Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Saturday, March 12, 2005
...Man of the Month...

(Which man from this conversation bellowed--will be awarded as the "Man of the Month?". Write in comments (at the end of written)--which one you choose and what the reason (karena paling norak-the coolest-paling nekad- most manly... terserah). Your comments will be added in this blog as soon as i get it. Hehehe)


Man 1: “Gue cape ngejar-ngejar elo! Kita udah sama-sama dewasa, sekarang gue tanya ‘elo mau gak ama gw?’ tembaknya memberondong.
FF: “Ngejar-ngejar gue? Kapan lu ngejar gue?” tanyaku bingung.
Man 1: “Gue tiap pagi tunggu elo dateng. Tiap siang liatin elo lunch. Tiap sore tunggu elo pulang. Dan elo ga nyadar?”
FF: “Hmmm....kaga” katakuku nyengir. Dua puluh orang sedang menguping pembicaraan ini. Dan aku sama sekali ga berniat menjadikan hal ini sebagai bahan gosip!
Man 1: “Ok, that’s it! Gue cape! Terserah elo deh mau anggep gue ini apa. Elo selalu sibuk, ga kasih gue waktu sedikitpun!”

Dan lelaki itu berlalu dengan wajah kesal. Dan gue terbengong-bengong dengan bibir melongo—gue salah apaan sih?

***

Man 2: “Where are you going?” sapanya ramah. Matanya memandangku teduh. Serrr....hariku berdesir dipandang seperti itu.
FF: “Smoking time, Sir” kataku nyengir. Dia tersenyum dengan makna. Dia memandang lebih dalam. Aku gugup---aktifitas jantung meningkat drastis.
Man 2: “Hmmm....” Gumamnya sambil menelengkan kepala memandang—mengamati.
FF: “Ya?” tanyaku tertunduk. Hampir ga kuat.
Adrenalin pumped so fast.
Man 2: “Kamu mau kemana?” tanyanya lagi---kali ini lirih---sambil memegang lenganku.
FF: “Kedepan, Pak” Kupaksa mengangkat kepala memandang matanya. Damn! Still the same eyes. Lenganku terasa diremas. Kakiku mulai terasa tak berpijak.
Man 2: “Hmmm...OK” katanya singkat. Remasan dilenganku lebih menekan lagi. Badanku gemetaran. Hawa terasa lebih dingin. Aku hanya mampu memandang pintu kayu didepan. Aku tau matanya masih menelurusi.


Aku melirik cepat kematanya, menoleh cepat kebelakang—sukurlah ga ada yang memperhatikan. Dia mengerti isyarat ini. Lenganku mulai dilepasnya perlahan. Dan aku melangkah cepat. Jangan pernah pandang aku sepertu itu lagi---aku tau apa artinya.

***

Man 3: “Gue...mau....elo” katanya lambat-lambat.
FF: “Oh ya? Bukannya selera elo tampang cewe sekelas sekretaris, SPG and teller?” sahutku tajam
Man 3: “Gak juga. Sok tau deh lu” tampang play-boynya tertangkap memerah. “Rambut lu bagus” lanjutnya.
FF: “Elo orang ke-1.385 yang bilang begitu.”
Man 3: “Kulit lu bagus.” Katanya sambil bertopang dagu memandang dengan disayu-sayuin.
FF: “Udah terlalu banyak yang bilang begitu.”
Man 3: “Sexy...elo sexy!” katanya ngotot berusaha
FF: “Find something original, ok?” Kataku kejam. “Cari sesuatu tentang gue yang elo bisa diskripsiin. Satu kata dari elo dan elo orang pertama yang ngomong gitu ke gue. Kalo sekedar rayuan biasa begitu, mending ga usah.” Skak-Mat.
Man 3: “Hmmm....” keningnya berkerut. Berpikir keras mungkin atau hanya berlagak—tampaknya berpikir keras. “Basi! Elo basi!” serunya kemudian.
FF: “Elo orang pertama yang bilang gue basi.” Dia tersenyum puas, menegakkan tubuhnya penuh perasaan sebagai conqueror. “Tapi sayang, gue ga basi” lanjutku kalem. Raut mukanya berubah. Dia berdiri dan melangkah keluar “Arrrrrrghhhh....” teriaknya geram.

Aku kembali menekuni tampang manusia bengong didepanku. Manusia itu berkata “Gue ga tau mana yang salah, gue ngenalin elo ke dia..atau gue ngenalin dia ke elo. Kalian berdua sama-sama gila.”

