|
|
| Gue Bangetz! |
| I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind.
Just remember that I can be strong and tender. |
| Baca Dooong |
|
| Archives |
|
|
| Fans Silahkan Isi |
|
|
| Blog Orang Gila |
|
| Narcism |
- Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
- Well behave women never make history
|
| Image Hosted By |
|
| Links |
|
| Designed-By |

|
| Credite |
|
| |
|
|
| Tuesday, March 28, 2006 |
|
Perkara Rasa! Jatuh cinta kok mesti memandang usia, social life, kebutuhan dan alasan-alasan lain sih? Lha, saya pikir jatuh cinta yang perkara rasa semata. Rasa yang ada didalam hati, yang sering kali terungkap lewat perkataan dan perbuatan. Tapi pada hakekatnya cinta itu tentang rasa! Berdasarkan pemikiran itu lah, walau sedikit ragu, saya toh berani juga mengungkapkan rasa itu. Setelah dipikir-pikir, disimpan-simpan sendiri kok hanya bikin gundah. Diresap-resap sendiri, lama-lama juga menekan dada. Eh iya bener, dada beneran terasa sesak bukan sugesti. Mungkin karena sesak didaerah dada ini, seorang penyanyi yang melantunkan “dihatiku ada kamu” malah mendekap dadanya lho… padahal jelas-jelas dibuku anatomi, gambar hati itu letaknya di perut sebelah kiri. Pekara rasa ini menurut saya seharusnya tidak dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang saya sebut diatas. Memangnya rasa itu bisa dibendung seperti air di dalam dam apa? Yang kalau dibiarkan mengalir akan mengakibatkan mala petaka. Tidak boleh tidak, pokoknya tidak boleh ada. Tidak boleh, tidak boleh….boleh tidak? Ah ya, tentang ungkap mengungkap rasa. Saya memang belum atau tidak akan pernah mampu mengungkapkannya sedasyat Shakespeare. Seindah Pablo Neruda Secanggih Kahlil Gibran. Saya bukan lulusan seni, apalagi sastra. Tapi bukan berarti saya tidak berhak kan? Tapi ternyata berhak-tidak berhak ini ada beda takaran dalam norma masyarakat mungkin yah? Karena sewaktu saya bercerita kepada Ibu saya tentang perasaan cinta saya pada orang ini, beliau serta merta berkomentar “cuma bakal nyusahin saja!” lho, jadi tidak boleh? Bukan tidak boleh, kata beliau lagi, tapi mendingan tidak usah. Waduh, seandainya saja saya bisa berkompromi dengan hati saya dengan berkata tidak usah jatuh cinta padanya, karena umurnya jauh lebih tua, karena status sosialnya tidak memenuhi standar internasional, karena..karena…. Anyway, saya mengungkapkan ke-jatuh cintaan padanya ini, dengan kata-kata penuh methafor dan bukan pula sebagai obyek kalimat. Tapi, tentu saja seorang jenius seperti dia, yang sudah pernah menjejak kaki di lima benua dan mempunyai perbendaharaan kata yang belum pernah saya dengar sekalipun, mampu menganalisa tanpa tendensi semua serangan-serangan yang bermakna ganda itu! Waduh repotnya jatuh cinta pada orang se-hebat dia, atau untungnya? Karena akhirnya kan saya mampu mengungkap rasa itu, tanpa ada perasaan terlalu malu gitu lho…. Kok saya jadi ikut berkarena karena. Karena kemudian dia bilang tidak butuh pendamping lagi tuh… Karena lagi! Oh,ya…saya lupa mendeskripsikan siapa dia yang super dasyat ini…. Dia jelas-jelas orang yang saya kagumi. Kagum karena caranya menjalani hidup dengan kepala dingin, kesabaran yang luar biasa (menghadapi saya), selalu rendah hati namun tetap fun. Penampilannya pun tetap menggiurkan, walau sudah