Gue Bangetz!
I like tulip and butterfly. Chocolate candy makes my life brighter. Want you to treat me like I'm a queen bee.I can be sweet and very infantile.I also can be viciously unkind. Just remember that I can be strong and tender.
Baca Dooong
Archives
Fans Silahkan Isi


Name
Email
URI
Msg
Blog Orang Gila

Narcism

  • Life is not about chances, but choices. And destiny not to be waited, but achieved (Winston Churcil)
  • Well behave women never make history
Image Hosted By
Links
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
 
Friday, April 14, 2006
“Rumah” Kita

Hanya bilik bambu dinding rumah kita…
Hanya alang-alang pagar rumah kita…
Tanpa anyelir tanpa melati
Namun semua itu punya kita….

Itu cuplikan sebuah lagu lama yang dipopulerkan oleh God Bles. Dan malam ini tiba-tiba saya dengar lagu itu di Indosiar-stasiun TV swasta Indonesia. Wah, betul-betul sepasrah itu pencipta lagunya?! Sudah pasrah, masih sempat mensyukuri pula. Eh, atau jangan-jangan memang tidak punya pilihan lain? Tapi terus terang syair lagu itu sama sekali enggak seiring sejalan dengan pikiran saya yang sudah teracuni enaknya hidup (agak) mewah dan gaya hidup hedonistis kecil-kecilan, dengan prinsip: “I follow where money goes.” Hehehe.. Dan para ahli ekonomi pun juga setuju dengan saya. Mereka mengatakan di majalah-majalah bisnis bahwa Indonesia harus mampu meningkatkan persaingan untuk menghadapi perdagangan bebas tahun 2010 mendatang. Dimana uang akan terbang keluar masuk Indonesia (oooh…flying capital) Jadi, kalau ternyata syair lagu bangkotan tersebut sudah meresap sampai kedalam sum-sum masyarakat dan pelaku bisnis Indonesia, bakal repot juga ya kita…
Hari Sabtu lalu saya berulang tahun, usia 29 tahun! Deuh, pantesan tulang-tulang udah berasa ngilu (sebenarnya karena angin dingin dari AC kamar saya yang brrrrrr…langsung berembus ke wajah). Anyway, saya merasa sudah tua bangka! Jadi hari Sabtu ada syukuran kecil di rumah, yang merayakan juga hanya orang tua beserta kakak dan adik. Menunya? Sederhana benar, nasi kuning dan masak habang yang dibikin Ibu malam sebelumnya. Dessert-nya yang rada istimewa, puding susu plus buah kaleng dan fla. Eh ya, kue nya black forest donk!-favorit keluarga, dengan aroma rum yang menusuk hidung. Manissss…..
Mike, Manajer Divisi kantor saya yang dulu, terundang datang. Benar-benar ter-undang, karena sejam sebelum acara saya telfon dia untuk menanyakan informasi bisnis yang mendesak. Jadi, kedatangannya pun lebih tepat dibilang untuk urusan bisnis Seperti siang-siang sebelumnya pembicaraan tetap seputar valas dan investasi serta (lebih sedap karena berbumbu berita gosip mutakhir-gak kalah dengan infotainment di stasiun TV yang tayang setiap jam itu). Tapi, kalau biasanya pembicaraan diselingi seruputan cappuccino, kali ini kunyahan kue tart ber-cheri. Sementara teman-teman dekat saya -berfungsi untuk mengasah joke-joke sadis- kali ini enggak ada satupun yang muncul. Ada yang mendadak harus ke Bogor, urusan lamaran saudara. Ada yang sedang sibuk berbisnis di show room-nya. Hari Sabtu di Jakarta sama dengan bisnis…clubbing…bisnis! Teman-teman yang lain karena tidak pernah tau tanggal ulang tahun saya, tak membuat saya bersusah-susah untuk memberi tau. Waduh, emang hari ulang tahun apa pentingnya sih untuk diketahui orang? Itulah saya, ulang tahun bukan hari istimewa. Cukup medapat SMS atau telfon. Dan buat saya itu memang benar-benar sudah cukup! Kalau bisa jangan terlalu banyak yang mengingatkan bahwa saya sudah bertambah tua setahun lagi…huaaaaaaaaaaaaaa……CUKUP!
Tapi tahun ini saya tidak bisa lagi menghindar ataupun menolak untuk diadakan syukuran. So yeahh…begitulah.