Man 3 kembali masuk ruangan. Memandangku sesaat. Kemudian dengan cepat mencondongkan wajahnya ke wajahku untuk mendaratkan bibir. Aku mengelak didetik terakhir, persis seperti manuver F-16.

Man 3: “Gueee.....mauuu.....eloooo.....”
FF: “Cariii...satuuu...” aku mengambil tas. “kataaaa....” aku menjumput blazer. “oriii..ginaaal” dan aku melangkah pergi.

***

Man 4: “Seandainya elo selera gue, kita pasti udah jalan...” matanya lugu. Senyumnya manis. Kata-katanya sangat tiba-tiba.
FF: “Hmmm...” gumamku tak percaya---merasa kalau aku perlu memeriksakan telinga. Mengalihkan pandanganku sejenak dari kertas-kertas dimeja. Memandangnya lurus-lurus.
Man 4: “Tapi gue tau, gue juga bukan selera elo....” lanjutnya cepat.
FF: “Kenapa bisa mikir begitu?” tanyaku mengerutkan kening.
Man 4: “Karena gue anak rumahan.”
FF: “Lalu?”
Man 4: “Elo gaul banget.”
FF: “Gue ga suka ama cowo gaul.” Kataku jujur---atau ingin memancing.
Man 4: “Oh ya....” dia tersenyum. Tak terpancing. Karena dia ga percaya.

Hening sejenak. Hanya saling pandang---saling menyelidiki.

FF: “Jadi gue bukan selera elo?” tanyaku meringis.
Man 4: “Gue tau gue bukan selera elo, makanya elo jadi bukan selera gue.” Katanya setengah merenung.

Aku hanya diam. Memandang matanya yang bulat.

Man 4: “Iya kan?” tanyanya tersenyum lebar.
FF: “We never know....We never know...” kataku menghela napas sambil kembali menundukkan kepala menekuni kertas berisi angka-angka.

***

Man 5: “Gue orangnya susah ditebak.”
FF: “Gue ga berniat menebak elo.”
Man 5: “Ga ada yang bisa nebak gue.”
FF: “Karena elo bersikap ga ingin ditebak.”
Man 5: “Enggak. Gue emang ga bisa ditebak!”
FF: “OK.” Jawabku pendek. Menolehkan kepala ke monitor.
Man 5: “Gue orangnya ga bisa ditebak. Ga ada yang bisa nebak gue” Ulangnya.

Aku menolehkan kepala padanya. Lambat- lambat.

FF: “Gue ga perduli.” Sahutku kalem.
Man 5: “Gue juga ga perduli apa pendapat lu tentang gue!!!” katanya sengit
FF: “Lalu kenapa ngomong ama gue?”
Man 5: “Gue ga ngomong ama elu!”
FF: “Elo orangnya ruwet. Over confident.”
Man 5: “Itu pasti! Gue punya! Over confident, why not??!” sahutnya cepat sambil merentangkan kedua tangannya.
FF: “Oh iya, elo sulit ditebak yah?” kataku nyengir. Dia sontak diam.
Man 5: “Gue ga perduli lu ngomong apa!”
FF: “OK.” Senyum semakin mengembang.
Man 5: “Heh!”
FF: “Apa? Mau ngomong ‘gue ga bisa ditebak’ lagi?”
Man 5: “HUH!”


posted by fire-fly @ Permalink ¤2:54 AM  
2 Comments:
  • At 3:07 PM, Blogger Diva said…

    nah cowok yg gini nih sekarang lagi menghiasi hidup aye lieverd :((,menghiasi hari2 penuh dengan ke ge er annya,:( biar udah di maki2 makin jadi, cowok gini bagusnya diapain liefje :((,udah gitu ga pernah merasa membuat aku sebel, eneq,dan tersiksa dengan gaya bicaranya,hiks hiks blom apa2 aye dah pengen cerein die lieverd :">

     
  • At 9:11 PM, Blogger Diva said…

    ehmm ehmm, dah jelas dunk man ke 2 yang terpilih lieverd.
    bener liefje, si man5 ku nyebelin, tp kadang bisa bikin ketawa, cuman bosan juga dengar ke GR annya saban hari,hmm i dont knowlah,kali cuman untuk nutupin kemaluannya ehh maksudku rasa malu alias kikuk atau bisa juga dibilang ga PD..so dia jd obsesi untuk jadi orang yg ter PD ,,, lief gimana sih,kok aku jd ngaco,bingung ga tau mo ngomong apa jadinya :))

     
Post a Comment
<< Home