menjelang turun dari singgasana puncaknya (apa sudah turun ya?) Juga terkagum-kagum dengan ke-naif-annya yang spektakuler. Yaitu caranya memandang hidup yang serba black & white. Buat dia area abu-abu itu hampir tidak nyata. Apalagi red spot dan g-spot! Ternyata jatuh cinta itu bukan berarti hanya karena melihat kehebatannya saja lho! So, like I was predicted….tentu saja dia berusaha menghindar dengan segala cara. Dia mengeluarkan string-string untuk mengalihkan rudal-rudalku, itu lho seperti kalau kita nonton film tentang perang kapal selam yang mengeluarkan pengalih perhatian untuk rudal musuh agar tidak memporak porandakan kapal selam kita, string yang apes itu pun direlakan untuk hancur. Jadi soal kelit-berkelit di dalam percakapanku dengannya semakin seru saja. Kadang kala kubiarkan dia berkelit, memberi temporary rasa aman. Suatu kali, dia terdesak dan mengancam akan harakiri, wooo… Kadang juga dibiarkannya aku ngoceh seenak hati. Sengit dan mengharu biru! Suatu hari duluuu, pertama kali aku kenal dengannya, disela kalimat-kalimatnya yang sungguh bijaksana itu, sempat juga dia mengeluarkan kata-kata “tak lagi membutuhkan orang lain di sisinya” eeh, tapi itu tanpa tendensi kok. Atau memang sejak awal dia sangat tau keinginannya untuk menjalani hidup seperti yang dikatakannya itu. Atauu..memang bau-bau niatku begitu tajam terendus. Whatever it is, the show must go on! Kalau teman saya ada yang bertanya kenapa dia? kenapa…. Wah, saya sendiri sudah berhenti bertanya ‘kenapa’ sejak beberapa tahun lalu. Alasan itu bukan jawaban. Ini perkara rasa! Nah, begitu juga sewaktu dengan rikuhnya dia tak mampu mengatakan apa-apa saat saya bilang “I love you….” Mungkin dalam pikirannya dia bilang, ini anak emang gemblung! Semua keinginannya harus terpenuhi. Waiiittt…wait Sir! Setelah aku mengatakan kata-kata sakti itu, pernah gak bertanya apa yang aku inginkan setelahnya? Enggak, saya gak mau apa-apa. Pengungkapan itu hanya sebagai wujud implementasi untuk sebuah rasa. Bila ternyata hal itu tidak dapat di aplikasikan dalam kehidupan anda, wooo….itu urusan lain. Setelah menulis tulisan ini, saya baru sadar ternyata bercerita tentang cinta dan rasa pun membutuhkan kata-kata yang sophisticated untuk menjabarkannya. Bukan hanya untuk makalah-makalah anda yang bermutu itu lho, Sir! Somehow, pembicaraan-pembicaraan yang berbelit-belit dan penuh intrik namun menyegarkan hari-hari saya ini sampai sekarang tetap berlanjut antara saya dan dia. kadang-kadang ditengah kesibukan saya bekerja, diantara lampu-lampu gedung Jakarta yang berkerlap-kerlip dan lebih seringnya diantara bantal-guling saya ditengah malam. Boleh saja ada si A atau B, C dan D yang tiba-tiba muncul dalam hidup saya, dan sering juga menjadi topik pembicaraan kami. Tapi untuk yang satu ini, cinta akan terus mengembang seperti layar kapal kapten Hook. Belum perlu melangkah maju dan tidak ingin melangkah mundur. Jadi benar kata orang-orang dulu, cinta tidak harus saling memiliki. Dan menurut saya, tidak harus dengan alasan yang tepat. Ini perkara rasa, titik! I love you as certain dark things are loved, secretly, between the shadow and the soul. (penggalan puisi by Pablo Neruda) |
posted by fire-fly @ Permalink ¤5:32 PM  |
|
|
|
|
|