Hanya daging ayam…menu makan kita
Hanya black forest…kue ultah kita
Tanpa berlian, tanpa kondominium
Karena semuanya bukan punya kita….

Enam jam kemudian, duduk didepan TV dengan perut kekenyangan, jari saya mulai sibuk memindah-mindahkan saluran stasiun. Thanks God, my Pop was not there, kalau tidak dia pasti akan mendelik sambil mengomel kalau tangan saya mampu bergerak sendiri - seperti di dalam film “The Hand”
Tombol 1…“Re-financing harus segera dilakukan oleh pemerintah Indonesia karena……… Jangan mebayar hutang jangka panjang dengan obligasi jangka pendek…bla bla bla” kata seorang pengamat ekonomi keturunan cina berkacamata. Tombol 2 saya pencet…”Tunggu penampilan Eric Benet di stasiun kesayangan anda ini pada hari Rabu, dalam acara Java Jazz festival…” ingat penyiar TV yang cantik semlohay. Pencet lagi…”Sebagai presiden republik BBM (Benar-Benar Mabok) saya berpendapat bahwa diam adalah emas…” kata-kata (bijak) Taufik Safalas dalam sebuah acara parodi. Pencet..pencet…
Wah ternyata negara saya enggak semiskin yang diorasikan oleh mahasiswa-mahasiswa itu. Saya pun enggak semelarat yang saya pikirkan (mengetik sambil mengendus-endus wangi rum, sisa kue tart kemarin)
Masih ada acara Java Jazz Festival yang tiket masuknya berharga ratusan ribu rupiah itu, dan mampu dibeli oleh masyarakat (saya juga sempat nonton lho, walau Cuma acara pembukaannya saja, itupun karena tiket pemberian seorang teman) Untung masih bisa berpikir optimis dengan punya banyak pengamat ekonomi yang lulusan luar negeri itu. Dan untung lagi, masih ada pelawak-pelawak kocak yang mahir ber-plesedan-dengan spontan menempatkan satu kata atau kalimat dengan asosiasi kata atau kalimat yang mendadak lain. Walau untuk sebagian orang terdengar sarkastis, sebagian lain menganggapnya satir .
Kapan sih orang Indonesia tidak untung? Lho kok saya ikut-ikutan pasrah dan bersyukur….. Waduh…ternyata syair lagu “Rumah Kita” itu pun telah meresap juga sampai ke sum-sum saya! Hanya bilik bambu……punya kita……


Jakarta April 11th, 2006

Catatan penulis:Awal penulisan tulisan ini, saya tidak tau topik yang ingin saya angkat. Tidak pula tau bagaimana harus mengakhirinya. Benar kata seorang penulis lain, bahwa topik sebuah tulisan berjalan seiring dengan proses
posted by fire-fly @ Permalink ¤5:56 PM   0 comments
Am I Asking Too Much?
By Andri

