri dan kanannya. Semakin mendekati tujuan, aku tak dapat menahan diri untuk menatap bagian tengahnya sepersekian detik lebih lama dari bagian bawahnya.

Nafasku tertahan. Tak ada udara masuk ke dalam paru-paru, akibatnya aku sedikit tersengal. Dengan sedikit hentakan lembut saat mengeluarkan nafas, aku kembali terfokus untuk melanjutkan perjalanan pada tubuhnya. Seolah-olah aku mampu melihat menembus tubuhnya tanpa terbungkus pakaian, tanpa terbalut kulit, hanya dirinya utuh.

Aku melihat ujung kausnya yang berwarna jingga. Mataku yang mungkin berbias warna jingga, sampai pada bagian perutnya…dadanya… Dan tepat satu senti dibawah wajahnya. Sampai sini, tubuhku mulai menggigil. Entah karena udara malam yang dingin ditambah hembusan molekul dingin air contidioner, atau karena lelaki ini telah membuatku membeku. Tak sadar, aku merapatkankan jaket jeans hitam.

I've got you and I can't hide it anymore. I want the world to know that… “Kalau udara dingin, perut terasa lapar ya” Hah! Makhluk ini bersuara. Tepat disaat yang tidak tepat bagiku untuk dapat memahami kalimat pernyataan, mungkin pertanyaan yang sederhana tersebut. Jangan tanya apa makanan kegemaran ku. Jangan tanya lebih jauh arti dari break even point yang sudah menjadi dasar berpikirku. Otakku bisa keriting! Dan jangan tanyakan apa aku mau makan bersamanya, karena aku yakin secara reflek akan menganggukan kepala dengan cepat. Terlalu cepat sehingga siapapun akan tahu, aku tidak perlu berpikir dua kali, atau bahkan tidak berpikir sama sekali untuk menjawabnya. Diam sajalah kamu, batinku. Dan lututku pun mulai gemetaran -- tertangkap basah tengah dengan kurang ajarnya memandang semua bagian tubuhnya dengan mulus, hampir tanpa sensor. Hampir! Adakah bel yang dapat berbunyi saat ini juga untuk menyelamatkanku? Bel apa saja, tolonglah…. Walaupun bel tanda kebakaran. Walaupun bel tanda kematian. Aku tak perduli. Aku ingin menghilang. Bel..bel..bel…

Baby you're mine. You are blowing my mind… Tapi tidak ada satu bel pun yang berbunyi saat itu. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dari kepalaku, yang merutuk kata ‘bodoh..bodoh…bodoh…’ Aku tidak mungkin pura-pura tidak mendengar kata-katanya. Hanya ada kami bertiga didalam lift, dan tidak ada satu pun terdengan bunyi bom jatuh, bahkan tidak pula bunyi uang logam sekecil apapun. Jadi aku tau pasti, suara bariton itu keluar dari kerongkongannya dan ditujukan kepadaku. Kenapa sih harus aku yang tadi merapatkan jaket? Bodoh lagi! Karena sahabatku tidak mengenakan jaket. Dengan atau tanpa jaket, jelas aku yang tadi menunjukkan ekspersi kedinginan. Jadi dia benar-benar berbicara padaku ya, ratapku memelas. Jelas dia tadi memperhatikanku. Setidaknya dia tahu beberapa saat yang lalu mataku tidak sedang menerawang. Mungkin pula dia tahu pergerakkannya yang pelan dan merayap naik. Apakah dia tau aku telah terhipnotis karena auranya? Oh apakah dia tahu mataku yang tadi sempat terdiam di satu titik? Tolooonggg…bawa aku pergi, Martians! Culik aku dengan pesawat luar angkasa kalian!

We are two of a kind. Baby you're really mine…Dengan berat ku angkat kepala dari pandangan pada lehernya. Langsung ke matanya. Aku tidak mau malu dua kali dengan menyempatkan diri untuk menatap detil wajahnya. Walaupun aku ingin sekali menikmatinya lagi. Wajahnya pasti memiliki detil yang lebih banyak lagi untuk diamati. Matanya berwarna coklat tua dan masih memandangku, menunggu. Beberapa saat adegan ini bagai diambil dari sebuah kamera yang berada disebelah dalam dari suatu benda.....yang terkoyak pedang panjang -- tajam...menusuk masuk kedalam benda yang dengan cepat sekali terburai...menjadi serpihan-serpihan. Benda itu adalah hatiku!

