Kepalaku terasa berat sejak kemarin. Aku terus menerus berkeringat, walau suhu tubuh terasa dingin. Ku ganti sprei dengan yang bersih, bau harum merebak dikamarku. Aku ga suka sprei yang kumal. Hanya akan mengingatkanku pada keadaan fisik yang kuanggap “lusuh” pula. Dan malam ini aku menyerah, akhirnya aku minum juga obat pereda nyeri itu. Sambil menonton film “Sabrina” dalam hati aku mengomel kesal pada sakit kepala yang selalu datang tepat pada saat sedang ingin mengetik. Mungkin sakit kepala ini justru yang membuatku terinspirasi untuk menulis, pikirku dengan rasa humor yang sarkastis.
Tulisan hari ini bertema “unique.” Unique personality, to be exact. Hari ini seorang “teman” menyatakan bahwa aku orang yang unik. Pengertian unik disini tentu dapat mengarah kepada banyak hal. Tapi berdasarkan pengalaman, mereka (“teman-teman” dan orang-orang lain itu) mengacu kata tersebuat pada kepribadianku. Melihat dari tingkah lakuku, cara berpikirku, mungkin juga cara berpakaianku atau entahlah dari sudut pandang mana lagi mereka mampu menilai. Andri pernah bilang aku unik bukan karena sekedar aku lain dari pada yang lain, tetapi juga karena aku adalah aku. Tidak dapat dibandingkan atau tidak ada perbandingan yang mirip. Biasanya orang mengatakan prilaku si A mirip dengan si B. cara berpakaian si C mirip dengan selera si D. Dengaku, masih menurut Andri, kata-kata tersebut tidak berlaku. Karena aku ga mirip siapa-siapa (mungkin seandainya satu mataku diperbanpun, masih ga mirip dengan
cyclops-si raksasa bermata satu!)
Si teman ini selama berminggu-minggu berusaha untuk mengenalku. Walaupun kupikir, usahanya belum terlalu keras sih. Perlu waktu sebulan untuknya mengetahui bahwa aku unik. Mungkin dia juga termasuk kategori bukan orang “biasa.” Karena biasanya orang lain sudah menganggapku “aneh” sejak pertemuan pertama. Entahlah kata “aneh” dulu kurasa lebih tepat daripada kata “unik.” Apakah aneh = unik? Teman ini berhasil melihat bahwa aku orang yang skeptik. Dia bilang bahasaku sadis. Gayaku jelas-jelas telihat mempunyai sebuah alur--- pandai nyela, ngeles, nyindir dan nyengir. Nah lho? Berbicara dengannya membuatku merasa seperti seorang
leprechaun!---Kerdil dan licik (mungkin juga berwarna hijau). Hanya karena gaya bahasanya yang selalu halus dan sopan, membuatku merasa sedang bermain dalam the devil VS the angel. And you know who the devil is……..
Tapi satu kalimat ultimate-nya membuat ku terdiam. Kamu orang yang penyayang, katanya. Bukannya aku kehilangan kemampuan otak untuk menangkis “tuduhan”-nya ini. Tapi aku ga suka membahas masalah ini dengan orang yang belum kukategorikan sebagai VIP-
Very Irritating Person. Karena dia, si teman ini, belum cukup “mengganggu.”
Kembali pada kata “unique personality.” Sejak pertama kali aku mampu memikirkan idealisme, aku selalu dengan tegas berkata “aku lebih suka jadi orang yang menarik, daripada jadi perempuan cantik.” Kata “orang” jelas merujuk pada pemahaman kesetaraaan gender. Tapi nyatanya, kenyataan menghadapkanku pada satu jenis jalan tanpa pilihan. Aku harus mengakui, aku senang sekali dibilang cantik (huh! Apa gunanya aku menghabiskan berjam-jam untuk berdandan secermat mungkin kalau hanya untuk dibilang jelek?!) Tapi, dari dulu sampai sekarang, orang yang bisa membuatku ga tersinggung dibilang cantik, hanya teman-teman dekat yang aku percaya saja. Dulu bahkan lebih ekstrim lagi, cantik = mengatakan bahwa aku bodoh = penghinaan. (Andri juga menganggap kata “cantik” sebagai kata-kata mahal, walaupun dengan alasan yang berbeda denganku)
Eh ternyata, suatu waktu dulu aku juga pernah jadi “perempuan cantik” dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan tertentu. Siapa bilang jadi perempuan cantik ga enak? (tidak enak, menurut si pengarang buku “cantik itu luka.” Mungkin suatu hari nanti aku juga mau mengarang buku dengan judul “cantik itu bodoh” hahahaha…ironis sekali.) Nah kalau sekarang orang-orang bilang bahwa aku unik, seharusnya aku berbahagia toh? Telah menjadi pribadi yang aku idam-idamkan sejak dulu. Tapi kenapa pernyataan itu membuatku risau?