Am I asking too much? Apakah saya terlalu banyak meminta? Berkali kali saya bertanya kepada diri sendiri. Tidak yakin tertuju kepada otak atau hati nurani, yang pasti keduanya berakhir dengan jawaban TIDAAAAK! Phuih, saya benar-benar berteriak “tidak.” Bukan otak atau hati nurani yang menjawab, tapi mulut saya…
Siang hari terik – untungnya saya ada didalan coffee shop berudara sejuk, sialnya penuh dengan orang-orang yang asik menghabiskan waktu – saya berteriak dengan suara nyaring dan agak memekik. Nyata benar, saya frustasi. Tahun ini saya genap berusia tigapuluh tahun lumayan riskan bagi gadis-gadis sedunia, bahkan buat negara barat maju yang mendengungkan emasipasi. Riskan? C’mon, jangan pura-pura! Semua juga paham maksud saya. Riskan untuk tetap sendiri. Single. Jomblo. Belum kawin. PUAASSS.
See, sejak dua tahun lalu, orang-orang sibuk melontarkan pertanyaan itu, seolah saya mengidap penyakit tertentu sehingga saya masih sendiri. Bahkan ayah saya dengan berbagai cara yang tidak dia sadari, berhasil merusak hari berkunjung kerumahnya di akhir pekan. Datang dengan pacar, dia cetuskan pertanyaan itu. Apalagi saya sendirian – asyik berjoged didepan acara TV ayah muncul dipintu kamar “kamu ga kepikir kawin?” that’s it! Tamatlah riwayat Beck dengan Odiley-nya. Pop, I was in the mood….
Am I asking too much? Bukan, bukan saya trauma, hanya saja setelah hubungan serius yang terakhir saya belum memulai lagi. Wong belum ada yang pas, tapi saya menikmati hidup. Saya berkencan sambil mencari. Saya juga tidak berkencan karena bosan mencari.
Selama masa eksplorasi itu banyak hal yang saya pelajari. Bukan saja tentang pacar lebih kepada arti hubungan yang saya inginkan. Tidak pernah saya tetapkan kriteria khusus seperti cowo berwajah super keren, gaya masa kiri, dengan perut six packs. Tapi kemudian ajakan kencan datang juga dari makhluk seperti itu. Perkenalan singkat dilanjutkan dengan obrolan telfon. Sayangnya terlalu singkat karena dia harus mengunjungi New Zealand dalam rangka syuting produk lelaki (hmm…hmmm…bintang iklan!)
Dia yang memilih tempat untuk merayakan kepulangannya. Saya setuju tanpa menancapkan target apa-apa. Toh, kami belum pernah bicara banyak sebelumnya, mungkin ini saat yang tepat untuk saling mengenal.
Step 1, goin’ smooth…. Dia tau tempat yang bagus. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak bersuasana romantis-saya selalu terintimidasi dengan suasana romantis. Seperti yang sudah lewat, topic pembicaraan hanya yang ringan-ringan. Misalnya, album anyar DJ anu, tempat fitnes baru anu, alasan Stefano Gabbana dan Domenico Dolce bercerai, and so on… It’s start.

“Jadi kamu suka Selandia Baru?” tiba-tiba saya nyelutuk.
Dia mengangkat wajahnya “Kenapa?”
Saya ulangin pertanyaan, “Ya, cerita dong pengalaman shooting di Selandia Baru.” Tatapan aneh muncul di wajahnya.
“Aku gak pernah ke Selandia Baru, shooting-nya kan di New Zealand. Kamu tau, dekat lokasi shooting-nya Lords of the Ring…bla..bla..bla…”