Kepalaku hanya dapat mengangguk pelan, seperti ada tuas dibelakang leher yang hanya mampu bergerak sesuai dengan kemampuan tuas yang sangat terbatas karena tertahan sebilah besi. Diiringi suara lirih “iya” yang aku sendiri tidak mengenalinya, ku pikir suara itu keluar dari mulut seekor kodok yang kena radang tenggorokan!

Dia tersenyum. Aku membalas dengan senyum kecil, salah satu sudut bibir yang bergerak lebih tinggi. Tampangku pasti terlihat pasrah, tak dapat melakukan apa-apa lagi. Aku sempat melirik ke arah kanan, terlihat sahabatku yang sedang bersandar pada dinding lift. Sekilas aku sempat melihat sahabatku sedang memainkan salah satu kakinya di lantai, dengan cara diputar-putar. Seperti lagak orang yang tersipu-sipu. Huh! Kenapa dia? tersipu-sipu memikirkan sop buntut hangat yang lezat kah?

Now I see what I've been missing. It's the happiest girl you're kissing… Tak ada yang bisa aku lakukan lagi. Memandangnya sungguh tidak mungkin lagi. Pura-pura melamun hanya akan terlihat bodoh. Membetulkan jaket lagi hanya akan memperlihatkan suatu gerakan dibuat-buat. Satu-satunya cara mengalihkan pandangan hanya pada tombol lift berupa angka-angka yang menyala di nomer 1 dan 2. Lantai dua, tempat coffee shops. Pasti dia yang menuju lantai 1. Mau kemana dia ditengah malam seperti ini? Tempat makannya di lantai dua! Kenapa aku perduli, pikirku setengah memarahi diri.

Pintu lift terbuka. “silahkan” kata lelaki itu dengan sopan sambil membentangkan sebelah tangannya kearah pintu lift. “terima kasih” sahut sahabatku yang keluar belakangan. Seorang teman lelaki kami telah menuggu didepan pintu. Dengan tangan terbentang dan senyum lebar ia menyambut kami. Oh, apa pikir lelaki didalam lift itu…bahwa salah satu dari kamu telah memiliki kekasih? Aku telah memiliki kekasih? Bukan! Dia teman lelaki kami. Bukan kekasih, bukan pacar, hanya teman. Tolong katakan itu padanya. Sekaligus tolong katakan padanya permohonanku agar dia tidak melanjutkan perjalannya dengan lift. Hentikan lift itu! Jangan tutup pintunya. Biarkan terbuka dan melangkah lah keluar bersama kami. sop buntut itu pasti akan terasa hambar dibandingkan kelezatan dirimu.

Namun pintu itu tertutup dengan bunyi berdesir. Aku hanya dapat memandangi cerminan diri sendiri yang terpantul olehnya. Pupil mataku terfokus dan dapat melihat ada ukiran bunga dipermukaan pintu itu. Ukiran bunga-bunga kecil yang merambat, lengkap dengan daun-daunnya memenuhi. Lelaki itu telah ditelan lift.

“Aaarrrgghhh…” sekejap setelah pintu itu tertutup, aku menjerit tertahan dengan putus asa. Tapi tunggu, suara itu tidak hanya keluar dari kerongkonganku. Ternyata sahabatku juga mengeluarkan suara yang sama. Mukanya pun tampak putus asa. Kami berpandangan dengan wajah keheranan. Tapi satu lirikan yang kami lakukan secara berbarengan ke arah pintu lift, membuat aku mengerti apa yang sedang terjadi. “Lelaki itu…aaaahhhh” spontan kami berseru sambil menunjuk kearah lift. Dan kami tahu lelaki itu pasti telah pergi. Meninggalkan dua perempuan yang terpana dan putus asa. Si teman lelaki kami memandang dengan keheranan. Tak pernah kusangka kalau aku dan sahabatku bisa menyukai satu lelaki yang sama.....atau memang laki-laki itu begitu dasyat?! Dua penghujat lelaki ini dibuat begitu hilang akal!