Nyut-nyut… Cring-cring… Nyut-nyut, kepalaku berdenyut. Migrain yang selama separuh hidup selalu menghantui itu, membuat saya ngeper! Denyutnya kali ini seiring sebangun sekali dengan jumlah cring-cring dalam dompet saya yang tak terlalu nyaring lagi bunyinya. Mau pinjam uang ke bapak saya, sebagai Nature Bank. Bank yang sudah ada dari sononya, tanpa bunga, tanpa jaminan, dan tenggat pembayaran semampunya, rasanya malu gitu. Udah kerja lho saya, dengan bangga sekaligus mengkeret. Sebuah tas milik Ibu saya yang berajut benang merah ala turki itu sudah siap di sofa depan. Di dalamnya saya persiapkan pakaian dua stel saja, cukup untuk dua hari perjalan ke luar kota. Ini siap, itu siap. Rasanya sudah lengkap bawaanku. Setiap akan berangkat bekerja, selalu saya umpakan seperti akan pergi berperang. Apalagi hari ini akan ke Bandung. Persenjataan mesti lengkap donk! Setelah yakin semua ready to shoot, saya duduk di sofa hijau kalem ruang tamu. Nyut..nyut..nyuttt…tambah keras bunyi nyut dikepala saya. Apalagi sambil duduk diam dan menautkan jari jemari dengan memainkan kedua jempol yang saling tumpang tindih. Huwaaahh….kok rasanya lama sekali. Kembali terpikirkan tentang tumpukan tipis rupiah saya. Dengan sedikit rasa optimis terpikir, ah nanti mungkin akan ada tambahan dari hasil kerja saya disana. nDinnn…nDiinnn…suara klakson yang merdu dikuping itu, gak cempreng, membuat saya melompat dari sofa. Setelah pemindahan sebuah koper segede babon dan tas kecil saya kedalam mobil itu, tentunya ritual berpamitan dengan orang tua harus dilaksanakan. Demi lancarnya perjalanan dan tugas lho… Amiinn… Dalam perjalanan Jakarta-bandung, seperti biasa Mr. Driver yang menjemput saya akan mengajak berbincang. Ditengah udara Jakarta yang jenjreeeng, panasnya bertubi-tubi menusuk kulit, terasa semilir udara dalam mobil ber-air conditioning ini. Nyaman, sedap, sejuk didalam mobil hebat ini. Gimana gak hebat! Jok kulit hitamnya menempel dengan lembut dikulit. Jalannya terasa mulus sekali diatas aspal yang berlubang-lubang kecil, lempennng saja. Kalau melongok keluar jendela, yang terlihat ya jalan yang semrawut dan kering. Wah, didalam sini serasa saya di surga deh. Pak musa-mr. driver yang tak pernah kehabisan bahan untuk dijadikan topik pembicaraan, seperti siang ini juga, tanpa ancang-ancang dia sudah mengomel tentang semakin mahalnya harga-harga rumah. Mungkin setelah melihat rumah (orang tua) saya yang berada dipinggiran kota, kecil-mungil-asri, cluster menengah, namun harganya sudah ratusan juta itu! Dia bercerita, dulu harga tanah di daerah perkotaan hanya Rp. 500.000/tombak. Sekarang di daerah pinggiran dan letaknya masih masuk kedalam pun sudah mencapai Rp.5 juta. Ck..ck…ck… sahut saya, walau saya tidak mengerti dengan kata ukur tombak, tetap terkagum-kagum dengan harga peningkatannya yang fantastis! Kemudian sebagai seorang sejarawan, dia bercerita bahwa zaman dulu hidup terasa lebih nyaman dan jelas lebih murah! Kemudian tentang harga sekolah anak-anaknya yang semakin mahal. Buruh kecil seperti saya, katanya, semakin tersudut. Tapi yah nasib diterima saja dengan lapang dada. Mendadak jadi filosof dia. Pikiran saya tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada ucapannya, karena ha! Jujur saja, saya sedang memikirkan uang di dompet saya yang kering