.:: Insatiable ::. I’ve lived for 28 years in this world -- sometimes it felt like centuries when I’m desperate. I just couldn’t take failure in my life – despite I realize it is always happens to anyone, still I feel insatiable for what I got. Insatiable desire for life, for who I am, society, family and so many things. Let’s the story begins…… Gue dibesarkan di keluarga yang kolot sekaligus modern, walau akhirnya termasuk menjadi salah satu bagian kaum urban dengan gaya hidup hedoisme. Banyak pertentangan terjadi dalam hidup yang seperti ini. Gak hanya dengan – definitely – keluarga….tapi juga dengan norma-norma hidup di lingkungan gue dulu. Sometimes I even feel like I am a leprechaun among elf. Atau apalah analogi untuk suatu perasaan terasing dan terancam. Merasa terpojok – dipojokkan sepertinya membuat jiwa gue semakin lama semakin kerdil. Sifat dasar manusia yang merasa terpojok oleh suatu keadaan atau sesuatu, adalah memberontak. Perasaan itu bikin gue merasa seorang diri against the world. Tried to survive. Any of you felt the same? Terbiasa untuk mengeluh setiap saat…menganggap semuanya berjalan kearah yang salah ngebuat gue semakin keras melawan dan mengolok-olok hidup sebagai skenario besar..and no matter how good it is, it’s still a scenario – and God as the almighty director. Laughing at me – making a mockery about me and my life. Instead thinking life is a bless – I thought it is something I had to fought with. Coz I didn’t even have a choice to choose whether I want to be born or not. We also have heard mass insatiable, haven’t we…baca aja dikoran-koran berita tentang keberutalan. Ketidakpuasan yang terus menerus membuat orang menjadi lelah dan merasa terpojok. Dan menyerang habis-habisan merupakan satu-satunya pilihan. Benarkah selalu hanya ada satu pilihan? Kalo gue Tanya, tentu akan banyak yang pernah merasakan bahwa hidup gak lagi mempunyai pilihan. Membuat orang menjadi putus asa dan lagi lagi….mengeluh! I remember when my friends ask me: “which president you’ve chosen?” I answer: “I choose not to choose any of them.” So memilih untuk tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan. Gak menyelesaikan masalah kadang merupakan suatu penyelesaian masalah. Jadi siapa bilang hidup itu ga banyak pilihan? Walau selalu ada alasan dibalik pilihan-pilihan itu. Memilih untuk menyerah juga sebuah pilihan, menuruti apa yang disuruh oleh orang tua-teman-guru-bos-atau siapapun orang-orang yang lebih berkuasa daripada kita….juga merupakan pilihan. And we are the one who choose it! Jadi apa lagi alasan untuk sebuah perasan ‘tak berdaya?’ Karena ternyata selama ini kita sendirilah yang memilih untuk berada dalam posisi tak berdaya. Gue selalu percaya bahwa hidup merupakan sebuah pilihan. Bisa saja memilih untuk gak hidup lagi, tapi ternyata gue masih memilih untuk hidup – semua yang baca tulisan ini, seputus asa apapun – masih memilih untuk hidup dan menjalaninya dengan cara masing-masing. Bisa aja memilih untuk meninggalkan sesuatu atau seseorang yang ga disukai….tapi ternyata banyak juga yang memilih untuk ‘berenang’ dalam keterpojokkannya – menikmati tiap detik untuk mengasihani diri sendiri dan menjadian semua orang sebagai alasan untuk kemarahan. Dengan alasan apapun – I don’t care whatever our reason is – lagi-lagi ternyata begitu banyak pilihan dalam hidup. Dengan berpikir seperti ini – bahwa sebagai orang dewasa – gue mampu melihat suatu keadaan bukan lagi sebagai keterpaksaan. Tapi pilihan. Terlebih dengan menyadarari bahwa gue sendiri yang udah memilih pilihan tersebut. Belajar bertanggung jawab akan apa yang gue pilih – seburuk apapun pilihan itu…..gue jadi berhenti memaki-maki diri sendiri. Insatiable that I’ve felt, slowly found its own place. Karena gue mulai percaya bahwa hidup adalah pilihan. Dan satu-satunya orang yang bertanggung jawab akan hidup ini adalah gue sendiri… bertanggung jawab akan kebahagian-kesedihan. Bukan orang lain, tapi gue sendiri. Dan berhenti menyalahkan hal lain atas ketidakbahagiaan – berhenti menjadikan hal lain sebagai penanggung jawab kebahagiaan. Like Winston Churcil said: “Life is a matter of choice, not chance. Destiny is not something to be waited, but achieved.” Now I always have a thought there are always choices. My destiny is in my hands…if it doesn’t fit to what I want, I’ll do anything to make it. But if I can’t…..I choose not to change it. Memilih untuk kalah pun kadang bukan berarti benar-benar kalah. Coz not other person who measure our lost-glory, but the most important thing is what you think about yourself. Coz you are who knows yourself most…more than any creatures living. Insatiable desire grow in your heart….so only you who can make a choice whether want to let it buried even deeper or give yourself self esteem to make a choice to stop it. For me, my happiness is top of all… But still, it’s your choice, folk…..coz I know some people whom like “swimming” in hell!
note: dalam rangka penulisan bertema "insatible" with my beloved friend Indra
|