Degup jantungku masih berdetak lebih cepat ketika masuk ke dalam café. Tiba-tiba tubuh terasa ringan, seperti ada beban yang lepas dari otakku. Sesuatu terasa mengalir di dalam tubuh, dari atas dan terus naik. Kemudian berhenti tepat di dada. Menyebabkan perasaanku melayang. Aku lirik sahabatku tersayang yang telah menemukan sofa empuk dipojok, nampak sibuk atau menyibukkan diri dengan menekan tombol-tombol pada telfon genggamnya. Aku pun tak mau berdiam diri, segera meraih telfon genggam dan mengetik beberapa kata yang dikutip dari syair lagu Baby you’re mine. “I've been waiting light years for someone like you. Baby only you can make me feel like this” ONLY YOU CAN MAKE ME FEEL LIKE THIS. Kepada siapa akan aku tujukan kata-kata ini? Oh, lelaki berbaju jingga, berapakah nomer telfonmu?

Hotel Treva,
Our incognito "sharing" moment, my beloved friend Andri.

posted by fire-fly @ Permalink ¤4:23 PM   0 comments
Saturday, May 07, 2005

..: An Alien :..
(Kunang-Kunang part II)

Hari ini…aku melihat “Kunang-Kunang” lagi. Aaah….aku tersenyum sambil merentangkan tangan – menikmati rasa “bebas” ini. Aku dapati awan kelabu…angin membuat rambut panjangku terbang ga beraturan. Aku tau aku akan demam kalau berlama-lama disini. Tapi – kecuali gempa bumi – ga akan ada yang bisa bikin aku melangkah pergi dari tempat ini. Belum banyak kunang-kunang muncul, baru satu-dua berwarna kuning keemasan. Aku teringat pada Tj, Ken, Hery, Andy …silih berganti pikiranku melayang pada flash back tentang mereka. Tanpa bermaksud membandingkan…tapi mereka memang jenis kepribadian yang berbeda. Samar-samar kunang-kunangku semakin banyak….seiring dengan menghilangnya semua nama-nama itu. Tapi satu nama lain tiba-tiba muncul dengan kuat….wajahnya memenuhi sel-sel otakku yang kelabu seperti awan. Satu orang….lagi…..

“apa alasan kamu memilih dia?” tanya laki-laki yang berada disampingku sambil menyorongkan segelas minuman. Ku ambil gelas kecil itu dari meja—menggantinya dengan kakiku yang naiik dengan santai.

“karena dia ”laki-laki” kataku setengah merenung. Hening beberapa saat. “dia tau apa yang dia mau, dia berani mengutarakan apa yang dia mau – dan yang terpenting dia berani mewujudkannya..” lanjutku. Laki-laki ini masih menunggu. “Sikapnya…dia hmm lelakiku.” Sampai sini aku ingin diam.

“Akhirnya “bidadariku” luluh juga…hahahaha. Dua tahun aku kenal kamu, kesannya kamu tuh ga butuh laki-laki.”

“Karena waktu itu mereka bersikap ga ingin dibutuhkan…why should I need them? yang ini…dia ingin dibutuhkan, ingin disayangi, ingin dimengerti..”

“Dia bermakna sekali buat kamu ya?”

“Rez…kamu lihat lampu berwarna-warni diseberang sana? Bersama dia, itu bukan sekedar lampu.”

“Lalu apa itu?”

“Rahasia” kataku sambil mengedipkan mata. “aku pernah punya obsesi – berharap ada yg bisa mewujudkannya….dan dia yang kebetulan bisa. Memandang semua ini…….” Kataku sambil berdiri dan merentangkan lebar-lebar kedua tanganku.

“Hmmm apa yang istimewa dengan “semua” ini?”

“Aaaahhhh…..ini istimewa sekali. Bercinta dengan “semuaaa” ini. Segala-galanya buat aku. Salah satu rahasiaku dalam memandang dunia….dan dia bukan sekedar tau rahasia ini – aku bahkan berbagi dengannya.”

“Aku ga ngerti….tapi apapun itu – mendadak kamu sedih sekali.”

Aku kembali duduk…menyeruput isi gelas sekali lagi dan menekuk kaki-kakiku yg mulai kedinginan.

“Kenapa dia pergi?” tanyanya.

“Karena dia ingin pergi….”

“Ya, tapi kenapa?”

“Karena dia mau tau dunia ini seperti apa…..dia sedang belajar memahami apa arti hidup…”

“Kenapa tidak kamu ajari dia?”

“Biarkan dia belajar sendiri….biar dia sendiri yang menyadari dunia di luar sana itu seperti Kunang-kunang – hanya indah dipandang dari jauh.”