di tanggal tua seperti ini. Hatiku diliputi setengah rasa lega setengah bersalah. Merasa mendapat orang yang senasib mirisnya, tapi kok ya saya juga merasa kurang bersyukur. Karena yakin gaji saya sebulan jauh lebih tinggi daripada Mr. Driver ini. Padahal ya dia mesti ngidupin anak istri lho…saya yang masih menjadi anggota Jojoba (Jomblo-jomblo Bahagia) ini, gak pernah merasa cukup. Walah! Perjalanan terus berlanjut, gedung-gedung penyangga langit Jakarta mulai tampak jarang. Di kiri-kanan nampak beberapa hektar tanah kosong-rada gersang, calon-calon pabrik. Nyeeesss….roda mobil masih berputar dengan mulusnya. Saya putar knop air-co kekiri, wah kalau tetap dengan putaran yang tadi, bisa-bisa saya bukan berada disurga lagi tapi kutub utara berteman dengan penguin menyetir mobil. “Mbak…” panggil Mr.Driver setelah berdiam beberapa saat. Oh iya, dia memanggilku dengan sebutan “mbak” bukan “ibu,” seperti seharusnya, karena jelek-jelek gini saya teman bos-nya lho. Kadang-kadang juga memanggilku dengan “neng.” Ya gak apa-apa lha. Dari dulu saya malah jengah kalau dipanggil dengan “gelar” seperti itu. Tapi setiap saya tegur beberapa orang yang umur dan statusnya dibawah saya untuk memanggil tanpa embel-embel itu, kok mereka yang rikuh gitu. Dan akhirnya, saya menyerah saja, terserah mereka mau memanggil saya seperti yang mereka anggap pantas. “Kata bapak, kita jemput Mr.Marek di bandara.” “Iya, saya juga sudah diberitahu kok pak.” Mr.Marek, orang Polandia, adalah kolega bisnis teman saya itu. “Mr. Marek itu sepertinya marah lho sama saya, mbak.” “Eh lha…kok bisa?” Tanya saya heran “iya, ada masalah sama saya gitu, keliatannya.” “emang pak Musa kenapa?” Tanya saya lagi. Gimanapun, orang bawah memang yang selalu dianggap salah kalau ada yang tidak beres. Otak saya pun, yang sudah dari kecil terlatih menjadi juragan, tentu saja segera bertanya apa yang Mr. Driver ini lakukan sampai Mr.Marek marah padanya. “waaah…..gak tau itu mbak. Pokoknya setiap saya jemput dari Jakarta sampai bandung ga pernah ngajak ngomong saya.” Sampai sini saya terngaga. “kalo di dalam mobil, kepalanya menghadap ke kiriii terus…gak pernah noleh ke saya.” Lanjutnya. Saya pun meledak, tertawa keras sekali. “Oalaaaah Pak musaaa…..memangnya kalau Mister Marek ngajak ngomong pake bahasa inggris, bapak ngerti apa?” Mr.Driver hanya meringis saja, hampir tanpa ekspresi! Waduh, saya pikir saya sedang berhadapan dengan komedian jenius ini. Dia berhasil membuat saya tertawa, sementara wajahnya itu lho! Bisa tetap terlihat kalem. Gapura berwarna jingga itu sudah terlihat didepanku. Disebelah kiri, nampak beberapa pesawat terbang di landaian bandara. “Pesawat-pesawat itu bisa muat 200 orang ya mbak?” “Eh ya lebih pak. Yang panjang itu pesawat Boeing, bisa muat sampai 600 orang lho.” Kataku sembari menunjuk sebuah pesawat Singapore Airlines. “Oooh begitu yak…” kata Mr.Driver terkagum-kagum. Mungkin kagum pada kapasitas pesawat yang jauh melebihi perkiraannya, atau mengagumi kecanggihan info data-ku. Sarjanaaaaa sih….. Yak, aku tersenyum sendiri, memenuhi kompleks narsisku. Kadang-kadang perlu juga berbicara dengan orang bawah, kita yang setengah pintarpun juga terlihat jadi jenius kok! Hehehe….ketawaku dalam hati. Perjalanan selama 3 jam kali ini tidak banyak