Saya tercekat, termangu, terpana, ter…. Good God, help me on this… Pandangan saya agak buram tapi masih terdengar sekilas ceritanya tentang rumah-rumah Hobbis (Hobbit, mungkin!) Makanan jadi terasa kurang bumbu. Atau lidah saya mendadak pahit? Bye, Hunk! Am I asking too much?
Berikutnya terjadi setelah kencan dengan si Mr. Universe. Yang ini dandy, gaya yuppies berkantor di kawasan Sudirman. Hehe, saya cukup beruntung (mungkin…)
Si “wall street” ini berkutat dengan jual-beli saham, memantau pasar modal dan sebagainya yang saya tidak mengerti. Untungnya, dia punya wawasan tentang berbagai hal di luar itu. At least, dia paham benar persamaan New Zealand dan Selandia Baru.
Seperti umumnya yuppies, dia punya jadwal yang sooo “Sudirman.” Lunch di mal, ngopi di coffee shop trendi (kopinya juga aneka cita rasa), billiard after office hour, dugem di jumat malam,. Sedikit sombong, tapi saya pikir biasa. Tipikal anak gaul sekarang.
Saya sendiri masih mengulur waktu kencan, takut menemukan keanehan yang bikin malas bertemu lagi. Beberapa kali kita bertemu makan siang di sela kesibukan kerja, tapi bukan kencan spesial yang direncanakan. Sampai dia mengajak dan saya mengiyakan.
Pilihannya jatuh ke suatu café yang cukup wah di kawasan Kemang. Kebetulan di antara bejibun café disini, saya belum sempat menjamahnya. Masih gres dan agak ngeri dengan daftar harganya. Mungkin terlalu padat buat kencan pertama, namun saya terhibur melihat wajah-wajah yang tidak asing di majalah Life Style. Party goes bertebaran…Hehehe… Buat saya lebih asik melihat gaya socialite-socialite ini ketimbang sosok pemain sinetron. Merka lebih “wild,” gak jaim dan lebih seperti orang biasa dengan outfit dan aksesoris yang mengenyangkan mimpi saya akan barang kualitas bagus. They really have awesome taste….
Sejak masuk, si Yuppy ini sudah mulai dengan sapaan “hi” dan “what’s up” ke kanan-kiri, depan-belakang. Wait, dia gaul banget ya? Sekali dua kali, saya dengar ada yang menjawab. Hanya saja tatapan mereka tampak janggal. Mudah-mudahan saya gak salah kostum.
Berikutnya kami duduk di meja, dan anak gaul ini masih sibuk memutar kepala-exactly like an automatic antenna rotator-sambil akrab menyapa. Way tooo much!
Kami pun memesan. Belum sampai appetizer datang, saya sadar bahwa dia benar-benar melupakan saya. Obrolan tiba-tiba membahas tentang betapa akrabnya dia dengan si A pemilik 2 tanker, si B anak pemilik hotel anu. Saya menganguk-angguk, tapi detik berikutnya….
Dia benar-benar melesat pergi sampai hampir membawa serbet makan. “Sorry, bentar ya. Itu si anu, udah lama gak ketemu nih.” Saya masih bengong belum menjawab, dan memandang pelayan yang datang dengan main course lobster super gede penuh hiasan kembang. Ini lobster apa bouquet?
Tiba-tiba ada suara berbisik ditelinga saya. Cowok botak putera pengusaha anu bertanya dengan suara pelan dan dalam “Maaf, kebetulan kami agak lupa. Boleh tanya nama teman kamu?” Saya menjawab pelan (persis seperti murid ketahuan nyontek) dan tampaknya dia kurang mendengarnya. Saya ulangi lebih keras.
Si Botak menoleh ke teman-teman semejanya. Mereka berpandangan lalu satu sama lain mengendikkan bahu. Damn, saya paham benar maksa shoulder shake itu. Mereka tidak kenal teman kencan saya.
Selanjutanya, bisa diduga, saya putuskan tidak bertemu lagi. Apalagi berkencan. Mungkin that New Zealand guy even better.
Am I asking too much? Apa benar saya terlalu banyak meminta. Apa saya terlalu pemilih? Saya tidak pernah punya tipe khusus apalagi punya standar tertentu. Saya sendiri tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Saya percaya dengan proses. Cenderung mengagungkannya.
Saya sadar betul, proses butuh waktu dan saya menikmati tiap menit yang berlalu, bahkan ketika saya menjomblo. Tidak semuanya indah karena saya juga merasakan kesepian, keceburuan dan kebosanan. Ironisnya, semua perasaan itu juga saya rasakan saat saya berpasangan. Bitter sweet, proses ini saya jalani.
Am I asking too much? Saya jadi menimbang lagi. Wajar kan kalau saya suka cowok pintar dengan wawasan yang luas? Atau cowok rendah hati dan apa adanya? Apalagi kalau cowok yang tegas dan berpendirian kuat? Saya pikir semua cewek juga suka dengan cowok dengan kriteria tersebut. Itu bukan tipe, tapi lebih kepada kualitas. Tapi kalau boleh menambahkan, saya juga suka sama cowok dengan penampilan kasual gak neko-neko plus parfum beraroma sporty. Paduan sedikir sandalwood, sedikit cyprus, bergamot, tapi tidak terlalu spicy. Dan tidak bernuansa musk…

Am I asking too much? Maybe I am.

July, 2005

*Catatan Fire Fly:
The writer is my closest girl friend. Dia ada di dalam beberapa tulisan saya, baik berupa nama maupun penokohan.
posted by fire-fly @ Permalink ¤5:44 PM   0 comments
Tuesday, April 11, 2006
Rindu Sampai Mati
Ingin merindu,
tapi tak tau siapa yang ingin dirindu.
Bukan karena tak ada yang terindukan.
namun tak ada alasan untuk merindukan.
Ingin berkata bahwa aku merindu,
namun itu tak pernah tersampai.
Bukan karena aku tak ingin dia tau.
Tapi aku tau dia tak ingin kurindui.
Bukankah aku yang telah berjanji kepada diriku?
Namun janji yang kau tak pernah tau
Karena janji itu mampu terucap olehku,
hanya dibelakangmu
Bukankah aku telah menghembuskan nafas terakhirku
didepanmu?
Walau aku yang telah menunggumu mati,
dihadapanku
Jakarta, January 31th 2006
posted by fire-fly @ Permalink ¤6:55 PM   0 comments