“Kamu tidak menahannya pergi?”

“Gak. Mencintai adalah memberi kebebasan untuk memilih. Buat kita yang sudah tau dunia luar….akan sangat menghargai apa yang ada sekarang – the best thing we ever had is what we have now. Bukan mencoba mencarinya. Bukan terobsesi olehnya. Suatu hari dia akan menyadarinya – tapi biarkan dia memilih.”

“Kenapa tidak biarkan dia mengagumi mu?”

“Karena…aku ingin dikagumi karena aku. Bukan karena aku bersikap pura-pura. Seperti mawar, wangi tapi berduri….tanganmu kena duri? – itu resikonya! Kalau ga ingin kena duri, petik aja bunga jelek di pinggir jalan! Sekali lagi – biarkan dia memilih.” Kata-kataku meluncur cepat. Satu regukan besar minuman menandai kegelisahanku.

“One more shot?” tawarnya. Tanpa menunggu jawabanku, dia masuk kedalam. Terdengar bunyi sendok berdenting.

“Kocoookk…bukan aduk!” teriakku

“Yaaaa…hahahaha…sorry, lupa.” balasnya.
Langit gelap seutuhnya, tanpa berliannya sebutirpun. Tiba-tiba aku ingin terbang…. Aku berjalan mendekati pagar balkon…memandang kebawah….memandang gedung-gedung dan jalanan padat. Memandang langit dan memejamkan mata -- tenggelam dalam kenikmatan. Terbang…dan melayang….pikirku.

“Apa sebenarnya yang indah sih?” tanyanya membuyarkan keinginan terbangku. Berdiri tepat dibelakangku, tangannya sudah melingkari badanku..seolah-olah dia tau niatku.

“Kamu tau….biasanya kalau sudah begini, aku grusak-grusuk masuk kepelukannya. Dia akan bilang: ‘manja amet sih!’ Hahahaha…tapi aku tau dia senang karena merasa dibutuhkan.”

“Lalu?” hmm…bau after shave laki-laki ini tercium olehku

“Lalu aku akan memandang sambil membela-belai pipinya. Sekali lagi dia akan membentakku: ‘apaan sih liat-liat! Risih tau!’ Hahahaha…dan aku akan bilang: ‘Sayang sama kamu’.”

“Wow….cara kamu mendeskripsikannya begitu cerdas.” Katanya sambil melepaskan tangan dari pagar balkon dan menarikku kembali ke sofa. “Kamu sayang dia ya?”

“Sangat.”

“Kamu ingin bersamanya lagi?”

“Hmmm…aku…aku gak tau.”

“Aneh…sayang tapi…”

“Rasa sayang dan rasa ingin memiliki itu dua hal yang berbeda.”

“Hey..hey..jangan sedih begitu.”

“Kamu tau apa yang paling bikin aku sedih? Dulu aku tau persis apa yang aku mau dari dia. Sekarang aku ga tau lagi.”

“Kenapa ga tau?”

“Karena lelaki-ku ga tau apa yang dia mau. Dia dulu jadi lelaki-ku karena dia bersikap seperti laki-laki – tau apa yang dia mau – berani mengutarakan apa yang dia mau – berani mewujudkannya …malamarku walau mungkin belum benar-benar siap. Tapi waktu itu dia jadi laki-laki. Aku mencintai sekaligus ingin memilikinya.”

“Bedanya dengan sekarang?”

“Hmmm itu yang bikin dia istimewa, that was my MAN! “Takes more than combat gear to make a man. Takes more than a license for a gun. Confront your enemies, avoid them when you can. A gentleman will walk but never run.” Kataku sepenuh perasaan.

“ooo…I’m an alien…I’m a legal alien…I’m an English man in New York….” Aku dan dia berbarengan menyanyikan lagu Sting – Englishman in New York. “be yourself no matter what they saaaayy….Hahahahaha….”

"A gentleman will walk but never run." kataku mengulangi

“yupe rite" sahutnya. "But he ran, itu yang bikin kamu mencintainya, tapi ga ingin memilikinya....."

“Kalau sekarang, apa bedanya dia dengan laki-laki lain? Banyak laki-laki tapi tidak bersikap seperti laki-laki. Mereka lari saat berhadapan dengan masalah. Lalu apa fungsinya laki-laki?! Apa kejantanan hanya diukur dari kemampuan penis kalian memuaskan ditempat tidur?—Kelelakian diukur dari timbunan uang yang kalian peroleh? Haahahaha” kataku tertawa satire. Dia dulu berbeda. Dia dulu begitu ..begitu...hmmm begitu 'laki-laki'.”