terisi dengan obrolan. Bukan saja karena aku sudah terlalu capek plus udara dingin yang nyeesss di kulit. Tapi mulutku lebih suka untuk diam sambil merenungi, ternyata buat intelektual semacam aku pun, kok gawatnya! mempunyai masalah yang sama dengan Mr.Driver ini. Krisis finansial! Tapi Mr.Driver yang mungkin paling tinggi tamatan SMU ini, lebih mampu dari pada aku untuk menjalani hidup dengan lawakan satir-nya. Ditambah lagi, kompleks narsis yang menghinggapiku ini., wah tambah banyak lagi minus-ku….yang harus aku renungi sambil membawa penderitaan nyutt…nyutt…nyutt….cring…cring…. gubrax! |
posted by fire-fly @ Permalink ¤5:26 PM  |
|
|
|
|
|
.:: Jujur (part II) ::. Berkata jujur dengan berpikir jujur itu ternyata bedanya banyak lho! Bedanya terletak pada subyek orang yang tidak kita bohongi. Jujur yang pertama itu berarti kita tidak membohongi orang lain. Jujur yang kedua artinya kita tidak bohong pada diri sendiri. Wah jangankan untuk jujur dengan orang lain, dengan diri sendiri aja seringnya susah! Tentang kata jujur ini sendiri masih immeasurable. Tiap orang punya stadar jujur masing-masing lho! Kata teman saya yang sudah beristri tapi sering selingkuh ini, jujur itu diplomatis. Ia berkata jujur kepada istrinya bahwa habis mabuk di sebuah café dengan seorang rekan kerja yang perlu di-loby. Tapi embel-embel bahwa ada beberapa perempuan yang menemani kan tidak perlu diceritakan. Saya jujur lho…katanya bangga. Duh biung! Seorang teman lagi yang (juga) telah beristri tetapi menyukai sesama jenis dengan lebih tegas meyakinkan bahwa kata ‘jujur’ itu sangat abstrak, dengan berkata lantang: saya jujur! Jujur bahwa saya berbohong!” rambut saya yang ikal, mendadak keriting seperti gaya rambut afro. Mau diakui atau tidak, memang kejujuran itu belum ada konsep dasar yang jelas. Saya sebagai penulis pun, dengan jujur kadang terlintas pikiran untuk tidak jujur. Tapi lebih banyak ketidak jujuran itu ditujukan pada diri sendiri. Dengan tidak jujurnya saya merasa bahwa saya telah menulis secara jujur. Waduh, rambut anda ikut-ikutan keriting gak? Susahnya menjadi manusia dewasa. Yang kebetulan sekali bekerja dibidang marketing. Kata orang, dunia marketing itu penuh ketidakjujuran yang dibungkus dengan kertas kado cantik berpita pink pula. Sewaktu ditanya apakah saya menggunakan produk yang saya tawarkan, terpaksa besoknya saya pun membeli produk itu dari dompet saya sendiri! Usaha untuk jujur yang mahal! Keesokan harinya saat saya sedang di supermarket memilih camilan yang lezat-lezat itu, saya dikagetkan oleh celutukan seorang anak kecil yang bediri disamping saya. Bagi saya, dia tak lebih tinggi dari kurcaci. Dengan mata bulat besat dan sedikit iler di sudut bibirnya, kurcaci itu memandangku melongo. Tante kok besar sekali, katanya polos. Kena gue! Kataku merutuk dalam hati. Akupun mendelik. Gugup juga dituduh sebagai tukang menghabiskan roll-egg setoples. Kamu juga, kenapa kecil-kurus dan ompong! Kataku sembari bergegas pergi sembari melirik maut ke kiri-kanan bagaikan ibu-ibu yang takut ketahuan mengambil sample kue terlalu banyak. Gawat juga kalo ada emak-nya kurcaci itu yang mungkin saja bertubuh sebesar gozila! Sekali lagi, nasib tidak berpihak pada yang jujur. Sore itu dengan hati setengah dipaksa untuk ceria, saya