Ada dualisme yang aku lihat sebagai kenyataan. Pertama, perempuan cantik nan lembut selalu mempunya banyak pilihan. Selalu lebih dicintai. Entahlah, itu pendapatku. Karena aku belum pernah jadi mereka. Tapi itu sudah merupakan pemikiran yang general, perempuan cantik selalu lebih cepat diterima dengan baik oleh siapapun. Ga perduli mereka bodoh, ga berpendirian, sering merengek, bahkan ga pernah selesai membaca satu bukupun! Jadi apa sih yang mereka omongin dengan perempuan-perempuan cantik itu? Ah ya mungkin sebenarnya ga pernah ada yang dibicarakan, toh mereka jarang membuka mulut. Mungkin yang membaca tulisan ini tanpa tau siapa aku akan langsung berkata “ya, karena kamu jelek tapi pintar jadinya ngiri ama perempuan cantik yang bodoh” Hahahaha….ga, gw tau gw cantik.
Semua perempuan harus merasa dirinya cantik. ("
How could God create such a beautiful goddess like me?" Seharusnya kata-kata ini mampu diucapkan semua perempuan didunia. Itu kata-kata gw banget getu lhooo..kalau sedang bercermin. Sumpah mampus Andri pasti langsung menoleh padaku sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub, sambil berkata: oh perempuan ini bagaimana bisa sampai tercipta?) kedua, orang-orang unik hanya bisa dicintai oleh yang unik pula. Benarkah? Perlu proses panjang untuk bisa mencintaiku atau jenis makhluk seperti Andri. Hey! Itu benar adanya. Aku sudah buktikan, begitu mudahnya dicintai kalau aku bersikap manis dan menyembunyikan pemikiran-pemikiran radikal. Bertahun-tahun aku sudah memanipulasi pikiran banyak orang sesuka hatiku. Aku bisa jadi siapa saja yang aku inginkan agar mereka berpikir bahwa aku seperti itu. Mudah sekali! Hanya beberapa orang cerdas yang dapat menemukan siapa aku sebenarnya. Mungkin ini yang dimaksudkan kris dengan bilang bahwa aku secara sengaja telah memberikan sinyal yang salah pada orang lain. "Hey, we were born as a manipulator," Andri said--- "I was not," I said.
Buku “Sybil” baru selesai kubaca. It is like a self-acceptance. Senang rasanya bisa menerima diri sendiri apa adanya. Lebih senang lagi karena ada satu orang yang baru bilang bahwa
dia juga mau menerima itu. Lebih tepatnya, lega (I miz "dia")
Kata “unique” benar-benar meresahkanku malam ini. Aku jadi berpikir apa karena aku begitu lantas aku ga pantas dicintai? Siapa sih selama ini yang bisa love me just the way I am? My parent?---Nope. My friends?----Yeah, some of them. My lovers?---Bleah! Not at all. Ngeri sekali ngebayangin didunia ini ga ada yang bisa cinta ama gw. That’s why I need Andri and Kris. They love me the way I am. I feel accepted when I’m with them. No need to hide. No worries. No manipulated.
Aku ga sudi mengotak-ngotakkan diri seperti mereka pada umumnya. Nerds, geeks, weirdo, freaky, foxy. I can be all. And I can be not all. Hehehe…I’m just unique.
Beberapa kali aku berusaha untuk menyukai si teman ini lebih dari sekedar seorang teman. Karena jelas sekali dari awal dia sudah menunjukkan ketidak inginannya hanya sekedar berteman dengaku. Atau aku telah memberi sinyal yang salah lagi? Setelah beberapa kali percobaan yang gagal untuk menyukainya, malam ini bahkan semuanya berantakan hanya karena kata-kata “kamu unik dan kamu penyayang” hiiiii…sereeeeemm…… Hanya karena aku bilang aku ga suka ama cowo yang terlalu ramah. Dia sudah melihat terlalu jauh. Aku ga suka ada yang ngelanggar “daerah kekuasaanku.” Ngeri karena aku sendiri yang telah mengarahkan dia pada pemikiran itu. Tapi kan dia sendiri yang bilang mau tau tentang aku lebih banyak. Setelah aku kasih tau, lalu dia ga bisa menerima itu, apa itu salahku? Eh benarkah dia ga bisa nerima? Kan dia hanya bilang bahwa aku unik?