“Buat kamu itu ga penting?”

“Bukan ga penting! Tapi apa gunanya semua itu, kalau laki-laki berhenti bersikap seperti laki-laki?! Kataku emosi. Lawan bicaraku diam. “Ah entahlah…..mungkin dengan bersikap begini, buat dia adalah salah satu cara untuk membuktikan rasa cintanya” lanjutku getir.

“Oh. Aku pikir, yang memiliki kamu sungguh beruntung.” Katanya sambil memopangkan tangan. “Kamu perempuan yang gampang diatur…asal dia jujur dan bisa ‘menjaga’ hati kamu. Kalau dia tau, gampang sekali hidupnya.”

“Oh. Katakan itu padanya.”

“Gak ah, seperti kamu bilang..biarkan dia tau sendiri. Biarkan dia cari sendiri.”

“Ya. Let him find the way.” Kataku sambil memandang kunang-kunang berwarna merah-kuning-ungu. Follow the fire-fly…you will find me…..

“Kamu mau nginep disini malam ini?”

“Gak. Aku harus pulang.”

“OK. Aku biarkan kamu memilih.” Katanya tersenyum penuh arti.

“Yeah…biarkan semua orang memilih.” Kataku sambil bangkit dari sofa. “Tapi yang jelas….aku sudah memilih Kunang-Kunangku.”

Sekali lagi aku pandangi “hamparan padang” kunang-kunang. I’ll be back….don’t worry. Maybe, if I’m that luck…I’ll brought you a gentleman that I love…..a gentleman who never runs anymore.

posted by fire-fly @ Permalink ¤4:08 PM   0 comments

Kunang-Kunang

Kemaren sore aku lihat ada kunang-kunang di Jakarta. Langit mendung…hujan turun gak lagi kecil-kecil. Dari gedung lantai sebelas awan terlihat berarak membentuk oval tak beraturan. Sebagian lazuardi tak lagi berwarna biru kelabu…tapi menjadi jingga…. Jingga…jingga…

Langit kian temaram, semakin banyak kunang-kunang bertebaran. Warnanya tak lagi kuning tua…biru, putih, merah, hijau hinggap di gedung-gedung. Sekelompok kunang-kunang membentuk tulisan berwarna merah dan biru, besar dan terang…pasti sengaja menampakkan wujud seperti itu agar terlihat oleh orang-orang di jalanan.

Aku memandang kunang-kunang dengan terkagum-kagum. Jingganya langit semakin memudar, terangnya kunang-kunang semakin beragam. Jangan bawa aku ke mount everest, jangan pula ke pataya…pemandangan ini tak ada duanya. Jendela sepanjang dinding ruangan terasa seperti sebuah televisi raksasa yang ingin menelanku atau menelan kunang-kunangku.

“aku suka sekali pemandangan ini” kataku tanpa mengalihkan pandanganku. Laki-laki didepan memandangku sambil tersenyum.

“ah, aku sudah bosan.” Katanya kemudian.

Kugerakkan kepalaku beberapa senti untuk melihat wajahnya, dia masih tersenyum. Kupandangi lebih lekat… Dia, menenangkan. Wajahnya, berlatarbelakang gedung-gedung dan kunang-kunangku, tampak seperti sebuah pelabuhan kecil diluasnya lautan.

Pasti dengan raut muka yang menakjubkan, aku kembali memandang televisiku. Perasaan ingin ditelan masuk benar-benar membungkam mulutku. Kunang-kunangku, hanya ada pada malam hari. Kunang-kunangku berwarna warni. Kunang-kunangku selalu ada setiap malam, kecuali kalo listrik satu kota Jakarta padam. Kunang-kunangku…

Masih terpana, aku berpikir….kunang-kunang kecil sepertiku tak membutuhkan pelabuhan besar untuk berlabuh. Aku bergerak kearah laki-laki ini dan menciumnya sepenuh perasaan.


Ps. Untuk almahum Umar Kayam, terima kasih cerpen-cerpennya yang sangat membuka hati.

(terinspirasi dari cerpen “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” oleh Umar Kayam.)

posted by fire-fly @ Permalink ¤2:50 AM   0 comments