Si Syal Usang atau Si Pakaian Kedodoran?
Apa arti pasangan hidup? Bagaikan sebuah syal usang atau pakaian yang kedodoran? Pertanyaan ini layak diajukan bagi mereka yang sudah membina hubungan jangka panjang, atau bahkan telah menikahi si syal atau pakaian tersebut. Masih ingat bagaimana berdegub kencangnya jantung anda saat bertemu dengannya diawal hubungan? Bagaimana dia telah membuat sekujur tubuh berkeringat dingin. Bagus, kalau anda masih mampu mengingatnya. Itu artinya anda memang pernah benar-benar jatuh cinta padanya. Dan setidaknya memang ada kenangan yang tersisa dalam memori, ditengah kesibukan dan waktu yang sekian lama telah anda lalui bersamanya.
Namun, saat ini si dia bukan lagi si pangeran tampan, setelah sekian waktu, tiba-tiba si pangeran tampan terkena kutukan dan menjelma menjadi kodok buruk rupa. Hal-hal kecil yang dulu tidak kita lihat, saat ini tiba-tiba menjadi jelas didepan mata. Seperti senyum khasnya yang tidak simetris, dulu dapat membuat anda tergila-gila, eh ternyata dia memang punya masalah dengan struktur giginya! Atau kecupan hangatnya didepan pintu saat mengantarkan anda pulang, kini hanya berubah menjadi lambaian sambil lalu. Pandangannya yg dulu berbinar dengan seratus pujian saat anda mengenakan gaun baru, kini mengatakan anda sangat mempesona, hanya dengan lirikan tak lebih dari dua detik! Memandangnya saat ini, cukup membuat kita membelalakkan mata, antara takjub dan tidak percaya, bahwa dia pernah menjadi bagian dari impian kita. Hahaha.. kalau iya, silahkan terus membaca tulisan ini. Ingatkan diri anda, bahwa si pangeran tampan tetap ada dalam dirinya, hanya saja telah terjadi metamorfosis setelah sekian waktu. Siapa sih yang tidak berubah? Well, memang tak dapat dipungkiri segalanya terlihat begitu indah pada awal hubungan, kalau saya mengistilahkan itulah saat “fly to the moon.” Saat ini yang ada adalah mencuatnya bentuk-bentuk impian, keinginan, harapan, dan sepertinya memang dia mampu memberikan seluruh dunia. Dan yang diberikan saat itu memang bagaikan seratus bunga mawar (dan melupakan lebih dari seratus duri pada tangkai-tangkai mawar-mawar tersebut) Namun, memang ada saatnya kita harus “down to the earth” kembali, menghadapi kenyataaan bahwa memang mawar itu banyak durinya! Itu realita. Sedikit membuat anda jadi pesimis ya? Tentu bagi anda yang belum melalui tahap-tahap ini, akan segera berpikir “saya dan dia akan mejadi seperti itu? No way, lebih baik tidak sama sekali” tapi, coba renungkan, setiap bentuk hubungan yang telah atau akan kita lalui, akan memuaskan apabila bertemu dengan kebutuhan dan keinginan. Memang selamanya anda ingin hidup berdua saja dengannya? Jiwa anda juga akan berubah dari si gadis “hura-hura dan yang penting saya senang” menjadi kepribadian yang lebih dewasa, si wanita “bijaksana dan yang penting demi kebahagiaan bersama” di saat itu, yang anda butuhkan bukan lagi si pageran tampan! Metamorfosis yang terjadi padanya, juga terjadi pada anda. Namun, tidak ada salahnya punya impian yang dramatis di awal, manusia memang mampu bertahan karena punya impian dan harapankan.. Tapi juga jangan lupa tidak ada impian atau harapan yang terpenuhi 100% (setengahnya saja sudah patut disyukuri) so, be logic. Hidup memang penuh liku dan misteri, and this is not the perfect world, anyway. Kembali ke pertanyaan semula, si syal usang atau si pakaian kedodoran? Semua itu kembali kepada anda, jadikan dia sebagai apapun dia dalam benak anda, dengan kemampuan beradaptasi menerima segala perubahan. Asal tidak berniat mengganti syal usang dengan membeli yang baru, mungkin anda bisa mencucinya dengan deterjen anti noda, dan sedikit lebih banyak pelembut pakaian. Atau menaikkan sedikit berat tubuh anda, agar si pakaian terasa pas anda kenakan. |