Itu lah! Kata unik cenderung mengarah pada “aneh.” Dan kata aneh cenderung ga bisa diterima oleh orang pada umumnya. Liat aja disirkus-sirkus ada perempuan berjanggut yang dijadikan obyek. Itu kan gunanya “gueness book of record?” Untuk mencatat hal-hal aneh lalu memberinya penghargaan! (cynincal thought). Tapi aku bukan aneh, bukan pula sebuah obyek. aku hanya berbeda. Seperti halnya kalo aku pikir “ramah” itu menjurus ke “murahan.” Cowo cool lebih menarik buatku. Inikan hanya pemikiran yang berbeda. Tapi dia, dengan sadis menyindirku dengan bilang bahwa lebih baik diam saja sekarang, karena akan telihat lebih cool. Sialan! Bahkan untuk menegaskan bahwa dia bukan cowo “ramah,” dia bilang biasanya dia pendiam sekali. Menjawab celaan dengan senyum. Denganku dia jadi berbeda, sebab katanya, berbicara denganku benar-benar terasa hidup (Losta Masta!) siapa yang nyuruh kamu berubah heh?
Aku selalu menginginkan sebuah pesta pertunangan yang romantis, dengan semua tamu yang hanya teman-teman terdekatku menyanyikan lagu “I say a little pray for you” (my song is "Somewhere Over The Rainbow") seperti dalam film My Best Friend Wedding. Dalam film itu Julia Robert berperan sebagai gadia unik, she’s just so different, dia bahkan ga mau memakai baju pengiring pengantin yang sama dengan lainnya. Karena dia ga suka sama dengan yang lain. She loves to be unique. She is unique. But at the ending, si cowo tetap memilih Cameron Diaz, si gadia manis anak orang kaya yang manja. I love that movie…it’s so realistic. Tanpa harus menghadirkan happy ending---seperti kebanyakan film-film pada umumnya,which is so bored to me--- karena nyatanya hidup memang ga selalu berakhir dengan bahagia! But, whose gonna love the freak?
Ijai selalu bilang bahwa gue itu makhluk yang perasa. Hatinya halus. Ini tentunya bertentangan dengan pandangan semua orang. Even my parents always have a thought that I’m a hard person. Hey…they are my parents for 27 years! Even Andri, even Kris. Did I really make a great job to cover myself? His acceptance really makes me feel secure. There is a quote for this…
”the only way to avoid being miserable is not to have enough leisure to wonder whether you are happy or not.” (Liza Minelly) I don’t have so much leisure in my life---well, I mean that “kind” of leisure—
acceptance. But I’m truly happy now.
Temanku itu juga selalu menanyakan tentang pinggangku yang sering “encok.” Aku akan selalu encok! Seumur hidup juga akan begini, ditanya atau ga, tetap akan “encok.” Juga tentang kakiku yang sering lebam karena jatuh, yah seumur idup juga kakiku akan sering lebam! Because I’m clumsy (nah kan, gw jadi ngomel sambil meringis-ringis karena pinggang yang mulai terasa ngilu) hiks hiks aku jadi sedih. Orang-orang yang aku harapkan perhatiannya, bahkan ga pernah tau tentang semua ini. Yang jelas, musnah sudah semuanya.
Nah mungkin suatu hari aku harus jelaskan padanya. Bahwa aku cantik, cerdas, sakit jiwa, perasa, penyayang, sering khawatir, selalu cemas berlebih, suka membaca, lulusan akuntansi yang serius sekaligus pemabuk! Biarin dia bingung sekalian. Pada akhirnya toh semua orang akan berpikir: kok bisa ya ada makhluk seperti ini? Andri pernah mengungkapkan pandangannya bahwa orang-orang akuntansi, keuangan dan semua bidang yang berhubungan dengan uang adalah makhluk-makhluk yang membosankan. Tapi aku tidak, sungguh dia bilang begitu. Ga heran aku selalu merasa hidup di dua dunia. Belahan dunia yang berisi kelompok nerds yang menolak gaya “junkie” ku, sebelah lainnya yang menolak kemampuan otakku yang dianggap terlalu banyak tau. Hey! Tapi aku menikmati keduanya. Bolehkan aku ngebaca buku “international finance multi companies” sambil ngembat tequila? Di “duniaku” itu sah-sah saja. That’s why I’m a loner. That’s why I feel so lonely. Because none of them wanted to join my world. Do u?
Eh, sakit kepalaku sudah lenyap. Wahai obat berbungkus biru, kau adalah pahlawanku. Oh seandainya mereka baca tulisanku, mereka akan bilang bahwa aku makhluk egois. Mau diterima, tapi sulit menerima orang lain. Mau dipercaya, tapi butuh waktu lama untuk mempercayai orang lain. Ingin dicintai, tapi ga tau apa itu cinta. Tapi seperti kata Sarah Fells dalam “Si Egois”…..
“Dalam lingkaran yang berpusat pada diri sendiri,
ia berputar dan berputar,
Bahwa ia adalah suatu keajaiban, itu benar.
Karena hanya orang egois yang bisa jadi pusat
dan sekaligus lindungan.”
Oooh…I just love myself, now. I feel like I’m a miracle itself. Even ga ada seorang pun yang pernah bilang bahwa aku adalah keajaiban. Kalo makhluk ajaib? itu adalah deskripsi mereka tentang gue, hahaha. And I’m just unique. Can you love me?
(october 27th 2004)