mengambil sepatu kets untuk lari keliling komplek (si kurcaci rupanya telah “menyetrum” pantat saya untuk mau beranjak dari depan komputer). Baru setengah putaran, napas saya sudah ngos-ngosan. Kaki sudah berat diajak melangkah, boro-boro lari. Tengok kiri, putar kepala kebelakang, tidak ada siapa-siapa. Saya pun memelankan langkah, niatnya untuk lari cepat, kok jadi jalan lambat ya… Gue akan usulkan kepada pemerintah untuk punya satu lagi cabang atletik, yaitu jalan lambat! pikirku merasa cemerlang. Eh, tapi kok di tanah kosong depan, saya lihat sepasukan PPD (Pasukan Pengamanan Dalam), yang selalu menyapaku digerbang dengan suara-suara bariton, sedang bersenam sore. Tengsin gue! Cepat-cepat saya melajukan gerakan tungkai. Sudah berpakaian olah raga dengan stil begini kok. Orang jujur pula! Hosh..hoshhh..hooshh… akhirnya saya tiba juga dipertigaan depan rumah. Saya lihat tetangga yang baru pindah sedang menyirami tanamannya yang sejumput itu. Dengan cengar cengir (dan pura-pura melap keringat) saya halo-halo si nyonya rumah. Asik juga berbasa-basi dengan tetangga baru, obrolan ya tentu benar-benar basa-basi, tentang pekerjaan, sudah berapa lama pindah (kok ditanya? Jelas-jelas kotak-kotak setengah terisi masih jumpalitan di dalam rumahnya). Tapi kemudian saya menyadari, sejak tadi saya kesulitan mendengar apa yang dikatakan si nyonya, sampai perlu dijelaskan dua kali. Setelah mengorek kuping dua kali, saya pun mulai memperhatikan bibir si nyonya yang selalu terkatup selama ia berbicara. Waduh, ya jelas suaranya seperti gumaman panjang yang berasal dari dalam sebuah gua. Hampir saja sebuah pertanyaan terlontar dari mulut saya, lagi sariwan, Bu? Ups…cepat-cepat saya katupkan bibir, untung teringat tentang tulisan saya yang bertema kejujuran ini. Tapi tak urung cengiran miring gak bisa saya tahan. Sampai rumah saya laporkan hal ini kepada Ibu saya. Menurut laporan dari mata-mata kecil kami (adik saya yang notabene bertubuh sangat tidak kecil) tentang keadaan seluruh komplek perumahan, didapat informasi bahwa si nyonya tetangga baru yang baru saja pindah itu, baru saja memasang gigi palsu baru. Bukan gigi palsu bekas dong! Dan gigi barunya itu belum pula terpasang dengan sempurna. Jadi ya terpaksa, berbicara sambil mengatupkan mulut. Dari pada semua gigi mendadak lepas-ambrol dan tetangga baru mendadak pingsan karena kaget. Emang kenapa? Tanya Ibu saya. Gakkk…gak apa-apa, Bu. Untung saja gue anak yang bandel, sahutku sambil ngeloyor masuk kamar mandi. Lho kok? Lha iya, coba saya anak penurut yang selalu menuruti nasehat orang tua untuk selalu jujur dan sejujur-jujurnya seperti jujur kacang ijo, saya gak perlu mandi lagi sore ini karena kena siram si nyonya! Jadi ternyata berkata jujur itu perlu lihat situasi, orang yang kita hadapi, tempat, dsb-nya… jujur itu repot ternyata! Jauh lebih gampang berbohong, tidak jujur dan manipulatif. Kalau kebohongan butuh orang cerdas. Ketidak jujuran butuh orang yang jenius. Dan kejujuran butuh orang yang bijak. Seperti teman saya bilang “cakep itu relatif, jelek yang mutlak!” jadi saya pun bisa berkata “kejujuran itu relatif, kebohongan yang mutlak!” Maka, jujurlah orang-orang Indonesia…termasuk kategori yang manakah diri anda? |
posted by fire-fly @ Permalink ¤5:15 PM  |
|
|
|
|